Sabtu, 03 Desember 2016

Jagalah Aku Dalam Doa

Jagalah aku dalam doa-doamu
Jagalah aku dalam diam
Jagalah aku dalam kepalamu, dan dalam malam-malammu yang begitu sunyi

Jika kelak kita dipertemukan dalam sebuah ikatan yang kuat, berusahalah untuk tidak membuatku menangis karena pertengkaran kecil. Berusahalah untuk memelukku dengan erat ketika aku lelah.

Jika kelak aku adalah perempuan yang akan memberikan senyum paling lebar ketika membuka pintu rumah untukmu, yakinlah bahwa aku benar-benar menunggumu pulang dengan sabar.

Jika kelak aku adalah perempuan paling cengeng sedunia karena melepas kaupergi tiga puluh menit tanpaku, yakinlah aku benar-benar mencintaimu dengan caraku.

Jangan pernah menjanjikan aku matahari, datanglah dengan sederhana, mintalah aku dengan sederhana, karena aku mencintai kesederhanaan.

Jangan pernah menjanjikan bulan, karena aku tidak menyukai pria penuh omong kosong. Berjanjilah untuk tidak menjanjikan apa-apa. Karena melihat ingkar adalah luka yang paling perih.

Kepada pria yang meredakan hujan, jagalah aku dalam doamu.
Mintalah Tuhan untuk menjagaku, untukmu.

Minggu, 20 November 2016

Memberi Jeda

Pernahkah kamu merasa begitu skeptis soal cinta? Setelah apa yang sudah aku lalui, membuat aku sulit menerima orang baru dalam hidupku, membuatku sulit percaya pada laki-laki yang menawarkan janji-janji.
Ketika ada yang mengatakan padaku, "Asa, aku sayang sama kamu." Yang ada di pikiranku adalah, "Ah, paling-paling, beberapa tahun lagi, dia akan meninggalkan aku karena alasan 'kita kurang cocok'"

Manusia hanya bisa berjanji, menguntai kata-kata manis, tapi Tuhan bisa membalikkan begitu saja. Sekarang aku paham, kenapa Islam mengajarkan kita untuk tidak pacaran. Islam mengajarkan kita untuk menjaga hati kita sendiri, menjaga diri sendiri dari jatuh yang paling sakit.

Aku pernah jadi manusia paling melankolis soal cinta, mencintai seseorang dengan sangat besar, tidak bisa mengontrol sayang yang aku beri, kemudian apa? Ketika harus berpisah, aku hancur berkeping-keping, karena aku menggantungkan hatiku pada manusia yang kurang tepat. Hahaha, lucu.

Seseorang pernah mengatakan padaku, "Asa, berjanjilah kamu tidak akan menutup hati untuk laki-laki lain, percaya saja bahwa laki-laki tak semuanya sama. Berjanjilah untuk terus percaya." Iya, aku percaya, tak semua laki-laki sama. Aku hanya ingin memberi jeda pada diriku sendiri, memberi jeda pada cinta, memberi jeda pada hubungan dengan laki-laki, memberi jeda hatiku untuk pulih kembali. Aku yakin, hatiku akan pulih dengan sendirinya, tanpa bantuan laki-laki lain, karena aku adalah perempuan kuat, aku tidak butuh orang lain untuk menyembuhkan luka, aku punya orang tua hebat dan sahabat-sahabat luar biasa yang selalu menjadi obat.

Aku merasa menjadi perempuan paling egois sedunia, karena mengabaikan laki-laki yang berusaha mendekat, aku bahkan tak tahu, berapa hati yang kupatahkan setelahnya.

Jadi, kalau ada pria serius, langsung nikah saja, begitu? Eh.



Hashtag #JombloSampaiHalal

Kamis, 20 Oktober 2016

Karena Semesta Merestui Kalian


(Memberi Jarak Pada Cinta dan Kehilangan-kehilangan yang Baik, Falafu)


Setiap teman yang tahu hatiku patah, mereka bilang, "Asa, hatimu yang patah akan diberi ganti yang lebih baik. Ada saatnya kamu akan bersyukur karena melepaskan dia pergi."

Aku tidak pernah merasa jadi perempuan paling baik hingga pantas mendapat yang lebih baik. Aku tidak pernah meminta lebih kepada Tuhan. Atau mungkin, Tuhan sedang menyelamatkan dia dari aku. Dia yang terlalu baik untukku.

Hari ini aku melihatnya bahagia dengan yang lain. Dia baik-baik saja.

Perempuan yang selama ini suka dibanggakan, diceritakan dengan baik, dan sering dia sebut-sebut mirip dengan penjual jagung manis di bioskop tempat kami sering menonton, adalah perempuan yang selama ini dia idam-idamkan. Hingga dia mengutuk diri sendiri, 'kemana saja aku selama ini?'. Perempuan yang mampu memberi apa yang tidak bisa kuberikan. Perempuan itu sudah menjadi nafas dalam setiap puisi-puisi yang ia tulis. Berbahagialah, karena semesta merestui kalian, semesta tidak pernah berpihak pada kita.

Maaf jika selama ini, aku mengekangmu dan membuatmu tidak kemana-mana.
Kepalaku berputar dan memanggil kata-kata, janji-janji dan mimpi-mimpi yang sering diucap,
Oh, mulut manusia memang begitu manis.
Berbahagialah, berbahagialah karena semesta merestui kalian.

Selasa, 18 Oktober 2016

Berdamai dengan Masa Lalu



Kemarin lusa aku bertemu Robby, dia mantan kekasih ketika aku masih SMA. Mantan ketika aku masih penuh dengan emosi, meledak-ledak dan sulit memaafkan. Kami duduk berhadapan di sebuah kofisyop mahal di kota Jakarta, aku mengamati wajahnya inci hingga inci, tidak banyak berubah, batinku. Dia, masih pemalu seperti dulu, memandangku dari matanya yang tidak terlalu besar, dan senyum yang tipis. Bedanya, dia sekarang menumbuhkan jambang.
Dia bertanya kenapa aku berpisah dengan kekasihku yang terakhir. Aku menceritakannya.
"Jadi, kamu putus pas lagi sayang-sayangnya banget? Sama kayak aku dulu dong."
Aku diam. Sedetik kemudian tawa kami meledak. "Aku jahat ya sama kamu?" Tanyaku dengan bodoh, dia hanya menggeleng sambil terkekeh.
Waktu terasa begitu singkat, obrolan tentang kebodohan masa lalu tiba-tiba berhenti karena malam sudah terlalu larut. Aku dan dia sudah cukup merasa geli dengan kelakuan kami enam tahun lalu. "Kita dulu sama-sama tidak dewasa." Katanya, meski aku rasa hingga detik ini, aku belum cukup dewasa untuk menghadapi laki-laki.

Waktu selalu bisa menyembuhkan luka, membuat semuanya terasa biasa saja, meski perlu bertahun-tahun. Dan Tuhan selalu memberi kejutan setiap aku berkunjung ke kota ini, aku tidak terlalu suka dengan kota yang begitu riuh. Tapi kota ini selalu memberiku banyak pelajaran. Kemudian aku berpikir, jika aku tidak pernah datang untuk berobat di kota ini, apa pelajaran-pelajaran kehidupan yang aku dapat akan tetap ada?

Kamis, 13 Oktober 2016

Kehilangan Tidak Pernah Menjadi Mudah Bagiku



"Tidak ada orang yang siap kehilangan, Sa." Kata kak Falafu di tengah-tengah obrolan kami di malam itu.

Ya, tidak ada manusia yang siap kehilangan, aku pun. Kehilangan, kesedihan, musibah selalu datang tiba-tiba, tidak pernah ada tanda-tanda.

Aku kehilangan orang yang punya arti besar dalam hidupku, seseorang yang aku anggap bisa mendampingiku kelak, seseorang yang mengerti aku dengan utuh, seseorang yang aku cintai dengan begitu besar. Aku tidak pernah setuju jika orang mengatakan kehilangan hatinya separuh ketika orang yang dia cintai pergi, tidak, aku tidak kehilangan separuh hatiku, aku kehilangan separuh bagian dari aku, aku kehilangan sebagian dari diriku.

Aku berusaha tidak menangis, karena dia benci melihatku menangis, dan menangis hanya untuk orang-orang lemah. Aku bukan perempuan lemah. Aku terpuruk di detik-detik kehilangannya, aku meringkuk di kamar mengutuk diriku sendiri, memandangi ribuan gambar yang kupajang di sudut kamar, memanggil-manggil namanya hingga lelah. Aku hancur berkeping-keping, aku berantakan, di detik itu, aku berharap waktu berputar kembali ke masa-masa aku belum bertemu dengan dia, ke masa-masa aku menjalani hidupku sendiri dan baik-baik saja.

Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal dan belajar mencintainya dengan baik, aku dan dia bahkan merencanakan masa depan dengan begitu apik, berandai-andai tentang tatanan taman di belakang rumah kami kelak. Dia membuatku jatuh cinta dengan cara yang sederhana, tapi mencintainya tidak pernah sederhana. Dia orang keras kepala yang paling menyebalkan dan tidak pernah bisa kubenci.

Hari-hariku tanpanya tidak pernah mudah, aku selalu memikirkan bagaimana dia menjalani hari ini tanpaku? Apa dia baik-baik saja? Siapa yang akan membangunkannya untuk berangkat kuliah? Siapa yang menemani dia menonton film-film kesukaannya? Siapa yang akan memeluknya ketika dia bersedih, siapa yang akan menyediakan bahu ketika dia lelah, siapa yang akan memberikan semangat ketika hari-hari yang dijalaninya begitu sulit? Entah. Kadang aku berbicara sendiri, dia pasti baik-baik saja, dia akan baik-baik saja.

Seperti aku sekarang di sini, aku baik-baik saja, meski kehilangan tidak pernah mudah bagiku, aku tidak bisa lari, meski hari-hariku kadang pahit, aku harus bisa memeluk kepahitan dengan hangat.
Kehilangan tidak pernah menjadi mudah bagiku, tapi kadang-kadang manusia harus diberi rasa sedih, agar bisa lebih menghargai saat-saat bahagia.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Orangtua Hebat

Aku bangga memiliki mama seperti mamaku. Mama mendidikku dan masku dengan maksimal meski dia sudah bekerja saat aku masih sangat kecil. Aku tahu mendidik anak tidaklah mudah, apalagi usia mama saat itu masih tergolong muda. Mama masih sempat memasak sarapan untuk kami sebelum berangkat kerja, mama kerja dari pagi hingga sore, yang mengantarku ke sekolah adalah mbah kakung pada saat itu.

Aku tidak paham apa yang mama lakukan sehingga aku dan mas besar menjadi anak yang gak macem-macem. Aku tidak berkata bahwa aku 100% baik, bahwa aku anak yang penurut, tidak, kadang aku ngeyelan, kadang aku gak selalu nurut, tapi aku selalu berusaha memberi hal yang terbaik untuk mama dan papa. Aku gak pernah sadar kebiasaanku dan mas agak istimewa kalau tidak melihat perbandingan dari orang lain. Begini, aku dan mas hingga sekarang selalu meminta izin untuk memakan atau memakai sesuatu yang ada di rumah, meski kita tahu makanan itu dibeli mama atau papa untuk dimakan, tapi kita selalu mengatakan, "Ma, Asa minta kue yang di meja makan ya", "Ma, Arga makan kue yang di toples ya.". Sekarang aku tinggal sama mas di Jogja, kalau mau pake shampooku, mas selalu izin, kalau aku mau minta susu bubuk di dapur, aku minta izin. Itu jadi kebiasaan yang menurutku istimewa karena aku menemui beberapa teman yang memakan makananku tanpa izin tiba-tiba habis, atau memakai barangku tiba-tiba rusak atau hilang tanpa seizinku. Well, suatu hari aku mendengar papa mengatakan pada mama, "Ma, ini gorengan siapa? Papa makan ya."

Aku mengenal beberapa teman yang "nakal", katakanlah mereka melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan untuk orang yang belum menikah, atau hal hal yang dianggap tidak etis di Indonesia. Aku tidak menjudge mereka, tapi yang aku pikirkan adalah, "Orang tua mereka sedih tidak ya kalau tahu?" Beberapa yang aku tahu, mereka bukan anak yang terlalu dekat dengan orang tua mereka, jadi mungkin saja mereka tidak menghawatirkan perasaan orang tuanya. Ini mungkin, aku hanya berspekulasi.
Aku dan mas dekat sekali dengan mama. Dari kecil kami selalu diajarkan untuk menceritakan segala sesuatu kepada mama, mama dulu sering membelikanku diary ketika aku masih SD, katanya setiap hari aku harus mengisi diary dengan cerita-cerita yang kualami dan setiap hari mama membacanya, mengatakan bahwa cerita-ceritaku sangat menarik. Aku juga menceritakan segala hal dengan mama secara langsung, aku menceritakan ketika aku berkelahi dengan teman sekelasku karena dia merusakkan ikat rambut yang sempat menjadi tren saat kami masih SD, aku menceritakan pacar pertamaku, sampai sekarang aku menceritakan semuanya, ini bukan megadu, tapi mama ingin aku tidak menutupi hal-hal dari mama. Mama bukan orangtua yang memposisikan dirinya sebagai orangtua yang menggurui, memarahi, mengancam. Mama memposisikan diri sebagai sahabat aku dan mas. Kedekatanku dengan mama membuat aku selalu ingin menjaga perasaan mama agar tidak terluka. Aku selalu takut membuat mama sedih.

Mama tidak banyak menuntut, mana selalu mendukung apapun yang aku lakukan asal itu bersifat positif. Aku sering sekali mendengar keluh kesal teman kalau dia tidak diperbolehkan ini dan itu, tidak diizinkan ikut kegiatan tertentu yang padahal menurutku bukan hal yang negatif. Kemudian dampaknya dia malah sering berbohong alasannya ini padahal main atau ngapain.

Aku dan mas tumbuh menjadi pribadi yang gak mau sok-sokan keren dengan pamer barang-barang mahal pemberian orang tua. Aku lebih suka menghabiskan waktu di rumah ketika tahun baru, saat semua teman SMAku pada saat itu punya acara di luar. Aku menjadi anak yang bahagia meski gak semua keinginanku dituruti. Mama dan papa mengajarkanku untuk berusaha sendiri ketika menginginkan suatu hal, jadilah aku berbisnis sejak SMP. Dan waktu itu justru mama sangat mendukungku, sama sekali tidak marah. Aku ikut team Marching Band juga didukung, padahal aku punya skoliosis dan harus angkat alat berat. Aku masuk jurusan seni pun didukung meski aku tahu mereka menginginkan anaknya jadi dokter atau dosen hehe, mereka mendukung segala hal yang aku lakukan, karena mereka tahu, hanya aku yang mengerti apa yang aku mau dan mereka tidak pernah menghalangi kebahahiaanku dan mas.

Di Jogja aku melihat banyak hal, belajar banyak hal dan mengamati banyak hal. Aku bersyukur karena dibesarkan dengan cara yang sederhana tapi sampai sekarang kebiasaan-kebiasaan positif itu masih sering kami terapkan. Aku bersyukur dilahirkan di keluarga ini. Aku bersyukur karena punya rasa takut membuat mama papa sedih, aku bersyukur karena punya orangtua hebat.

Selasa, 09 Agustus 2016

Aku Tidak Hidup Kemarin, Aku Hidup Hari Ini


Aku tidak lagi memberitahu pada dunia bahwa aku terluka karena aku tidak hidup kemarin, aku hidup hari ini, besok, dan beberapa puluh tahun lagi.

Aku berjanji tidak akan mengetuk pintu kamarmu mengais maaf yang begitu mahal, aku berjanji tidak akan ada air mata yang jatuh untukmu lagi. Aku berjanji.

Aku bukan orang yang tepat untukmu, untuk hidupmu, paling tidak aku telah berusaha, meski tahun tahun yang kita lewati tidak cukup membuatmu yakin.

Mungkin aku bukan perempuan yang kamu impikan di setiap malam-malammu yang sunyi, bukan perempuan yang kamu harap mampu mengerti hal-hal yang kau tertawakan, atau kau perdebatkan.

Aku hanya Asa, perempuan yang dulu mengagumimu dengan penuh, berharap setiap detik bisa kita habiskan bersama, menghargai apa yang kamu yakini, meski kadang aku merajuk karena kata-katamu, tapi perempuan suka merajuk, karena mereka ingin melihat seberapa besar pria mencintai mereka.

Ternyata kehidupan mengatakan, aku tidak cukup pandai menghadapi kamu, katanya, perasaan saja tidak cukup membuat pria bahagia, katanya, aku akan menghambatmu meraih mimpi-mimpi.

Oh, kehidupan begitu kejam, tapi aku tidak pernah mengutuknya.

Kamu boleh mengatakan pada dunia bahwa kamu terluka, kamu boleh mengatakan pada dunia bahwa aku akan tumbuh menjadi makhluk paling mengerikan di hidupmu, atau katakan pada dunia bahwa kamu bahagia, kita bahagia dengan cara kita sendiri-sendiri, dengan jalan kita sendiri-sendiri, tidak lagi bersama, tidak lagi bergandengan tangan, tidak lagi menatap satu sama lain. Kita bahagia, kita pantas bahagia.

Aku akan mengucapkan selamat tinggal karena aku tidak hidup kemarin, aku hidup hari ini.




Jumat, 01 Juli 2016

My Email, Facebook and BBM Has Been Hacked

Hello fellas!
Hari ini aku mau ceritain kronologinya Email, Facebook dan BBM aku yang sempat kena hack, terutama BBM karena pelaku mengambil keuntungan dari itu.

Tanggal 19 Juni lalu, aku mendapat email pemberitahuan bahwa ada seseorang yang mencoba masuk ke emailku dari device lain, berlokasi di Jakarta.


Well, pertama, aku tidak pernah log in email menggunakan windows, dan aku sedang di Jogja waktu itu, lokasi pelaku ada di Jakarta. Salahnya aku, aku baru benar-benar sadar kalau ada yang masuk ke email-ku pada tanggal 22 Juni. Dengan kata lain, si hacker ini sudah mengakses email, Facebook dan semua sosial mediaku dengan email yang sama selama tiga hari. Dia berhasil mengganti password Facebookku dan menggunakan akun youtubeku untuk menonton video-video tidak penting (aku lihat di watch history). Dan aku langsung buru-buru ganti password email dan beberapa sosial media yang emailnya menggunakan email itu.

Tapi sayangnya lagi, aku melupakan akun BBM. Bentar, jadi akun BBMku udah gak pernah aku pakai sejak setahun lalu karena aku sempat gak bisa log in, dan aku mikirnya, "Yaudahlah gak usah pake BBM lagi, toh kontaknya juga cuma 30 orang, aku bisa kontak yang lain pake Line atau WA aja." Nah, kebetulan banget, akun BBMku menggunakan email dan password yang sama seperti facebook dan email itu. Otomatis kalau dia bisa hack Facebookku, dia bisa masuk juga ke BBMku dong. Dan itu terjadi.

Pagi-pagi tanggal 26 Juni, buanyak banget temen-temen yang nge-Line, nge DM instagram dan nge-Whats App nanyain apa akun BBMku masih dipake atau enggak. Aku jawab enggak. Dan ternyata..... Ada seseorang yang masuk ke BBMku dan berpura-pura sebagai aku, nulis status "Habis ketipu" dan minta bantuan teman-temanku untuk mengirim uang ke dia.


                     

Facts:
- I never, ever, use PING! to start chat with anyone because it's rude and ndeso banget.
- I never, ever ask my friend to give me money to help me to fix my own problem. Orang yang pertama aku hubungi kalau sedang kesusahan adalah Mama dan Papa. Aku gak mau hubungan pertemanan terganggu karena masalah pinjam meminjam uang.

Setelah aku ngutak-ngatik aplikasi BBM dan berhasil log in lagi ke BBMku, aku langsung broadcast ke semua kontak untuk klarifikasi dan memberitahukan kalau sebelumnya aku chat dan minta sejumlah uang, itu bukan aku. Setelah itu, beberapa temenku chat aku dan bilang "Pantesan kok aneh banget tiba-tiba minta uang" atau "Ya ampun untung aku gak transfer, tadinya aku pikir itu beneran kamu." Aku agak lega karena baca chat dari teman-teman yang gak berhasil ketipu sama chat hacker itu. Tapi ada satu teman yang membuat jantungku hampir copot.


Membaca chat dari temenku rasanya campur aduk, merasa bersalah, takut, sedih, banyak deh!
Dari temenku itu, aku tahu nama rekeningnya si hacker itu.


Bukti transfer temenku ke rekening YANT DICKY PRABOWO

Semoga si Yant Dicky Prabowo ini suatu hari bisa mendapat ganjaran atas apa yang sudah dia lakukan. Aku percaya kalau tidak ada orang yang terlahir jahat, tapi kalau sudah soal uang, siapa tahu? So yeah, aku akan mengingat nama Yant Dicky Prabowo ini sampai kapanpun, aku tidak dendam, tapi kalau suatu hari aku menemukan nama Yant Dicky Prabowo ini, aku akan ingat kalau dia pernah memamfaatkan akunku untuk mencuri. Ya, mencuri. Dan kepada Yant Dicky Prabowo, aku sudah lapor polisi.

Dari kejadian ini, aku pengin kalian memperhatikan hal hal ini:
- Jangan share email untuk akun sosial di manapun.
- Jangan gunakan email yang sama, antara email kontak pribadi dan email akun sosial.
- Jangan menggunakan password yang sama untuk semua akun sosial mediamu.
- Kalau bisa, jangan share semua info tentang kamu di sosial media.
- Sering-sering ganti password email atau sosial media yang kamu punya.

Semoga bisa jadi pelajaran untuk kalian, lebih hati-hati lagi karena orang akan melakukan apa aja kalau butuh uang.
Salam, Asa.