Senin, 27 Januari 2014

Blusukan ke Museum Ullen Sentalu, Goa Cerme dan Jembatan Gantung Imogiri

Hello temans...
So, how was your holiday?
Hihihi senang rasanya sudah masuk liburan. Selesai magang pula, jadi rasanya kayak dapet bonus yang plus-plus gitu. Senengnya gak ketulungan.

Aku selesai magang tanggal 23 Januari, dan tanggal 24 Januarinya, Kak Kucing (panggilan untuk Kak Raslin, salah satu teman dari Jakarta) liburan ke Jogja. Aku bertugas jadi tour guide gitu lah selama dia di sini :p

Jadi hari pertama Kak Kucing sampai Jogja, aku sama dia jalan-jalan ke Taman Sari (kayaknya aku udah 10 kali lebih ke sini, entah nganter teman atau saudara). Dan hari kedua, dia ngajakin ke museum Ullen Sentalu. Sebenarnya aku juga nggak tau sih itu museum apa, tapi setuju setuju aja karena waktu searching-searching gitu kayaknya tempatnya asik. Hehehe.

Besoknya beneran berangkat ke Museum Ullen Sentalu. Tadinya aku pikir, museum ini ada di pinggir jalan di Kaliurang, ternyata salah besar. Museum ini ada di dalem dalem dalemnya Kaliurang. Kami cuma berbekal peta dari Google Map aja, jadi dari jalan Kaliurang ngikutin Google Maps arah dan tujuan menuju Ullen Sentalu. Tapi sekali lagi, tolong jangan percayai Google Maps. Aku udah dua kali ketipu sama Google Maps, dan kali ini, jalan yang ditunjukkin Google Maps untuk sampai ke Ullen Sentalu dengan jalur paling dekat bener-bener jalan yang gak bener deh. Jalan tikus mblusak-mblusuk masuk kebun salak orang. Untung aja kami naik motor, coba kalau naik mobil, gak kebayang gimana puter baliknya kalau udah ngerasa salah jalan. Eek.

Tadinya sempat putus asa karena Google Maps udah nunjukkin kalau kami udah sampai di lokasi, tapi tempat kami berdiri cuma ada hutan belantara dan warung-warung kecil gitu. Horor banget. Tapi waktu nanya sama warga yang jaga warung, akhirnya dikasih tau kalau ternyata Museumnya masih naik lagi. Fuih, langsung ngebut sampai atas.

Nahhhh pas sampai di lokasi kita girang banget karena tempatnya keren banget. Jadi apa sih Museum Ullen Sentalu itu? Museum Ullen Sentalu isinya adalah sejarah-sejarah tentang kerajaan Mataram, yang terpecah menjadi empat kesultanan. Salah satunya kesultanan Jogja.

Arsitektur Museum Ullen Sentalu ini unik banget. Lorong-lorong bawah tanahnya dibuat meliuk-liuk mengikuti kontur tanah dan lokasi pohon. Jadi pembangunan museum ini memang sengaja mengikuti alam sekitar dan gak menebang satu pohon pun. Keren banget. Tapi sayang, pengunjung gak diperbolehkan mengambil foto di dalam museum yang super keren ini. Cuma boleh foto di sebuah relief unik di luar ruangan.



Bersama Kak Kucing


Kupu-kupu di sekitaran museum


Oh iya, harga tiket masuk museum ini 30.000 rupiah per orang, itu sudah termasuk parkir, tour guide, dan minuman dengan resep rahasia yang disajikan pihak museum. Minuman ini rasanya kayak jamu, ada manisnya, anget dari jahe dan sedikit gurih menyerupai rasa kaldu. Sayangnya, kami gak tahu minuman ini namanya apa.

Dan pulang dari Ullen Sentalu, kami berniat mampir ke museum Merapi ternyata sampai sana tutup karena dah sore (padahal cuma telat 5 menit). Ya sudah foto-foto aja depan museumnya.


Hari ketiga, tadinya bingung mau ke mana. Tapi aku nawarin Kak Kucing untuk jalan-jalan ke jembatan gantung di Imogiri. Sebenarnya aku juga belum pernah ke sini (padahal deket rumah), cuma pernah lihat teman upload fotonya aja, kayaknya bagus gitu. Akhirnya Kak Kucing setuju dan hari ketiga kita berangkat ke jembatan Gantung Imogiri.

Waktu googling-googling gitu katanya sih, KATANYA, jembatan gantung Imogiri kalau dari rumahku sekitar 4 kilo, tapi NYATANYA, 4 KILO PANTATMU BELAH TIGA! 10 kilo lebih ada kali ah.
Dan jalannya cuma bisa dilewati sepeda motor, itu pun sempat hampir serangan jantung waktu pertengahan jalan, ternyata ada perbaikan jalan dan jalannya ditutup, digantiin sama jembatan yang cuma dari bambu, kata warga sekitar "Nggih, mboten nopo-nopo, ting mriki." yang artinya, "Iya nggak apa-apa, lewat sini." mampus, udah keringet dingin ngebayangin kalau tiba-tiba jembatan buatan yang dari bambu roboh dinaikin pake motor. Tapi kenyataannya baik-baik aja. Walaupun horor banget karena pas ngelewatin agak bunyi-bunyi gimanaaa gitu.

Kemudian selanjutnya next, kami sampai di Jembatan Gantung yang indah itu.


Okay salah fokus.

Ini dia Jembatannya

Sebenernya jembatan ini bukan obyek wisata, tapi gak ada salahnya dijadiin list buat ke sini kalau lagi di Jogja karena tempatnya emang bagus, pemandangan sekitar juga bagus banget, ada bukit-bukit dan sawah terasering.





Tapi kalau bisa sih, ke sini pas lagi gak musim hujan, karena kalau habis hujan, airnya agak pasang dan keruh. Padahal kata warga sekitar kalau lagi gak musim hujan, airnya jernih banget. Oh iya, kalau mau ke sini cuma bisa naik sepeda motor, karena jalannya kecil dan gak beraspal.

Setelah puas di Jembatan Gantung, aku sama Kak Kucing melanjutkan perjalanan ke Goa Cerme. Apakah itu Goa Cerme? Entahlah kami nekat aja ke sono. Dan ternyata jalannya lebih parah dari jalan menuju Jembatan Gantung. Jalannya udah aspal sih, tapi curam banget dan tikungannya tajam-tajam. Kalau lagi hujan sebaiknya gak ke sini karena jalanan pasti licin banget. Bahaya untuk yang naik motor, apalagi yang kurang profesional.


Mana Goa-nya?

Hohoho jadi Goa Cerme itu adalah goa (Ya menurut loooo?). Tapi ada airnya gitu. Jadi wisata-nya masuk goa yang berair dan harus nyebur. Intinya basah-basahan. Paling dalem airnya sampai 80cm. Di dalem goanya, ada batu-batuan apa gitu kata masnya tadi lupa. Aku sama Kak Kucing gak masuk karena gak bawa ganti dan lagi males basah-basahan hihihi. Jadi cuma lihat-lihat di sekitaran goa saja.

Gitu deh liburannya aku. Liburan kalian gimana? :D

Sabtu, 18 Januari 2014

Unek-unek Seputar Desain dan Ilustrator

Kuliah Desain Itu (Nggak) Mahal

Sebenarnya, aku nggak terlalu suka ketika ada yang menyebutkan kuliah desain itu mahal dan kepengin banget desainnya dibayar mahal. Mungkin kalian belum pernah kuliah di ISI. Ini bukan berarti aku memperbolehkan kalian membayar semua desainer murah.

Jadi gini, pernah baca blog orang yang isinya menjabarkan kenapa sih biaya desain itu harus mahal, alasannya karena: Kuliah desain mahal, dan kami harus balik modal.
Okay please. Biaya kuliahku sama sekali gak mahal (dibanding sama jurusan DKV di Universitas lain) dan apanya yang harus balik modal? Menurutku, alasan utama kenapa biaya desain itu mahal karena: IDE dan KREATIFITASNYA. Bukan karena kuliah kami mahal dan kami harus balik modal.

Lalu, kalau kamu mau desainmu dibayar mahal, usaha. Lulus kuliah gak punya nama apa-apa dan pengin desainnya dibayar mahal? Wah susah. Sebaiknya, saat kuliah mulai dikit-dikit buka jasa desain pelan-pelan, nanti juga lama-lama banyak orang yang pesan dan pelan-pelan bisa naikkan 'tarif' desainmu 'kan?

Aku paling sebal kalau ada yang mengeluh karena dibayar sangat sedikit. Harusnya ada perjanjian dari awal. Dari kitanya juga harus tegas masalah deal biaya. Jangan cuma bisa ngomong "Ah terserah saja.." Tapi ketika dibayar murah, marah-marah. Duh.

Dulu, awal-awal masuk kuliah juga gak ngerti gimana cara menghargai desain sendiri, tapi lama kelamaan sudah mulai mengerti. Dulu pernah desain cover novel, dan dari awal sudah deal masalah tarif. Jadi saat aku dibayar, jatuhnya seneng, bukan marah-marah. Yang pesan senang, akunya juga senang.


Jadi Illustrator kok Sombong?

Aku follow beberapa ilustrator di instagram karena suka sama gambar-gambar mereka. Tapi sering banget nemuin ilustrator yang ketika foto gambarnya dikomen agak 'gak enak' dikit, dia balesnya sangat sangat sinis. Lalu ketika ada yang komen memuji-muji, dibales sangat ramah.
Sikap inikah yang bisa ditiru sama junior-junior ilustratornya? Apa kata Pak Jokowi (?)

Terus kalau karyanya ditiru sama orang walau gak sama persis, marah-marah gak karuan. Duh Gusti. Saya sebenarnya muak sama hal ini, tapi mau gimana, mungkin mereka menganggap karya mereka itu benar-benar orisinil. Padahal, di dunia ini mana ada sih karya yang orisinil? Semua hasil meniru dan memodifikasi bukan?
Pelukis ternama sekalipun, ketika melukis buah apel, apakah dia tidak meniru bentuk apel yang sebenarnya dulu, atau paling tidak melihat bentuk apel yang sebenarnya kemudian dituangkan ke atas kanvas?
Coba pikirkan lagi.

Kalaupun misalnya karyamu ditiru, lihat sisi positifnya: Artinya karyamu dianggap, mereka menganggap karyamu bagus, dan layak untuk diperlihatkan ke orang banyak. Toh karya kita pasti dan PASTI terinspirasi dari sesuatu. Tidak benar-benar orisinil.
Aku rasa, cuma Tuhan yang boleh marah soal plagiatisme. Karena dia yang punya keorisinalan paling orisinil.

:)