Jumat, 17 Maret 2017

4 Alasan Kenapa Perempuan Suka Menonton Drama Korea

1. Karena pemeran cowoknya ganteng tapi cute.
Ayolah, siapa yang nggak suka lihat cowok ganteng yang enak dilihat? Pasti semua suka kan? Hahahaha. Kalau cowok cowok Korea ini bukan cuma ganteng, tapi cute juga. Beda deh sama aktor-aktor hollywood. Karena perempuan suka yang lucu-lucu. apalagi ahjussi yang ini, kamu nggak normal kalau nggak suka dia! Hahaha




2. Karena semua perempuan bermimpi berada di posisi karakter perempuan dalam drama Korea.
Drama Korea itu sebenarnya berpola, tokoh laki-lakinya pasti cool, berlagak nggak suka padahal aslinya suka dan gengsi aja nggak mau nunjukkin, tapi kadang, si tokoh pria ini menunjukkan rasa sayangnya dengan cara yang 'sweet'. Nah, semua perempuan ingin diperlakukan seperti itu, bener nggak?


3. Karena sebagian besar drama Korea bergenre 'Romance'.
Pada dasarnya, semua perempuan itu menyukai hidup dalam 'kedramaannya' karena perempuan apa-apa pakai perasaan, seneng aja rasanya kalau nonton adegan-adegan romantis di dalam drama Korea.

4. Impian mungkin tidak bisa jadi kenyataan, paling tidak, perempuan sedikit terhibur karena bisa 'berkhayal'. Nih, mana mungkin di dunia nyata, ada pria mapan kaya raya mencintai kamu yang masih bau kencur, mengajakmu ke luar negeri. Cuma ada di serial drama Goblin aja. Hahaha.


Itu 4 alasan kenapa perempuan suka nonton drama Korea versi aku, menurut kalian apa lagi ya?
Btw kenapa fotonya foto Goblin semua? Soalnya aku baru selesai nonton Goblin dan menurutku lumayan bagus (di luar adegan slow motion yang menurutku menjijikkan hahaha). Ahjussinya tampan. Aku suka!

Kamis, 02 Februari 2017

Perihal Perempuan dan Memasak

"Dek, nanti kalau udah punya suami, sering masak ya."
"Yaaaa..."

Aku tuh sebenarnya bisa masak. Masak air, masak mie instan. Haha. Nggak, maksudnya bisa lah masak yang gampang-gampang seperti sayur bening, sop, goreng ayam, goreng ikan, bikin nasi goreng. Tapi nggak bisa yang aneh-aneh atau yang berat-berat.

Selama di Jogja, biasanya makan ya beli, soalnya praktis dan cepat, masak kalau lagi bulan Ramadhan aja, soalnya udah dua tahun ada mas di Jogja. Kata mas sih, masakanku lumayan, tapi ya gak enak-enak banget, gak seenak masakan Mama. Dan kadang kalau bikin nasi terlalu lembek, katanya.

Aku belajar masak karena dulu, mantan suka minta dibikinkan masakan, katanya pengin coba. Jadi ya latihan sedikit-sedikit, biar kalau sudah menikah (ya nggak harus sama dia) nggak perlu makan di luar.

Aku sebagai anak juga selalu senang kalau Mama masak. Mama itu wanita karir yang setiap hari kerja tapi masih sempat masak untuk keluarga. Kadang aku bisa bawa masakan mama untuk bekal ke sekolah.

Tapi aku belum terlalu menikmati seninya memasak, karena ya aku pikir kalau beli kan bisa lebih cepat dan malah cenderung murah (di Jogja sih) hehe. Gak tau sih kalau nanti sudah jadi istri atau sudah jadi ibu.

Beberapa hari yang lalu mengobrol dengan seorang teman tentang sedihnya jadi anak perantauan karena suka kangen masakan rumah, aku jadi mikir, hm, kalau nanti aku punya suami seperti dia--maksudku yang biasa makan masakan rumah yang sedap-- akan jadi tantangan yang sangat berat. Karena takutnya, nggak akan bisa menandingi masakan ibunya.

Ya Allah berat amat mikirnya.

Tapi nih ya, ada yang mengatakan, tugas memasak bukan cuma tugas perempuan atau istri, laki-laki atau suami juga, meskipun istri pegang peran yang lebih besar di dapur, tapi nggak menutup kemungkinan sesekali suami yang masak mehehehe. Misalnya gini, ada seorang laki-laki yang pernah ngasih aku makan, masakan dia, enak banget. Terus aku bilang, "Mas masakannya enak, makasih ya! Sering-sering boleh lho! Hehe."
"Ya ndak papa, kalau kamu mau aku masakin setiap hari juga ndak papa. "
Uh, sayangnya kami beda keyakinan. Hehehe.

Mungkin aku harus belajar masak dengan lebih baik lagi, agar suamiku kelak bisa betah di rumah, agar anak-anakku merindukan masakan ibunya, agar anak-anakku gak suka jajan sembarangan yang banyak micinnya. :p
Jadi, aku kapan di-sah-in nih, mas? #MasSiapa? #BelumAdaCalonnyaWoy #TapiAmininAjaDong #AsaTaaruf2017 #OK

Kamis, 12 Januari 2017

Jogja dan Beberapa Hal yang Membuat Aku Mencintainya

Hampir 7 tahun aku tinggal di Jogja. Jogja adalah kota tempat mama lahir dan tumbuh, tempat mama bertemu papa, tempat mas lahir, dan tempat aku menghabiskan 7 tahun terakhir dalam hidupku. Pertama kali pindah ke Jogja tidak pernah membayangkan akan tinggal dan menetap di sini selepas kuliah, karena yang aku pikirkan pada saat itu hanya menyelesaikan kuliah dengan baik lalu pulang ke Banjar atau ke Jakarta mencari kerja di perusahaan bergengsi.
Tahun berganti tahun membuat keinginanku untuk pulang ke banjar mulai memudar karena Jogja memberikan rasa nyaman yang luar biasa.
Para kerabat dan sahabat di Banjar selalu beropini alasan aku tidak pulang kembali ke Banjar adalah karena dulu, kekasihku tinggal di Jogja juga. "Gak mau pulang ke Banjar karena pacarnya di Jogja juga ya?" Aku hanya senyum setiap kali ada yang berkata seperti itu.
Sebenarnya bukan itu alasan utamaku. Kalau ya, maka aku sudah pulang sejak aku putus hubungan dengan dia.

Di jogja aku belajar banyak hal, salah satunya dengan menerima hidup serba pas-pasan, tidak banyak menuntut keadaan, dan memakan makanan apapun yang mampu kita beli atau kita masak, pokoknya apapun yang ada, tanpa pilih-pilih mau makan enak terus.
Di Jogja, kepada siapapun kamu menganggukkan kepalamu atau tersenyum atau mengatakan, "Monggo" respon mereka pasti baik sekali, mereka akan membalas senyum kemudian berkata "Nggeh, monggo." Atau di jalan, (ini aku alami berkali-kali) aku adalah orang yang super teledor dan seringkali lupa menutup rit tas ransel, di jalan ketika naik motor, banyak sekali yang menegur, "Mbak, tasnya kebuka." Karena terlalu sering ditegur orang di jalan, aku jadi ikut menegur ketika melihat orang lain yang tasnya terbuka, atau standarnya motornya turun, atau apapun. Positive vibes yang disebarkan orang orang jogja berefek positif juga untuk orang lain di sekitar. Atau ketika kunci motormu ketinggalan di motor, tukang parkir akan mengamankannya tanpa meminta biaya tambahan, tanpa berniat jahat sedikitpun. Atau ketika ponselmu tertinggal di jok bawah stang motor (biasanya yang motornnya matic), tukang parkir yang menemukannya akan mengembalikan dengan baik.

Jogja juga memberikan ruang yang sangat luas untuk para seniman juga pebisnis, juga pebisnis yang merangkap seniman.
Acara-acara seni masih banyak didatangi berbagai kalangan, mereka masih mengapresiasi seniman dan karyanya dengan sangat baik. Hal yang mungkin tidak bisa kudapatkan ketika berbisnis atau berkarya di Banjar. Aku tidak mengatakan kesenian di Banjar tidak dihargai dengan baik, hanya saja, Jogja memberikan ruang untuk berkesenian yang lebih luas.
Aku jadi sangat bersyukur karena Sampan Mimpi diterima dengan baik di Jogja, diapresiasi dengan besar oleh pelanggan-pelanggannya.

Aku sempat mencicipi hidup di Jakarta selama hampir satu tahun, menjadi manusia yang serba terburu-buru, kehabisan banyak waktu dan energi dijalan, kelelahan dan tekanan hidup mengikis energi positif yang dihasilkan dari diri kita. Ketika datang dan hidup di Jogja, rasanya jauh berbeda. Energi positif masih banyak bertebaran di mana-mana.

Gak adil kalau aku hanya menceritakan yang baik-baiknya soal Jogja, tentu ada beberapa hal yang terkadang membuatku sebal, seperti cara orang-orang berkendara di Jogja, atau pada saat musim kampanye tiba, atau pada saat libur tahun baru dan lebaran, Jogja berubah menjadi tempat mengerikan dengan jumlah manusia bertambah berkali lipat di beberapa tempat. Tapi Jogja bukan milik perorangan, maka berbagilah. Orang-orang punya cara sendiri untuk menunjukkan rasa bahagia ketika tinggal atau sekadar mengunjungi kota Jogja.

Jadi, ini kisahku tentang Jogja. Berkunjunglah sesekali ke sini, atau tinggallah jika kalian ingin, mungkin suatu hari kita akan dipertemukan di Jogja.

Salam, Asa.

Sabtu, 03 Desember 2016

Jagalah Aku Dalam Doa


Jagalah aku dalam doa-doamu
Jagalah aku dalam diam
Jagalah aku dalam kepalamu, dan dalam malam-malammu yang begitu sunyi

Jika kelak kita dipertemukan dalam sebuah ikatan yang kuat, berusahalah untuk tidak membuatku menangis karena pertengkaran kecil. Berusahalah untuk memelukku dengan erat ketika aku lelah.

Jika kelak aku adalah perempuan yang akan memberikan senyum paling lebar ketika membuka pintu rumah untukmu, yakinlah bahwa aku benar-benar menunggumu pulang dengan sabar.

Jika kelak aku adalah perempuan paling cengeng sedunia karena melepas kaupergi tiga puluh menit tanpaku, yakinlah aku benar-benar mencintaimu dengan caraku.

Jangan pernah menjanjikan aku matahari, datanglah dengan sederhana, mintalah aku dengan sederhana, karena aku mencintai kesederhanaan.

Jangan pernah menjanjikan bulan, karena aku tidak menyukai pria penuh omong kosong. Berjanjilah untuk tidak menjanjikan apa-apa. Karena melihat ingkar adalah luka yang paling perih.

Kepada pria yang meredakan hujan, jagalah aku dalam doamu.
Mintalah Tuhan untuk menjagaku, untukmu.

Minggu, 20 November 2016

Memberi Jeda

Pernahkah kamu merasa begitu skeptis soal cinta? Setelah apa yang sudah aku lalui, membuat aku sulit menerima orang baru dalam hidupku, membuatku sulit percaya pada laki-laki yang menawarkan janji-janji.
Ketika ada yang mengatakan padaku, "Asa, aku sayang sama kamu." Yang ada di pikiranku adalah, "Ah, paling-paling, beberapa tahun lagi, dia akan meninggalkan aku karena alasan 'kita kurang cocok'"

Manusia hanya bisa berjanji, menguntai kata-kata manis, tapi Tuhan bisa membalikkan begitu saja. Sekarang aku paham, kenapa Islam mengajarkan kita untuk tidak pacaran. Islam mengajarkan kita untuk menjaga hati kita sendiri, menjaga diri sendiri dari jatuh yang paling sakit.

Aku pernah jadi manusia paling melankolis soal cinta, mencintai seseorang dengan sangat besar, tidak bisa mengontrol sayang yang aku beri, kemudian apa? Ketika harus berpisah, aku hancur berkeping-keping, karena aku menggantungkan hatiku pada manusia yang kurang tepat. Hahaha, lucu.

Seseorang pernah mengatakan padaku, "Asa, berjanjilah kamu tidak akan menutup hati untuk laki-laki lain, percaya saja bahwa laki-laki tak semuanya sama. Berjanjilah untuk terus percaya." Iya, aku percaya, tak semua laki-laki sama. Aku hanya ingin memberi jeda pada diriku sendiri, memberi jeda pada cinta, memberi jeda pada hubungan dengan laki-laki, memberi jeda hatiku untuk pulih kembali. Aku yakin, hatiku akan pulih dengan sendirinya, tanpa bantuan laki-laki lain, karena aku adalah perempuan kuat, aku tidak butuh orang lain untuk menyembuhkan luka, aku punya orang tua hebat dan sahabat-sahabat luar biasa yang selalu menjadi obat.

Aku merasa menjadi perempuan paling egois sedunia, karena mengabaikan laki-laki yang berusaha mendekat, aku bahkan tak tahu, berapa hati yang kupatahkan setelahnya.

Jadi, kalau ada pria serius, langsung nikah saja, begitu? Eh.



Hashtag #JombloSampaiHalal

Selasa, 18 Oktober 2016

Berdamai dengan Masa Lalu



Kemarin lusa aku bertemu Robby, dia mantan kekasih ketika aku masih SMA. Mantan ketika aku masih penuh dengan emosi, meledak-ledak dan sulit memaafkan. Kami duduk berhadapan di sebuah kofisyop mahal di kota Jakarta, aku mengamati wajahnya inci hingga inci, tidak banyak berubah, batinku. Dia, masih pemalu seperti dulu, memandangku dari matanya yang tidak terlalu besar, dan senyum yang tipis. Bedanya, dia sekarang menumbuhkan jambang.
Dia bertanya kenapa aku berpisah dengan kekasihku yang terakhir. Aku menceritakannya.
"Jadi, kamu putus pas lagi sayang-sayangnya banget? Sama kayak aku dulu dong."
Aku diam. Sedetik kemudian tawa kami meledak. "Aku jahat ya sama kamu?" Tanyaku dengan bodoh, dia hanya menggeleng sambil terkekeh.
Waktu terasa begitu singkat, obrolan tentang kebodohan masa lalu tiba-tiba berhenti karena malam sudah terlalu larut. Aku dan dia sudah cukup merasa geli dengan kelakuan kami enam tahun lalu. "Kita dulu sama-sama tidak dewasa." Katanya, meski aku rasa hingga detik ini, aku belum cukup dewasa untuk menghadapi laki-laki.

Waktu selalu bisa menyembuhkan luka, membuat semuanya terasa biasa saja, meski perlu bertahun-tahun. Dan Tuhan selalu memberi kejutan setiap aku berkunjung ke kota ini, aku tidak terlalu suka dengan kota yang begitu riuh. Tapi kota ini selalu memberiku banyak pelajaran. Kemudian aku berpikir, jika aku tidak pernah datang untuk berobat di kota ini, apa pelajaran-pelajaran kehidupan yang aku dapat akan tetap ada?

Kamis, 13 Oktober 2016

Kehilangan Tidak Pernah Menjadi Mudah Bagiku



"Tidak ada orang yang siap kehilangan, Sa." Kata kak Falafu di tengah-tengah obrolan kami di malam itu.

Ya, tidak ada manusia yang siap kehilangan, aku pun. Kehilangan, kesedihan, musibah selalu datang tiba-tiba, tidak pernah ada tanda-tanda.

Aku kehilangan orang yang punya arti besar dalam hidupku, seseorang yang aku anggap bisa mendampingiku kelak, seseorang yang mengerti aku dengan utuh, seseorang yang aku cintai dengan begitu besar. Aku tidak pernah setuju jika orang mengatakan kehilangan hatinya separuh ketika orang yang dia cintai pergi, tidak, aku tidak kehilangan separuh hatiku, aku kehilangan separuh bagian dari aku, aku kehilangan sebagian dari diriku.

Aku berusaha tidak menangis, karena dia benci melihatku menangis, dan menangis hanya untuk orang-orang lemah. Aku bukan perempuan lemah. Aku terpuruk di detik-detik kehilangannya, aku meringkuk di kamar mengutuk diriku sendiri, memandangi ribuan gambar yang kupajang di sudut kamar, memanggil-manggil namanya hingga lelah. Aku hancur berkeping-keping, aku berantakan, di detik itu, aku berharap waktu berputar kembali ke masa-masa aku belum bertemu dengan dia, ke masa-masa aku menjalani hidupku sendiri dan baik-baik saja.

Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal dan belajar mencintainya dengan baik, aku dan dia bahkan merencanakan masa depan dengan begitu apik, berandai-andai tentang tatanan taman di belakang rumah kami kelak. Dia membuatku jatuh cinta dengan cara yang sederhana, tapi mencintainya tidak pernah sederhana. Dia orang keras kepala yang paling menyebalkan dan tidak pernah bisa kubenci.

Hari-hariku tanpanya tidak pernah mudah, aku selalu memikirkan bagaimana dia menjalani hari ini tanpaku? Apa dia baik-baik saja? Siapa yang akan membangunkannya untuk berangkat kuliah? Siapa yang menemani dia menonton film-film kesukaannya? Siapa yang akan memeluknya ketika dia bersedih, siapa yang akan menyediakan bahu ketika dia lelah, siapa yang akan memberikan semangat ketika hari-hari yang dijalaninya begitu sulit? Entah. Kadang aku berbicara sendiri, dia pasti baik-baik saja, dia akan baik-baik saja.

Seperti aku sekarang di sini, aku baik-baik saja, meski kehilangan tidak pernah mudah bagiku, aku tidak bisa lari, meski hari-hariku kadang pahit, aku harus bisa memeluk kepahitan dengan hangat.
Kehilangan tidak pernah menjadi mudah bagiku, tapi kadang-kadang manusia harus diberi rasa sedih, agar bisa lebih menghargai saat-saat bahagia.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Orangtua Hebat

Aku bangga memiliki mama seperti mamaku. Mama mendidikku dan masku dengan maksimal meski dia sudah bekerja saat aku masih sangat kecil. Aku tahu mendidik anak tidaklah mudah, apalagi usia mama saat itu masih tergolong muda. Mama masih sempat memasak sarapan untuk kami sebelum berangkat kerja, mama kerja dari pagi hingga sore, yang mengantarku ke sekolah adalah mbah kakung pada saat itu.

Aku tidak paham apa yang mama lakukan sehingga aku dan mas besar menjadi anak yang gak macem-macem. Aku tidak berkata bahwa aku 100% baik, bahwa aku anak yang penurut, tidak, kadang aku ngeyelan, kadang aku gak selalu nurut, tapi aku selalu berusaha memberi hal yang terbaik untuk mama dan papa. Aku gak pernah sadar kebiasaanku dan mas agak istimewa kalau tidak melihat perbandingan dari orang lain. Begini, aku dan mas hingga sekarang selalu meminta izin untuk memakan atau memakai sesuatu yang ada di rumah, meski kita tahu makanan itu dibeli mama atau papa untuk dimakan, tapi kita selalu mengatakan, "Ma, Asa minta kue yang di meja makan ya", "Ma, Arga makan kue yang di toples ya.". Sekarang aku tinggal sama mas di Jogja, kalau mau pake shampooku, mas selalu izin, kalau aku mau minta susu bubuk di dapur, aku minta izin. Itu jadi kebiasaan yang menurutku istimewa karena aku menemui beberapa teman yang memakan makananku tanpa izin tiba-tiba habis, atau memakai barangku tiba-tiba rusak atau hilang tanpa seizinku. Well, suatu hari aku mendengar papa mengatakan pada mama, "Ma, ini gorengan siapa? Papa makan ya."

Aku mengenal beberapa teman yang "nakal", katakanlah mereka melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan untuk orang yang belum menikah, atau hal hal yang dianggap tidak etis di Indonesia. Aku tidak menjudge mereka, tapi yang aku pikirkan adalah, "Orang tua mereka sedih tidak ya kalau tahu?" Beberapa yang aku tahu, mereka bukan anak yang terlalu dekat dengan orang tua mereka, jadi mungkin saja mereka tidak menghawatirkan perasaan orang tuanya. Ini mungkin, aku hanya berspekulasi.
Aku dan mas dekat sekali dengan mama. Dari kecil kami selalu diajarkan untuk menceritakan segala sesuatu kepada mama, mama dulu sering membelikanku diary ketika aku masih SD, katanya setiap hari aku harus mengisi diary dengan cerita-cerita yang kualami dan setiap hari mama membacanya, mengatakan bahwa cerita-ceritaku sangat menarik. Aku juga menceritakan segala hal dengan mama secara langsung, aku menceritakan ketika aku berkelahi dengan teman sekelasku karena dia merusakkan ikat rambut yang sempat menjadi tren saat kami masih SD, aku menceritakan pacar pertamaku, sampai sekarang aku menceritakan semuanya, ini bukan megadu, tapi mama ingin aku tidak menutupi hal-hal dari mama. Mama bukan orangtua yang memposisikan dirinya sebagai orangtua yang menggurui, memarahi, mengancam. Mama memposisikan diri sebagai sahabat aku dan mas. Kedekatanku dengan mama membuat aku selalu ingin menjaga perasaan mama agar tidak terluka. Aku selalu takut membuat mama sedih.

Mama tidak banyak menuntut, mana selalu mendukung apapun yang aku lakukan asal itu bersifat positif. Aku sering sekali mendengar keluh kesal teman kalau dia tidak diperbolehkan ini dan itu, tidak diizinkan ikut kegiatan tertentu yang padahal menurutku bukan hal yang negatif. Kemudian dampaknya dia malah sering berbohong alasannya ini padahal main atau ngapain.

Aku dan mas tumbuh menjadi pribadi yang gak mau sok-sokan keren dengan pamer barang-barang mahal pemberian orang tua. Aku lebih suka menghabiskan waktu di rumah ketika tahun baru, saat semua teman SMAku pada saat itu punya acara di luar. Aku menjadi anak yang bahagia meski gak semua keinginanku dituruti. Mama dan papa mengajarkanku untuk berusaha sendiri ketika menginginkan suatu hal, jadilah aku berbisnis sejak SMP. Dan waktu itu justru mama sangat mendukungku, sama sekali tidak marah. Aku ikut team Marching Band juga didukung, padahal aku punya skoliosis dan harus angkat alat berat. Aku masuk jurusan seni pun didukung meski aku tahu mereka menginginkan anaknya jadi dokter atau dosen hehe, mereka mendukung segala hal yang aku lakukan, karena mereka tahu, hanya aku yang mengerti apa yang aku mau dan mereka tidak pernah menghalangi kebahahiaanku dan mas.

Di Jogja aku melihat banyak hal, belajar banyak hal dan mengamati banyak hal. Aku bersyukur karena dibesarkan dengan cara yang sederhana tapi sampai sekarang kebiasaan-kebiasaan positif itu masih sering kami terapkan. Aku bersyukur dilahirkan di keluarga ini. Aku bersyukur karena punya rasa takut membuat mama papa sedih, aku bersyukur karena punya orangtua hebat.