Rabu, 10 Oktober 2012

Rindu yang Terselip di Kantung Celana

Katamu, kau menitipkan rindu pada sidik-sidik jari yang tertinggal di daun pintu kamarku. Tapi kamu bohong. Aku tidak hanya melihat rindumu di sana, tapi juga di pada dinding-dindingnya, pada sela-sela kaca jendela, di bawah karpet, di sela-sela rak buku. Bahkan aku menemukan rindumu ketika bercermin, serta bayangan wajahmu yang menghardik, "Hei, jangan nakal!"

Ini jam ke 58 kamu pergi, dan ini bukan hal yang mudah. Aku seperti orang gila yang mengulang-ulang cerita tentang kamu pada orang yang sama. Aku bahkan sempat ingin mengatakan "Aku kangen kamu" pada setiap orang yang aku temui. Padahal kamu hanya meninggalkan Jogja beberapa hari. Iya, sebut saja aku gila.

Aku tidak berdiri di samping jendela bus dan melambaikan tangan sampai busmu menghilang dari kejauhan saat itu, tapi aku menitipkan rindu pada kantung-kantung celanamu. Semoga mereka bisa memelukmu di sepanjang perjalanan.

2 komentar:

  1. Selalu saja begini. serentet kalimat yang benar-benar diriku sekali. Kalimat yang indah, kak asa! :)

    BalasHapus

Komentar kalian akan masuk moderasi dulu jika kalian komen di postingan lama. Maka jangan khawatir, komentar kalian pasti akan aku baca. :)