Kamis, 27 Agustus 2009

Masa Kecil yang Mulai Hilang

Kalau diingat-ingat, masa kecil adalah masa yg paling indah. Masa dimana kita gak malu buat ngompol di celana dan gak dimarahin. Masa dimana kita gak malu buat nangis sekenceng2nya. Masa di mana kita bisa kelahi sambil guling2 di pasir (kalo sekarang masih kaya gitu bisa dikira orang gila. Masa dimana kita bisa keluar rumah gak pake baju. Masa dimana kita menghabiskan waktu dengan bermain, bermain dan bermain.

Banyak banget hal yang hilang disaat kita menuju kedewasaan. Contohnya, anak kecil gak perlu repot mikirin masalah cinta, patah hati, peer sekolah, kerjaan rumah. Dan dulu, pasti kita masih sering nanya sama orang tua kita,
"mah, kok mamah satu rumah sama papah ?"
"mah, kok burung itu bisa terbang ?"
"mah, ko kperut tante besar kaya mau meledak ?"
"mah, cinta itu apa?"
"mah, kenapa kita harus sekolah ?"
Dan masih banyak lagi.

Hal hal yang seperti itu yang sudah mulai hilang perlahan-lahan.

Kadang aku kangen, pengen balik ke masa kecil. Pengen balik jadi orang yang seolah-olah gak berdosa ketika melakukan a little with lie. Sekarang semua urusan bikin pusing dan repot. Masalah cinta, uang, urusan sekolah, urusan teman, keluarga dan hal-hal lainnya.

Gak sedikit juga yang jadi stress, depresi dan mau bunuh diri. Coba aja hal hal bodoh dan memalukan di masa kecil masih dianggap sesuatu yg lazim, mungkin gak bakal ada orang yg stress atau depresi atau bahkan bisa jadi gila.

Daaan aku sangat-sangat merindukan masa2 itu...

Senin, 24 Agustus 2009

Aku Benci Jatuh Cinta

Aku benci ketika harus berharap dengan tak pasti.
Aku benci ketika harus mengartikan setiap kata yang terlontar dari mulutmu.
Aku benci ketika harus menunggu smsmu, memikirkan dengan keras kata-kata yang tepat untuk membalasnya.
Aku benci ketika tanganku terasa kaku saat mengetik balasan smsmu.
Aku benci ketika harus kecewa karena tak menemukan smsmu hari ini di ponselku.
Aku benci ketika terlihat gagu di hadapanmu.
Aku benci ketika mataku sulit terpejam pada malam hari karenamu.
Aku benci ketika detak jantungku jauh lebih cepat dari sebelumnya karena berhadapan denganmu.
Aku benci ketika aku merasakan ada yang berdesakan ingin keluar dari dalam dadaku.
Aku benci ketika kedua mata kita saling beradu.
Aku benci getaran itu.
Aku benci ketika harus menyematkan namamu disetiap doaku.
Aku benci ketika harus selalu bersembunyi dan mengintipmu dari jauh.
Aku benci ketika menjadi detektif tiba2, mencari2 informasi tentang kamu.
Aku benci ketika harus masuk ke dimensi lain, berangan2 tentang kamu, berharap dan terperangkap di dalamnya.
Aku benci ketika mendengar kamu mengucapkan kata terimakasih untukku.
Aku benci ketika lidah ini terasa kelu saat harus berbicara denganmu.
Aku benci ketika aku harus mengakui aku mencintaimu.
Aku benci semua itu.
Aku benci jatuh cinta.

Kamis, 20 Agustus 2009

Mengenang Nami

Aku dulu punya kucing . Bukan kucing garong, tapi kucing galak .
Namanya Nami . Nama Nami terinspirasi dari nama sebuah tokoh di one piece, karena dulu mas lagi tergila2 sama one piece .

Nami kucing betina belang tiga . Dia pendek tapi berisi, matanya hijau dan imut2 kaya pemiliknya :p
Nami itu kembang desa, dia jadi rebutan kucing2 garong di komplek, tapi Nami tetep cuek, dia ngerasa gak lepel kalo harus pacaran sama kucing garong di komplek yg dekil, kotor, suka nyolong ikan dan tidak rajin beribadah .

Nami bisa dibilang kucing jutek, dia gak pernah mau makan ikan asin . Kalo makan daging mentah juga langsung muntah . Makan tulang langsung kejang2 .
Maunya makan ikan yg udah dimasak, atau gak makan makanan khusus kucing yg satu kalengnya ngelebihi harga satu hari uang jajanku .

Nami juga gak pernah sukses menghasilkan keturunan yang waras . Dia selalu ngelahirin anak, trus beberapa hari kemudian anaknya mati satu persatu .
Anak yang bisa bertahan cuma Si Item dan Popo .

Si popo melarikan diri entah kemana saat Si Item lahir . Mungkin dia merasa perhatian Nami berpindah pada Si Item yang bulunya Item semua .

Kata orang, kucing item itu pembawa sial, kucing iblis . Tapi nyatanya ? Item itu kucing banci . Gak pernah berani bergulat dengan kucing garong di komplek, selalu minta bela . Dan terakhir aku tau, dia punya kelakuan yang sangat tidak berprikekucingan yaitu : Mengawini kucing Jantan .
Hei, Item itu Jantan kawan ! Dia mengejot2 kucing jantan . Sungguh pemandangan yang sangat tidak etis .

Skip . Balik lagi ke Nami .
Aku kangen sama Nami . Kangen banget malah . Udah hampir dua tahun dia ninggalin rumah .
Enggak tau kenapa .
Waktu itu Nami ngelahirin anak terakhirnya, sekitar 3 anak kucing .
Anak kucing itu udah diincer musang dari mereka lahir .
Jadi Nami selaku Ibu siaga yang siap melindungi anak2nya, selalu memindah2 tempat persembunyian dan mencari daerah aman .
Pada hari yg aku lupa hari apa, pagi2 anak Nami udah gak ada ditempatnya tiga tiganya . Mereka hilang !
Nami gelabakan . Dia setress, Dia depresi, dia merasa gak berguna jadi Ibu, dan Nami berniat bunuh diri .

Akhirnya, siangnya Namipun ikut hilang entah kemana . Mungkin dia berusaha mencari anak2nya yg hilang itu .
Nami merantau diluar sana, mungkin dia mengadu nasib, mencoba mencicipi kejamnya kehidupan diluar sana .

Oh Namiku sayang, dimanakah kau sekarang ?


Ini adalah Nami malam terakhir kami bertemu :



Ini bentuk formasi yang alamiah tanpa dibuat2 :



Ini anak2 Nami yang lucu dan menggemaskan :



Ini juga anak Nami yang agak kurang gizi :



Ini kegiatan susu menyusu :