Tuesday, December 18, 2012

Video Klip Mars Garuda Pancasila

Sebenarnya, malam penganugerahan video Klip Mars Garuda Pancasila ini sudah berlalu hampir satu bulan, tapi baru sempat diupload ke youtube.
Gambar animasinya manual menggunakan kapur dan ya, digambar frame by frame. Lupa keseluruhannya ada berapa frame, tapi aku rasa masih kurang banyak, gambarnya masih kurang halus.

Well, inilah persembahan dari pemuda-pemuda bangsa. Enjoy!



Juara 1 kompetisi Video Klip Mars Garuda Pancasila tingkat nasional 2012

Durasi : 1 menit
Director : Dipa Utomo
Ilustrator : Asa laily F. Huda
Cinematography : Eka "Kecap" wahyu P.
Editing : Eka "Kecap" Wahyu P. , Dipa Utomo
Naskah : Dipa Utomo, Asa Laily F. Huda



Karena menyalakan lilin kecil
Lebih suci nilainya ketimbang merencanakan Matahari,

salam sumpah pemuda!

Monday, December 17, 2012

Hal-hal yang Bisa Kita Pelajari dari Kucing


Aku tidak pernah belajar dari siapa pun untuk menyayangi seekor kucing. Semua terjadi begitu saja. Aku mencintai kucing sejak dulu, bahkan sejak aku belum diperbolehkan memeliharanya di rumah.

Suatu minggu pagi, mama membangunkanku dengan meneriakkan namaku dari luar kamar. Sedetik kemudian ia muncul dari balik pintu membawa gumpalan bulu warna putih--yang entah apa. Ah, ini semacam serangan fajar.
Beberapa saat kemudian aku baru sadar, gumpalan putih yang digendong mama bisa mengeong.


"Hei lihat mama sama papa bawa apa, ayo Adek bangun."

Namanya Pipy, umurnya baru 3 bulan. Kucing Persia ras Himalaya bermata biru ini membuatku jatuh cinta pagi-pagi buta.


Kami selalu mengurung Pipy di kandang ketika tidak ada orang di rumah. Kalau aku sudah pulang, buru-buru aku keluarkan dari kandang. Kalian tahu, Pipy senang bukan kepalang ketika tidak berada di kandang. Di sini aku belajar satu hal, bahwa seekor kucing pun tidak suka dikekang.


Suatu hari, kakak laki-lakiku pulang membawa seekor kucing sebesar genggaman tangannya. Ia bilang, kucing ini mengikutinya terus, karena tidak tega, maka ia bawa pulang kucing itu naik motor, digenggam olehnya.

Namanya Mucil, kucing kampung jantan dengan corak "M" di jidatnya ini super nakal dan cerewet. Tapi aku menyayanginya seperti aku menyayangi kucing-kucing sebelumnya. Matanya kuning menyala. Seseorang pernah mengatakannya padaku, kucing dengan mata kuning memiliki pendengaran yang bagus.



Sejak kuliah di Jogja, aku hanya pulang ke Banjar 6 bulan sekali. Terakhir aku pulang, Mucil benar-benar berubah. Ia tampak lebih kurus dan pendiam. Aku merasa bersalah. Tidak ada yang mengurusnya sejak aku pindah ke jogja. Bahkan ia sudah tak sesenang dulu ketika kugendong. Ternyata, seorang kucing pun butuh diperhatikan dan diberi kasih sayang lebih dari yang kita pikirkan.


Waktu itu aku masih SD, acara pernikahan kolega mama tidak begitu menyenangkan, aku memutuskan untuk bermain di luar gedung. Aku menemukan kucing kecil yang sangat kurus. Ia terus mengeong-ngeong membuatku iba. Sebelum pulang, aku memohon pada mama untuk merawatnya dan membawanya pulang.

Namanya Nami, kucing kampung betina belang tiga ini kucing yang angkuh, jutek, dan sangat cantik. Dia kembang desa di perumahan.



Kucing yang kurawat selama 6 tahun ini mengajarkanku banyak hal. Ketika aku memberinya makan, ia mundur dan menyaksikan anak-anaknya makan terlebih dahulu. Saat itu dia masih menyusui, ia butuh asupan makanan, tapi Nami bersikeras anaknya lebih butuh makanan.

Suatu hari Nami datang ke kamarku, mengeong-ngeong dengan keras, aku beri ia ikan, ia menolak. Ia terus mengeong, sambil setengah berlari ke kardus. Aku mengikutinya.
Anaknya hilang satu, Nami terus mengeong dengan keras, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan padaku karena dia kucing yang angkuh. Aku tahu Nami sedang meminta pertolongan, dan ia benar-benar memohon padaku.

Aku dan kakak mencari anaknya tapi tak juga ketemu. Kata mama mungkin dimakan musang. Nami benar-benar kelihatan frustasi.

Beberapa hari kemudian, anaknya hilang semua. Nami mengeong lebih keras. Kali ini ia terlihat seperti sedang menangis.

Malam harinya, tanpa mengeong, tanpa suara, Nami datang ke kamarku menaiki kasur dan duduk di sebelahku. Aku mengelusnya dan ia tak marah. Biasanya ia tidak suka dielus. Aku merasa ada yang janggal. Aku menggendongnya dan ia menurut, bahkan ia menjilat-jilat tanganku. Nami benar-benar aneh malam itu.

"Kamu mau pergi ya?" dengan konyolnya aku bertanya pada Nami. Tentu saja ia tak menjawab.

Malam itu aku tidur dengan Nami. Itu adalah kali pertama dan terakhir kalinya ia tidur satu kasur denganku selama 6 tahun.

Paginya, ketika membuka mata, Nami sudah tidak ada di sebelahku. Ia tak pulang seharian, besoknya ia tetap tak pulang. Aku mencarinya sampai ke komplek seberang tapi nihil, Nami tak kutemukan di mana pun.

Aku mencoba menerjemahkan apa yang Nami coba sampaikan pada malam terakhir ia di rumah melalui sikapnya yang begitu berbeda. Jika sikapnya diterjemahkan dalam bahasa, mungkin ia berkata seperti ini, "Terimakasih karena sudah merawatku selama ini, tapi aku harus pergi mencari anak-anakku."

Percayalah, kucing pun bisa begitu menyayangi anak-anaknya melebihi apa yang selama ini kita bayangkan...

Monday, December 10, 2012

Melalui Mata Pena yang Menari





aku sedang berpuisi, kekasih
setiap garis yang kugores pada kertas ialah puisi
seperti kamu menuliskan cerita tentang kita melalui ribuan aksara

ini adalah caraku berpuisi
melalui mata pena yang menari



Saturday, December 1, 2012

Untuk Mocca, dan Untuk Orang-orang yang Sedang Jatuh Cinta

Sebuah visualisasi lagu ke dalam bentuk visual yang komikal.
Sebenarnya ini cenderung terlihat seperti ilustrasi ya daripada komik, padahal ini tugas komik hihihi.
Dan karya ini aku persembahkan untuk

Mocca

dan untuk

Orang-orang yang sedang jatuh cinta...

Enjoy :)









On The Night Like This - Mocca -
21 x 29,7 cm
Poster colour on paper

Dan kalian bisa mendapatkan bentuk PDFnya di sini. Free. :D


Thursday, November 22, 2012

Tentang Tugas dan Deadline



Mungkin kalian pernah mengalami hal yang sama, malam hari ngebut tugas dan melakukan kecerobohan yang sangat fatal, jadi harus mengulang karya dari awal. Kemudian pagi harinya waktu tugasnya mau dikumpul malah salah jadwal, harusnya dikumpul minggu depan. Rasanya waktu itu pengin benar-benar terjun dari lantai 3 tapi gak berani, aku masih terlalu muda untuk bunuh diri.

Ya begitulah, kadang kenyataan lebih pahit dari pil paling pahit se-dunia. *apasih*

NB: Kapan-kapan aku publish komik lengkapnya. Ini cuma potongan dari tugas kedua komik :D

Saturday, October 27, 2012

Aku Membenci Jas Hujan

Aku membenci jas hujan
Aku membenci jas hujan karena ukurannya yang kebesaran
Aku benci harus melawan hujan dan angin bersamaan dalam balutan jas hujan yang kebesaran

Aku membenci jas hujan
Ketika hujan turun begitu deras, aku lebih suka merebahkan diri di kasur dan menarik selimut hingga sebatas leher
Atau duduk di bibir jendela cafe, menyeruput cokelat panas dengan buku di tangan sambil menikmati butiran-butiran air menyentuh kulit bumi

Aku membenci jas hujan
Suatu hari aku dan sahabatku mengendarai motor dan hujan turun sangat deras
Kami hanya punya satu stel jas hujan
Ia menyuruhku memakainya, aku tak mau
Aku menyuruhnya memakainya, ia tak mau
Akhirnya kami sepakat untuk sama-sama tidak memakai jas hujan
Kami berdua kehujanan, basah sama-sama

Aku membenci jas hujan

Thursday, October 25, 2012

Mama, Tusuk Sate dan Susu Hangat di Malam Hari

Ketika aku kecil, ketika masih belum bisa mengeja kata 'kecelakaan' dengan benar (karena aku selalu mengejanya dengan 'kelecakaan'), aku suka sekali minta belikan sate. Tapi aku selalu kesulitan menggigit daging sate dari samping, aku selalu memasukkan sate beserta tusuknya ke mulut (seperti mengulum) lalu menariknya dengan gigi.

Hari ini Dipa ingin makan sate, kami berhenti di warung sate yang menyediakan nasi putih. Tiba-tiba aku ingat Mama. Mama selalu memenggal tusuk sate setiap kali aku berhasil memakan potongan daging satenya. Begitu seterusnya sampai potongan daging terakhir di tusuk sate yang kumakan telah habis. Katanya agar ujung tusuk sate tidak melukai langit-langit mulutku.

Waktu itu aku merasa hal yang Mama lakukan adalah hal yang biasa saja. Tapi sekarang aku mengerti, hal yang Mama lakukan adalah hal yang luar biasa. Dia sangat puitis. Mamaku adalah ibu yang baik.


Ketika aku kecil, ketika masih belum bisa mengeja kata 'polisi' dengan benar (karena aku selalu mengejanya dengan 'polisti'), aku suka bangun di pertengahan malam, mengetuk pintu kamar Mama dan meminta dibuatkan susu vanilla hangat. Aku tahu dia mengantuk, tapi aku selalu merengek minta buatkan susu vanilla yang disaring dengan saringan teh agar tidak ada ampasnya (seperti yang selalu dilakukan Mbah Kakung). Dan Mama selalu menurutiku.

Hari ini aku meminum susu kotak rasa stroberi yang kuambil dari dalam kulkas. Dingin dan tidak ada rasa kasih sayang yang aku temukan di setiap teguknya.

Waktu itu aku merasa susu yang dibuatkan Mama sama seperti susu-susu lainnya. Tapi malam ini aku menyadari satu hal, susu vanilla hangat yang dulu selalu Mama buatkan untukku adalah susu paling enak sedunia. Aku merindukannya.


Wednesday, October 10, 2012

Rindu yang Terselip di Kantung Celana

Katamu, kau menitipkan rindu pada sidik-sidik jari yang tertinggal di daun pintu kamarku. Tapi kamu bohong. Aku tidak hanya melihat rindumu di sana, tapi juga di pada dinding-dindingnya, pada sela-sela kaca jendela, di bawah karpet, di sela-sela rak buku. Bahkan aku menemukan rindumu ketika bercermin, serta bayangan wajahmu yang menghardik, "Hei, jangan nakal!"

Ini jam ke 58 kamu pergi, dan ini bukan hal yang mudah. Aku seperti orang gila yang mengulang-ulang cerita tentang kamu pada orang yang sama. Aku bahkan sempat ingin mengatakan "Aku kangen kamu" pada setiap orang yang aku temui. Padahal kamu hanya meninggalkan Jogja beberapa hari. Iya, sebut saja aku gila.

Aku tidak berdiri di samping jendela bus dan melambaikan tangan sampai busmu menghilang dari kejauhan saat itu, tapi aku menitipkan rindu pada kantung-kantung celanamu. Semoga mereka bisa memelukmu di sepanjang perjalanan.