Selasa, 31 Januari 2012

Sebentar Saja, Sampai Jumpa

Liburan kali ini sebentar, memang dari kampus liburnya cuma dua minggu. Tadinya mau pulang tanggal 5 tapi masih harus ngurus KRS jadi ya besok sudah harus kembali ke Jogja.
Aku bahagia kalau pulang, selalu. Apapun masalah yang aku bawa dari Jogja, sampai Banjar pasti tetap bahagia. Bahagia itu sederhana, sesederhana senyumku dan sahabat, Molly.
Sampai jumpa enam bulan lagi, sahabat. :)







Sedang malas mem-posting yang panjang-panjang, jadi ya posting foto narsis saja hahaha.

Sabtu, 28 Januari 2012

Kepada Mimi, Sosok yang Sebenarnya (Tidak Pernah) Ada

30 Hari menulis surat cinta, hari ke-15; Surat untuk Mimi, Sosok yang Sebenarnya (Tidak Pernah) Ada

Dear Mimi, apa kabarmu sekarang? Baik? Buruk? Hei, berapa umurmu sekarang? 19 tahun seperti aku kah? Atau masih 8 tahun sama seperti terakhir kali kita mengobrol? Aku merindukanmu sungguh... :)

Aku tumbuh dengan pribadi pasif, ingat? Aku pendiam, pemalu, dan cengeng. Saat itu umurku 8 tahun, dan tidak punya banyak teman. Teman-teman tidak suka bermain denganku, mereka tidak suka anak yang cengeng. Di saat teman-teman sebayaku tidak ada yang mau mendekatiku, kamu hadir memberikan ikatan persahabatan yang tulus, dan sederhana.

Kamu menyambutku di pojok kamar ketika pulang sekolah, mengajakku mengobrol dan sesekali main boneka. Kita tidak pernah bermain di luar, hanya di dalam kamar saja. Kamu tidak pernah mengeluh setiap hari mendengar celotehanku, kamu adalah pendengar yang baik.
Ketika aku ulang tahun, kamulah yang pertama kali mengucapkan selamat, dan ketika kamu ulang tahun, aku selalu membelikan cokelat, itu makanan kesukaanmu, kan? Hei bukannya ulang tahun kita hanya beda satu hari? Senang rasanya punya sahabat yang ulang tahunnya berdekatan. Aku tidak pernah marah karena kamu tidak pernah memberikan kado untukku, kehadiranmu yang mengisi hari-hariku itu sudah menjadi sebuah kado terindah.

Aku selalu iri dengan rambut panjang dan lurusmu, kamu tahu kan dari dulu aku menginginkan rambut lurus dan panjang? Tapi kamu malah bilang ingin berambut ikal sepertiku. Ah, sudah berkali-kali kukatakan padamu, rambut ikal ini kerap kali membuatku kesal. Menyisirnya saja sering membuatku kesulitan.

Mimi, persahabatan kita waktu itu begitu singkat. Aku sering disibukkan oleh pekerjaan rumah dari sekolah. Sebenarnya aku bukan anak yang rajin, tapi aku harus mengejakan semua tugas dari sekolah agar aku bisa naik kelas. Dan kamu sering kali terbaikan.

Mimi, maafkan aku ya, tidak ada yang suka diabaikan, aku tahu rasanya pasti sedih dan kamu pasti marah padaku. Maafkan juga akhirnya aku mengkhianati janji kita. Aku perlahan-lahan melupakan kamu, dan itu membuat kamu perlahan-lahan terhapus dan kemudian menghilang begitu saja.

Mungkin kamu sekarang masih sering berdiri di pojok kamar tidurku, memperhatikanku atau sesekali mencoba mengajakku megobrol. Tapi Mimi, aku sudah besar, tidak ada tempat untuk teman imajiner lagi. Mungkin suatu hari nanti, anakku akan menjadi sahabat baikmu. Ya, aku yakin ia akan senang berteman denganmu, sama seperti aku dulu.

Yang pernah menjadi sahabat baikmu,
Asa

Minggu, 22 Januari 2012

Untuk Kotak-Kotak Perekam Kenangan

30 hari menulis surat cinta, hari ke-9; Untuk Kotak-Kotak Perekam Kenangan

"The best thing about photos is that it never changes, even when the person in it does." -Iambino/tumblr

Kalian itu perekam yang baik, walau aku belum menjadi pembidik yang baik. Aku masih harus banyak belajar.

Tuhan itu tahu segalanya, Ia tahu beberapa orang termasuk aku bukanlah seorang pengingat yang baik. Maka Ia membuat manusia menciptakan kalian, kotak-kotak perekam kenangan. Agar kami, para pengingat yang buruk, bisa merekam semua kenangan dengan bantuan kalian. Sempurna.

Pertama kali dikenalkan dengan kalian ketika umurku masih 12 tahun, kalau tidak salah. Papa mengajarkan padaku bagaimana caranya membidik lalu memencet. Waktu itu aku tidak tahu jelas apa fungsi kalian, semua yang aku lihat langsung aku abadikan. Mama memarahiku, katanya, rekam yang menurutku pantas untuk direkam saja, karena aku hanya punya 36 kali jepretan dalam satu roll film. Jangan asal jepret, sayang filmnya, katanya.


Akhirnya aku tahu dari mana datangnya lembaran-lembaran foto di album-album foto yang Mama punya. Dan ternyata, dari 36 kali jepretan itu, tidak semua bisa dicetak. Ada beberapa diantaranya yang under exposure, atau terbakar atau memang tidak terekam, bukan begitu?

Beberapa tahun kemudian, kalian hadir dengan inovasi baru. Digital. Aku semakin senang karena bisa merekam kejadian sesukaku, sebanyak apapun yang aku mau, tidak sebatas 36 kali jepretan. Dan setiap kali menjepret, aku langsung bisa melihat hasilnya. Ah, aku semakin jatuh cinta pada kalian.

Tapi, setiap jenis dari kalian punya keistimewaan masing-masing, aku suka hasil fotoku bisa dilihat langsung. Tapi aku juga suka menunggu sambil berdebar-debar, menebak-nebak bagaimana hasil jepretanku. Kalian selalu bisa membuatku penasaran.

Terimakasih ya, para kotak-kotak perekam kenangan, kalian membantuku merekam semua kenangan. Hingga suatu hari ketika aku melihat-lihat hasilnya, aku bisa tersenyum, atau bahkan berkaca-kaca. Terimakasih banyak. :)

Yang selalu menjaga, dan mencintai kalian,
Asa.

Jumat, 20 Januari 2012

Surat untuk Pangeran Tata Surya

30 Hari menulis surat cinta, hari ke-8; Surat untuk Pangeran Tata Surya


Sebenarnya aku bingung harus menulis apa di surat ini karena sebenarnya aku lebih suka menulisnya dengan pensil daripada harus menekan anak-anak huruf di keyboard komputer lipatku. Karena kalau menulisnya dengan pensil, aku bisa sambil menggambar-gambar wajahmu di samping tulisan ini.

Pasti kamu tahu kenapa aku menyebutmu Pangeran Tata Surya, tentu saja karena kamu tahu banyak hal tentang Tata Surya. Entah itu Bumi, Bulan, atau planet-planet lainnya yang ada di Tata Surya, dan kamu suka sekali menceritakannya padaku. Saat itu, matamu seolah menyala-nyala, berbicara, entahlah, aku tidak bisa menggambarkannya.

Ah, sampai lupa menanyakan kabarmu. Apa kabar, Pangeran Tata Surya? Semoga kamu baik-baik saja, ya? Sedang melanjutkan study di Bandung, kan?
Sekarang aku sudah kuliah di jurusan yang aku mau. Terimakasih ya, dulu kamu yang meyakinkan aku untuk terus bermimpi, dan harus memperjuangkan mimpi-mimpiku.


Hai Pangeran...
Tahukah kamu, aku sering mengunjungi ruang kerjamu? Aku suka memandanginya lama-lama, melihat kumpulan puisi-puisi dan foto-foto di atasnya. Kadang-kadang aku suka membayangkan kamu duduk di sana lagi, di depan komputer lipatmu sambil sesekali tertawa. Tawamu itu, selalu berhasil menenggelamkan sepasang matamu, lucu.

Setiap memandanginya, selalu berhasil membawaku ke masa-masa dulu. Masa-masa ketika aku sering berkunjung ke ruang kerjamu, mengganggumu dengan membawa kucing. Kamu jadi tidak jadi kerja, malah bermain bersama kucing dan aku. Kita tertawa bersama-sama.
Atau kadang-kadang aku membuka koran, melihat-lihat rumah yang sedang dijual, lalu aku memilih yang paling besar, kamu tidak setuju. Kamu lebih suka rumah yang kecil, minimalis. Katamu, rumah itu pasti cocok untuk kita, karena aku dan kamu sama-sama mungil. Dan kemudian aku mulai setuju, yang besar atau yang kecil sama saja, yang penting ada tempat untuk melihat Bulan di sana.

Ah, aku rindu bertukar cerita denganmu. Aku rindu memandangi dagu dan pipimu yang kadang penuh bulu, "Belum sempat dicukur." katamu, sambil menyeringai. Aku rindu mendengar suaramu dari seberang ponsel, kadang-kadang sinyal membuat kita kesal tapi tidak lama kemudian kita menertawai kekesalan kita barusan.


Sudah lama sekali rasanya kita tidak bersua, terakhir kali tiga tahun yang lalu, tepat seminggu sebelum kamu menikah. Kamu mengirimkan pesan singkat ke ponselku, ingat? Pesan singkat yang menyatakan bahwa kamu akan menjalin sebuah ikatan pernikahan dengan seorang wanita, tapi bukan dengan aku.

Saat membaca pesan singkat itu rasanya dunia berhenti berputar, atau mungkin berputar sangat cepat? Entahlah, aku begitu kacau saat itu.
Malam itu aku sampai tidak bisa menangis lagi, Mama memelukku erat, sangat erat. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya memelukku saja sambil mengelus punggungku. Mungkin ia tahu hati anaknya sedang terluka.

Sungguh, rasanya sangat menyiksa membayangkan kamu dengan istrimu sekarang. Dadaku sesak, seperti terjepit di antara pintu lift yang berkarat. Tidak ada yang bisa menolong dan tidak ada yang bisa kulakukan sampai rasa sakit dan sesak itu hilang sendiri atau dibiarkan saja sampai aku mati rasa, sampai tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Ah, Sudah, sudah, aku tidak mau lagi membicarakan rasa sakitnya.


Sepertinya aku sudah mengetik terlalu panjang ya? Seperti katamu, aku memang cerewet, bahkan di sebuah tulisan sekalipun. Sudah ya, sampai di sini dulu, aku akan menulis surat kepadamu lagi, suatu hari nanti.
Sampaikan salamku pada istrimu ya, bilang padanya bahwa dia adalah wanita yang beruntung. Dan satu lagi, anakmu sudah lahir? Jika sudah, aku yakin dia akan menjadi anak yang lucu karena mewarisi mata sipitmu dan kulit putihmu.

Salam hangat, Asa.

Selasa, 17 Januari 2012

Waktu Cepat Berlalu, Bahkan Aku Tidak Menyadarinya

Rasanya baru kemarin merengek minta belikan meja belajar warna-warni dengan dalih agar semangat belajar dan merengek minta belikan lemarinya juga agar serasi dengan meja belajarnya. Rasanya baru kemarin aku minta izin Mama Papa untuk melukis dinding kamar menggunakan cat air lima ribuan yang dibeli di warung fotokopian. Rasanya baru kemari menangis disudut kamar karena berantem sama Mama. Rasanya baru kemarin.



Semakin bertambah umur, kamar ini terasa semakin sempit. Mama pernah menawarkan untuk membesarkan kamar ini, tapi aku menolak. Biar saja seperti ini, toh hanya ditinggali setiap enam bulan sekali saja.

Setiap kali pulang, selalu saja melihat-lihat isi kamar dulu. Membuka lemari-lemarinya, buku-bukunya, dan boneka-bonekanya. Kadang tersenyum geli membaca diary-diary zaman sekolah dulu. Alaynya masa itu hahaha. Kadang mama sampai kesal, baru sampai rumah bukannya istirahat malah buka-buka lemari, katanya. Senang saja, bersentuhan dengan barang-barang lama, rasanya seperti kembali ke masa-masa dulu.

Gak kerasa aja, sekarang sudah kuliah, sudah besar. Waktu benar-benar cepat berlalu dan aku banyak melewatkannya begitu saja...



NB: Menemukan celengan berisi uang-uang koin. Entah sudah berapa lama uang-uang ini ada di celengan. Mungkin sejak aku SMP, atau SMA. Iseng menghitung jumlahnya ternyata sudah 43 ribu rupiah. Bisa dipakai untuk membeli es krim, tentunya. :)


Senin, 16 Januari 2012

Voila!

Berawal dari melihat tas polos simpel berbahan kain di emperan Malioboro beberapa hari yang lalu, terpikir untuk ngelukis tas itu. Dengan sedikir pikir-pikir, akhirnya menanyakan harga pada si penjual. Ternyata murah. Sudah murah tapi masih aja aku tawar, dan ternyata si penjual mau melepas tas itu dengan harga 2o ribu rupiah. Deal.

Penampakan tas setelah dilukis:



Kenapa melukis perempuan membawa kamera? Karena aku suka memotret. Dan kenapa kameranya harus Holga? Karena aku sedang jatuh cinta sama Holga. Sayangnya uangnya belum cukup buat membeli Holga, jadi ya digambar saja dulu hahaha. Aaaah, semangat nabung buat beli Holga, Asa! :)

NB: Libur telah tiba! Bye tumpukan tugas! :D

Jumat, 06 Januari 2012

Sudah Cukup, Sudahi Saja.

"Aku bukan angsa cantik dengan bulu putih mulus dan bersih, Inilah aku, anak bebek dengan bercak lumpur di sana sini."

Sudah cukup, sudahi saja, mungkin itu kata yang tepat untuk saat ini, atau mungkin untuk seterusnya. Aku hanya tidak ingin terluka lebih banyak lagi, tidak ingin terjatuh lebih dalam lagi.

Pernah aku jatuh cinta pada seorang pria, sangat jatuh cinta. Jatuh cinta yang begitu dalam. Aku menggantungkan banyak harapan padanya, hingga suatu hari ia mengecewakanku. Mematahkan harapanku berkeping-keping. Bukan lagi mematahkannya, aku rasa. Ia menghancurkannya.
Ia, pria yang aku sayangi dan mengaku menyayangiku itu kemudian memilih orang lain untuk menjadi wanitanya. Lalu aku, ditinggalkan begitu saja.

Luka yang ia tinggalkan begitu dalam, aku berusaha mengobatinya perlahan dan mencoba menyatukan kepingan-kepingan harapan yang remuk tadi, menempelnya satu demi satu dan memastikan tidak ada bagian yang hilang.
-------

Siapa yang ingin, luka mereka digoresi luka baru di tempat yang sama dengan "pisau" yang berbeda? Aku rasa tidak ada.

Aku hanya tidak ingin seperti dulu, terpuruk jatuh, terperangkap di dalam luka yang paling dalam dan sulit untuk merangkak keluar.

Pernah kamu mengatakan, "Hei, jangan menyerah", tapi kau seolah membuatku lelah dan ingin menyerah. Membuatku ingin pergi dengan sendirinya tanpa perlu repot-repot kauusir.
Maka, di sinilah aku. Jauh-jauh darimu, mencoba menjaga agar jarakku dan kamu seperti ini saja, agar aku tidak menjadi lebih terluka.

Dengan siapa pun atau bagaimana pun kamu nanti, aku akan (mencoba) bahagia.
Tentu saja, orang yang mengatakan akan turut bahagia bila orang yang ia sayangi memilih orang lain, itu hanya di mulut saja. Pada kenyataannya, rasa sakit itu tetap ada.