Kamis, 13 Oktober 2016

Kehilangan Tidak Pernah Menjadi Mudah Bagiku



"Tidak ada orang yang siap kehilangan, Sa." Kata kak Falafu di tengah-tengah obrolan kami di malam itu.

Ya, tidak ada manusia yang siap kehilangan, aku pun. Kehilangan, kesedihan, musibah selalu datang tiba-tiba, tidak pernah ada tanda-tanda.

Aku kehilangan orang yang punya arti besar dalam hidupku, seseorang yang aku anggap bisa mendampingiku kelak, seseorang yang mengerti aku dengan utuh, seseorang yang aku cintai dengan begitu besar. Aku tidak pernah setuju jika orang mengatakan kehilangan hatinya separuh ketika orang yang dia cintai pergi, tidak, aku tidak kehilangan separuh hatiku, aku kehilangan separuh bagian dari aku, aku kehilangan sebagian dari diriku.

Aku berusaha tidak menangis, karena dia benci melihatku menangis, dan menangis hanya untuk orang-orang lemah. Aku bukan perempuan lemah. Aku terpuruk di detik-detik kehilangannya, aku meringkuk di kamar mengutuk diriku sendiri, memandangi ribuan gambar yang kupajang di sudut kamar, memanggil-manggil namanya hingga lelah. Aku hancur berkeping-keping, aku berantakan, di detik itu, aku berharap waktu berputar kembali ke masa-masa aku belum bertemu dengan dia, ke masa-masa aku menjalani hidupku sendiri dan baik-baik saja.

Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal dan belajar mencintainya dengan baik, aku dan dia bahkan merencanakan masa depan dengan begitu apik, berandai-andai tentang tatanan taman di belakang rumah kami kelak. Dia membuatku jatuh cinta dengan cara yang sederhana, tapi mencintainya tidak pernah sederhana. Dia orang keras kepala yang paling menyebalkan dan tidak pernah bisa kubenci.

Hari-hariku tanpanya tidak pernah mudah, aku selalu memikirkan bagaimana dia menjalani hari ini tanpaku? Apa dia baik-baik saja? Siapa yang akan membangunkannya untuk berangkat kuliah? Siapa yang menemani dia menonton film-film kesukaannya? Siapa yang akan memeluknya ketika dia bersedih, siapa yang akan menyediakan bahu ketika dia lelah, siapa yang akan memberikan semangat ketika hari-hari yang dijalaninya begitu sulit? Entah. Kadang aku berbicara sendiri, dia pasti baik-baik saja, dia akan baik-baik saja.

Seperti aku sekarang di sini, aku baik-baik saja, meski kehilangan tidak pernah mudah bagiku, aku tidak bisa lari, meski hari-hariku kadang pahit, aku harus bisa memeluk kepahitan dengan hangat.
Kehilangan tidak pernah menjadi mudah bagiku, tapi kadang-kadang manusia harus diberi rasa sedih, agar bisa lebih menghargai saat-saat bahagia.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Orangtua Hebat

Aku bangga memiliki mama seperti mamaku. Mama mendidikku dan masku dengan maksimal meski dia sudah bekerja saat aku masih sangat kecil. Aku tahu mendidik anak tidaklah mudah, apalagi usia mama saat itu masih tergolong muda. Mama masih sempat memasak sarapan untuk kami sebelum berangkat kerja, mama kerja dari pagi hingga sore, yang mengantarku ke sekolah adalah mbah kakung pada saat itu.

Aku tidak paham apa yang mama lakukan sehingga aku dan mas besar menjadi anak yang gak macem-macem. Aku tidak berkata bahwa aku 100% baik, bahwa aku anak yang penurut, tidak, kadang aku ngeyelan, kadang aku gak selalu nurut, tapi aku selalu berusaha memberi hal yang terbaik untuk mama dan papa. Aku gak pernah sadar kebiasaanku dan mas agak istimewa kalau tidak melihat perbandingan dari orang lain. Begini, aku dan mas hingga sekarang selalu meminta izin untuk memakan atau memakai sesuatu yang ada di rumah, meski kita tahu makanan itu dibeli mama atau papa untuk dimakan, tapi kita selalu mengatakan, "Ma, Asa minta kue yang di meja makan ya", "Ma, Arga makan kue yang di toples ya.". Sekarang aku tinggal sama mas di Jogja, kalau mau pake shampooku, mas selalu izin, kalau aku mau minta susu bubuk di dapur, aku minta izin. Itu jadi kebiasaan yang menurutku istimewa karena aku menemui beberapa teman yang memakan makananku tanpa izin tiba-tiba habis, atau memakai barangku tiba-tiba rusak atau hilang tanpa seizinku. Well, suatu hari aku mendengar papa mengatakan pada mama, "Ma, ini gorengan siapa? Papa makan ya."

Aku mengenal beberapa teman yang "nakal", katakanlah mereka melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan untuk orang yang belum menikah, atau hal hal yang dianggap tidak etis di Indonesia. Aku tidak menjudge mereka, tapi yang aku pikirkan adalah, "Orang tua mereka sedih tidak ya kalau tahu?" Beberapa yang aku tahu, mereka bukan anak yang terlalu dekat dengan orang tua mereka, jadi mungkin saja mereka tidak menghawatirkan perasaan orang tuanya. Ini mungkin, aku hanya berspekulasi.
Aku dan mas dekat sekali dengan mama. Dari kecil kami selalu diajarkan untuk menceritakan segala sesuatu kepada mama, mama dulu sering membelikanku diary ketika aku masih SD, katanya setiap hari aku harus mengisi diary dengan cerita-cerita yang kualami dan setiap hari mama membacanya, mengatakan bahwa cerita-ceritaku sangat menarik. Aku juga menceritakan segala hal dengan mama secara langsung, aku menceritakan ketika aku berkelahi dengan teman sekelasku karena dia merusakkan ikat rambut yang sempat menjadi tren saat kami masih SD, aku menceritakan pacar pertamaku, sampai sekarang aku menceritakan semuanya, ini bukan megadu, tapi mama ingin aku tidak menutupi hal-hal dari mama. Mama bukan orangtua yang memposisikan dirinya sebagai orangtua yang menggurui, memarahi, mengancam. Mama memposisikan diri sebagai sahabat aku dan mas. Kedekatanku dengan mama membuat aku selalu ingin menjaga perasaan mama agar tidak terluka. Aku selalu takut membuat mama sedih.

Mama tidak banyak menuntut, mana selalu mendukung apapun yang aku lakukan asal itu bersifat positif. Aku sering sekali mendengar keluh kesal teman kalau dia tidak diperbolehkan ini dan itu, tidak diizinkan ikut kegiatan tertentu yang padahal menurutku bukan hal yang negatif. Kemudian dampaknya dia malah sering berbohong alasannya ini padahal main atau ngapain.

Aku dan mas tumbuh menjadi pribadi yang gak mau sok-sokan keren dengan pamer barang-barang mahal pemberian orang tua. Aku lebih suka menghabiskan waktu di rumah ketika tahun baru, saat semua teman SMAku pada saat itu punya acara di luar. Aku menjadi anak yang bahagia meski gak semua keinginanku dituruti. Mama dan papa mengajarkanku untuk berusaha sendiri ketika menginginkan suatu hal, jadilah aku berbisnis sejak SMP. Dan waktu itu justru mama sangat mendukungku, sama sekali tidak marah. Aku ikut team Marching Band juga didukung, padahal aku punya skoliosis dan harus angkat alat berat. Aku masuk jurusan seni pun didukung meski aku tahu mereka menginginkan anaknya jadi dokter atau dosen hehe, mereka mendukung segala hal yang aku lakukan, karena mereka tahu, hanya aku yang mengerti apa yang aku mau dan mereka tidak pernah menghalangi kebahahiaanku dan mas.

Di Jogja aku melihat banyak hal, belajar banyak hal dan mengamati banyak hal. Aku bersyukur karena dibesarkan dengan cara yang sederhana tapi sampai sekarang kebiasaan-kebiasaan positif itu masih sering kami terapkan. Aku bersyukur dilahirkan di keluarga ini. Aku bersyukur karena punya rasa takut membuat mama papa sedih, aku bersyukur karena punya orangtua hebat.