Showing posts with label Lagi Serius. Show all posts
Showing posts with label Lagi Serius. Show all posts

Monday, July 21, 2014

Kabar Gembira untuk Skolioser!

Hey whats going on?
Selamat berpuasa buat teman-teman yang menjalankannya juga yaaa.
Kali ini aku mau bagi cerita mengenai Spinecor dan perkembangan terbaru tentang skoliosisku.

Aku divonis (gila, serem amat bahasanya) kena skoliosis di umur 14 tahun kurvaku saat itu yang atas 47 derajat, yang bawah 27 derajat. Saat itu dokter ortopedi yang menangani aku, menyarankan untuk operasi, tentunya dengan berbagai macam resiko yang harus ditanggung, juga biaya yang tidak sedikit. Mendengar itu, mamah dan papah gak langsung setuju, mereka mencari alternatif lain dengan searching sana sini. Akhirnya menemukan alternatif dengan menggunakan brace, tepatnya hard brace karena bahan braceku waktu itu keras banget, bahannya dari mika setebal satu senti, memasangnya pun harus dibantu papah karena gak bisa pasang sendiri. Hard brace itu aku pakai setiap hari, cuma dilepas sesekali ketika tidur kalau memang benar-benar capek dan pada saat mandi, selebihnya dipakai. Karena sudah benar-benar gak tahan, aku memutuskan untuk gak pakai brace lagi setelah 6 bulan pemakaian. Siapa yang tahan kalau setiap hari harus jadi robot yang gak bisa gerak sebebasnya, jangankan jongkok atau lari, mengikat sepatu sendiri saja gak bisa. Belum lagi perasaan kesal karena diperlakukan seperti selayaknya orang sakit keras, gak di sekolah, gak di tempat latihan Marching Band. (Iya, aku tetap aktif di Marching Band selama memakai brace). Oh iya, aku juga mengalami alergi berat di kulit bagian pinggang karena tergesek-gesek permukaan brace. Menggaruk punggung yang gatal juga gak bisa. Kalau ada yang tanya masa-masa tersulit dalam hidupku ada di masa 6 bulan saat memakai brace. Gak mau lagi hehehehe.

Lalu setelah hard brace dilepas,  mamah menemukan alternatif lain untuk penanganan skoliosis: Canadian Chiropractic, dan itu hanya ada di Jakarta. Dan akhirnya, kelas 1 SMA aku pindah ke Jakarta karena terapinya harus dilakukan setiap hari. Terapi ini gak murah, satu kali datang 600.000 waktu itu, pokoknya, mamah dan papah menghabiskan puluhan juta untuk biaya terapi, tempat tinggal dan lain-lain selama di Jakarta.
Selama 6 bulan mengikuti Chiropractic, aku pulang ke Banjarmasin, selama bertahun-tahun setelahnya, aku gak pernah melakukan terapi apapun untuk skoliosis. Kurvaku? Entahlah, kami memutuskan untuk gak mengukurnya karena apapun yang terjadi, yang penting aku sudah merasa jauh lebih baik.

Kuliah di Jogja membuat mamah kembali mencari alternatif terapi lain karena tempat terapiku dulu, Canadian Chirpractic sudah tidak buka praktek lagi. Di Jakarta juga, mama menemukan another Chiropractic tapi kali ini dari China. Efeknya sama seperti sebelumnya, membuat badan nyaman dan gak sesak nafas lagi. Tapi bedanya dengan Canadian Chiropractic, Chinese Chiropractic tidak menggunakan alat, tapi menggunakan tangan dokternya. Jadi kayak semacam massage gitu. Chinese Chiropractic lebih murah, sekali datang hanya 300.000. Waktu itu juga ambil paket satu bulan, jadi jatuhnya tidak terlalu mahal. Dua tahun berturut-turut selama sebulan aku rutin terapi di Chinese Chiropractic ini.

Suatu hari aku dapat info mengenai Yoga khusus skoliosis di Jogja, senangnya bukan main, aku jadi gak perlu bolak-balik Jakarta-Jogja untuk terapi lagi. Cukup satu kali seminggu datang ke kelas yoga skoliosis sudah sangat membantu untuk kenyamanan punggungku. Sekali datang di kelas yoga ini butuh biaya 100.000. Hanya satu kali seminggu pada hari sabtu. Walau jaraknya sangat jauh dari rumah (butuh 45 menit naik motor) tapi aku tetap bela-belain ke sana. Meski kadang-kadang malas dan jadi dimarahi sama Dipa hehehe. Dipa yang selalu antar aku untuk yoga setiap sabtu ini. Oh iya sebelum mengikuti kelas yoga ini, instruktur yogaku minta untuk x-ray dulu biar tahu kondisi tulangku. Saat itu kurva yang atas 42 derajat dan yang bawah 39 derajat. Gak banyak berubah dari 8 tahun yang lalu (terakhir kali aku x-ray). Waw, ini termasuk berita baik karena selama 8 tahun, kurva skoliosisku tidak bertambah drastis! :D

Nah, setelah bercerita panjang lebar mengenai perjalanan aku dan skoliosis, sekarang mau cerita soal Spinecor. Ini dia kabar baiknya! Apa itu Spinecor? Hayo apa hayooo... :p

Aku suka ngikutin blog ka Indi Sugar, kebetulan juga beberapa kali komunikasi sama dia via email. Dari postingan blog dia, aku tahu kalau di Indonesia (Uhm, dan di dunia ini) sudah ditemukan soft brace bernama Spinecor. Eh, bukan Indonesia yang bikin soft brace ini, tapi di UK. Well, singkat cerita, mamah yang kebetulan lagi dinas di Jakarta, survei lokasi Back Up Clinic (tempat pasang Spinecor) besoknya, aku menyusul mama dari Jogja langsung ke Jakarta.

Hari pertama, ketemu dokter Anthony Fong, asalnya dari Australia, dan pertemuan pertama dia gak berhenti ngucapin permintaan maaf karena praktek pakai celana pendek dengan atasan batik (dia minta maaf karena mengenakan celana pendek hihi).
Kata dr. Anthony, dari semua pasiennya yang kurvanya lebih dari 40 derajat, hanya aku yang responnya sangat tinggi ketika diketuk lutut, sikut dan pergelangan tangannya. Dr. Anthony bilang kalau orang yang kurvanya lebih dari 40 derajat biasanya sudah sangat tidak sensitif terhadap pukulan, getaran dan lain-lain. Dia bilang, kasus skoliosisku sangat unik. Hahaha.

Setelah bertemu dokter Anthony, malam harinya aku harus x-ray karena dr. Anthony perlu kurva skoliosisku yang sangat terbaru. Dari Central Park, kami meluncur ke rumak sakit Pantai Indah Kapuk.

Besoknya, dr. Anthony sudah bisa mengukur kurva terbaru skoliosisku. Tebak berapa kurvaku sekarang? Yang atas 73 derajat, yang bawah 58 derajat. Parah ya? Ah, enggak juga, aku masih bisa nafas dengan cukup baik cuma kadang-kadang ngerasa pegalnya semakin parah aja hehehe.
Aku sadar selama ini masih bandel untuk jaga posisi. Apalagi setelah punya toko, udah gak terlalu mikir tentang skoliosis, asik ngerjain pesenan orang, menggambar, melukis saking asyiknya sudah gak perduli posisi badan kayak gimana. Hasilnya? Ya gini, kayak ditampar bolak-balik. Hehehe.
Setelah mengukur kurvaku, dr. Anthony mulai mengukur Spinecor biar pas di badanku. Pssst, dr. Anthony terlihat kayak penjahit karena bawa gunting dan meteran. :p
Singkat cerita, Spinecornya jadi dan dipasang di badan. Rasanya? Agak nyesek karena perutku gendut! Hahaha. Tapi overall, jauh lebih nyaman dibanding hard brace.

Selama sehari pakai Spinecor, badanku masih menyesuaikan diri. Masih agak sesak karena belum terbiasa, tapi masih bisa jalan, jongkok, joget-joget. Kalau hard brace jangan harap bisa begitu. :p

Malamnya setelah Spinecor dipasang, aku harus x-ray lagi tapi kali ini x-ray dengan menggunakan Spinecor. Besoknya aku kembali ke Back Up Clinic di Central Park bertemu dr. Anthony untuk cek perkembangan kurvaku dengan membawa hasil x-ray terbaru. Dannnn, hasil mengejutkan lho teman-teman. Setelah satu hari pakai Spinecor, kurvaku yang atas awalnya 73 turun menjadi 65, dan yang bawah awalnya 58 turun menjadi 52 dan tinggiku bertambah 2 cm dalam waktu semalam. Amazing. "Wonderful, It's miracle!" kata dr. Anthony. Aku langsung kebayang kurvaku bakal kurang drastis kalau rajin pakai Spinecor ini. Hihihihi.
Spinecor ini gak dipakai setiap hari, hanya 2-3 kali satu minggu, sekali pemakaian 6-10 jam. Meski kata dr. Anthony boleh lebih dari itu kalau mau. :D

Aku dibalut Spinecor

Aku jadi gak merasa tertekan pakai Spinecor ini, bahannya elastis dan halus. Aku bahkan bisa pakai Spinecor ini saat blogging, menggambar, melukis bahkan saat menjahit! Asik kaaaaan.....


Tuh lihat aku bisa joget-joget waktu pakai Spinecor



Harga Spinecor ini memang gak murah. Harganya hampir sama dengan uang muka cicilan rumah tipe 36, bisa dipakai melunasi kontrakan toko Sampan Mimpi selama dua tahun, bisa dipakai modal beli alat sablon digital lengkap, bisa gaji pegawai sampai bertahun-tahun. Hehehe. Tapi dibandingkan dengan operasi, harga Spinecor ini jauh lebih murah dengan resiko yang gak ada sama sekali.

Kata mamah, kesehatanku jauh lebih penting. Beruntungnya aku punya kedua orang tua yang sangat care, yang alhamdulillah mampu membiayai semua pengobatanku selama ini yang gak murah. Semoga Allah melindungi mereka selalu.

Teman-teman yang mau pasang Spinecor ini bisa ke Back Up Clinic Jakarta di Central Park lantai LG. (Dekat atm center Mandiri)
Semoga postingan ini membantu memberikan informasi buat teman-teman yang sudah hopeless sama kurva yang terlalu besar. Kabar gembira ternyata gak cuma datang dari kulit manggis saja yaaaa.... Hehehe :p

Anyway, berhubung banyak banget email yang masuk ke aku dan tanya pertanyaan yang sama. Aku jawabin di video aja ya biar jelas. Semoga membantu :)


Wednesday, October 10, 2012

Sepucuk Surat Tanpa Nama Pengirim

Sebuah amplop putih tanpa nama pengirim menyusup di bawah lubang angin pintu rumah beberapa hari yang lalu. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari menerima sebuah kiriman surat dari kantor pos di siang bolong, di era serba digital ini.

Aku merobek pinggiran amplop dengan hati-hati.

Oktober 2012
Di antara menit-menitku yang berusaha memelukmu

Hei, aku tahu siapa pengirimnya. Aku membaca suratmu sampai habis dengan masih berdiri di depan pintu. Lututku gemetar.

Rumah kita hanya berjarak 6 kilo, kamu mengirimiku surat melalui pos, ditulis tangan, dimasukkan dalam amplop polos. Itu manis, Dipa. Sayang aku tidak menerima langsung dari pak pos.

Dipa, mungkin kamu benar, tulisanmu serupa coretan-coretan zaman purba di dinding-dinding gua, tapi bukankah coretan zaman purba adalah asal muasal bahasa verbal? Bukan sekedar coretan, 'kan?

Kamu menulis dan mengirimiku surat untuk membuatku bahagia, katamu. Tapi Dipa, dengan menatapmu dan kau membalasnya dengan senyuman saja aku sudah bahagia. Suratmu itu, membuat seluruh tubuhku lemas. Satu hal yang kupikirkan waktu itu, aku ingin cepat bertemu dan memelukmu!

Aku juga bukan penganut fatalisme, tapi mungkin suatu hari kita harus mencoba mengingat-ingat dengan keras, apakah kita pernah saling mencintai di kehidupan sebelumnya. Karena seperti katamu, cinta kita tidak masuk akal kalau dibilang serba kebetulan.

Tuhan punya cara yang indah untuk mempertemukan kita di waktu yang tepat, ya? Atau bahkan sangat tepat?

Ah, terimakasih untuk sepucuk surat manismu, Dipa. Terimakasih untuk kata-kata yang mampu memelukku walau hanya dengan membacanya, terimakasih untuk cinta yang tidak masuk akal, terimakasih untuk waktu-waktumu, terimakasih sudah mau membagi ruang di dalam kamu untuk aku tinggali.

Friday, September 14, 2012

Kamu dan Tentang Rasa Sayang Itu

"Zodiakmu apa?"

"Gemini. Kamu apa?"

"Libra. Timbangan. Kalau aku menaruh bumi dan segala isinya di satu sisi timbangan, dan menaruh rasa sayangku di sisi timbangan lain, aku rasa akan tetap lebih berat timbangan yang isinya rasa sayangku ke kamu."

"Gombal."

"Gak percaya? Tapi memang begitu. Aku sayang sama kamu."

"Aku juga."

"Kenapa kamu sayang sama aku?"
***

Kamu selalu menanyakan hal yang sama ketika kita bertemu, "Kenapa kamu menyayangi aku?". Dan aku selalu tidak punya jawaban. Aku memang tidak tahu kenapa. Mencintai kamu tidak perlu alasan, aku rasa. Karena jika alasan itu hilang, cintaku juga ikut hilang bersamanya, begitu?

Aku mencintaimu begitu saja, semua terjadi begitu saja.

Jika aku bisa memilih, mungkin aku akan memilih untuk tidak jatuh cinta kepada kamu, karena aku punya potensi untuk mencintaimu terus-menerus, dan aku tidak tahu bagaimana cara menghentikannya. Tapi sayangnya aku tidak bisa memilih. Kamu sudah membuatku terlanjur jatuh ke dalam lubang dan membuatku menikmati rasa sakit-rasa sakit yang ditimbulkan atas itu. Aku jadi malas merangkak keluar.

Konyol, ya? Memang. Kadang cinta itu tidak harus masuk akal, tidak harus logis.

Kamu mungkin benar, kamu sudah melakukan sulap sederhana terhadap aku. Sangat sederhana. Kamu bisa membuat aku jatuh cinta begitu saja tanpa melakukan banyak hal. Kamu pesulap yang handal.

*Hei, Gemini dan Libra itu cocok. Coba pikirkan. Libra punya dua sisi timbangan, Gemini punya dua sosok manusia. Aku rasa itu cocok. Kita cocok.

Monday, August 20, 2012

Entah

Lebih memilih mencintai duluan atau dicintai duluan dalam sebuah hubungan?

Aku tidak memilih keduanya. Kalau kita berpikir, dalam kasus dicintai duluan, kita bisa pelan-pelan belajar mencintai orang yang mencintai kita duluan. Salah. Bisa saja salah.

Kita bisa saja berkata, memperkirakan, mencoba mencintai orang yang kita rasa tepat dijatuhi cinta kita. Tapi perasaan siapa yang tahu? Siapa yang bisa menjamin kita bisa mencintai orang tersebut dengan layak? Apalagi ketika kita masih menyimpan seseorang di hati rapat-rapat. Lebih baik, urungkan saja. Daripada kita menjalani sebuah hubungan yang berat sebelah, pasangan sudah mencintai kita secara jauh, kita masih berusaha mencintainya, tidak tahu sampai kapan, tidak tahu kapan cinta kita akan berpegangan erat dengan cintanya.

Pada akhirnya kita akan merasa hambar, sadar bahwa yang kita cari tidak ada dalam dirinya. Bahwa berusaha mencintainya dengan cara apapun tidak akan berhasil. Kita tidak akan bisa berlama-lama berpura-pura.

Dalam kasus kedua, mencintai duluan, juga sama. Kita tidak bisa memaksanya jatuh cinta pada kita. Hatinya, hati kita, akan memilih ingin jatuh di mana.

Jika boleh memilih, aku akan memilih memintal sebuah hubungan dengan seseorang yang jatuh cinta padaku, dan aku cintai.

Kapan?

Entah.

Mungkin esok. Mungkin lusa. Mungkin tahun depan. Mungkin dua tahun lagi.

Monday, June 4, 2012

34 Post Cards for 20 Years Old

#bahagia itu adalah ketika kita bisa berbagi sedikit saja kebahagiaan kita dengan orang lain

Kebahagiaan di hari ulang tahunku kemarin pengin aku bagi ke teman-teman. Tiba-tiba saja kepikiran untuk membuat post card dan dibagikan secara cuma-cuma kepada teman-teman yang mau.

Ketika menawarkan kartu post lewat twitter, ternyata banyak sekali mention yang masuk. Gak nyangka masih banyak yang mau dikirim post card. Gak tanggung-tanggung, 34 teman yang mau dikirim post card. 31 di Indonesia dan 1-nya dikirim ke Singapore. Aaaaaak. :D

Setelah post card selesai di print, mulai deh menulisnya satu-satu dengan tangan sendiri. Pegel? Jelas. Tapi rasanya senaaaaaang banget. :">






Berangkat dengan perangko 1500-an, kartu pos ini siap membuat kalian yang menerimanya akan senyum-senyum sendiri. *oke lebay*

Hei, i'm 20!

Iya, tanggal 2 Juni kemarin, aku udah genap 20 tahun. Cukup tua untuk badan sekecil ini. Hahaha :D

Tanggal 2 jam 12 malam lewat sedikit, Iby kasih kejutan. Sebenarnya bukan kejutan karena aku gak terkejut hahaha. Tapi cukup terharu kok, By. :')

Tapi tolong ya, kalau kasih kejutan mbok ya bilang-bilang, jadi aku bisa dandan dulu, masa di foto pakai baby doll gini... -_____-"





Dan buat mas pacarku tersayang, thanks buat surprise-nya yang benar-benar bikin aku terkejut. Dan terimakasih juga untuk dua teman kecilku yang baru. ;)





Tuesday, March 13, 2012

Buku dan Kartu untuk Adik-adik di Bagian Timur

Beberapa minggu yang lalu, di tawarin mas @pramoeaga dan ka @falafu untuk ikut serta dalam projectnya @lebahbooks : #SatuBukuSatuSaudara, yaitu menyumbang buku untuk adik-adik di bagian Timur Indonesia. Tanpa pikir panjang, langsung meng-iya-kan.

Nah uniknya, setiap buku yang mau kita sumbang, kita harus menyertakan surat, notes, or something like that untuk adik-adik yang mendapatkan buku dari kita. Nanti, adik-adik akan membalas surat kita. Seru, kan? Jadi melalui satu buku, tercipta persaudaraan antara pemberi dan penerima. Itulah kenapa namanya #SatuBukuSatuSaudara :)

Untuk buku yang aku sumbangin, aku menyertakan kartu ucapan yang aku bikin sendiri loh! Tadinya mau bikin pop up, tapi bingung mau gimana, akhirnya bikin pop up yang sangat simpel saja. Tapi gak tahu deh ini bisa disebut pop up atau bukan hihihi. :p

Pyur gambar sendiri, ngeprint sendiri dan gunting-tempel sendiri. :)





Dan ini buku buat adik-adik yang akan aku sumbangin

Untuk yang di wilayah Jogja bisa mengumpulkan bukunya ke mas @pramoeaga, atau untuk info selengkapnya buka di web resminya di sini ya! Kesempatan dibuka sampai 30 Maret 2012 :D

Tuesday, January 17, 2012

Waktu Cepat Berlalu, Bahkan Aku Tidak Menyadarinya

Rasanya baru kemarin merengek minta belikan meja belajar warna-warni dengan dalih agar semangat belajar dan merengek minta belikan lemarinya juga agar serasi dengan meja belajarnya. Rasanya baru kemarin aku minta izin Mama Papa untuk melukis dinding kamar menggunakan cat air lima ribuan yang dibeli di warung fotokopian. Rasanya baru kemari menangis disudut kamar karena berantem sama Mama. Rasanya baru kemarin.



Semakin bertambah umur, kamar ini terasa semakin sempit. Mama pernah menawarkan untuk membesarkan kamar ini, tapi aku menolak. Biar saja seperti ini, toh hanya ditinggali setiap enam bulan sekali saja.

Setiap kali pulang, selalu saja melihat-lihat isi kamar dulu. Membuka lemari-lemarinya, buku-bukunya, dan boneka-bonekanya. Kadang tersenyum geli membaca diary-diary zaman sekolah dulu. Alaynya masa itu hahaha. Kadang mama sampai kesal, baru sampai rumah bukannya istirahat malah buka-buka lemari, katanya. Senang saja, bersentuhan dengan barang-barang lama, rasanya seperti kembali ke masa-masa dulu.

Gak kerasa aja, sekarang sudah kuliah, sudah besar. Waktu benar-benar cepat berlalu dan aku banyak melewatkannya begitu saja...



NB: Menemukan celengan berisi uang-uang koin. Entah sudah berapa lama uang-uang ini ada di celengan. Mungkin sejak aku SMP, atau SMA. Iseng menghitung jumlahnya ternyata sudah 43 ribu rupiah. Bisa dipakai untuk membeli es krim, tentunya. :)


Friday, January 6, 2012

Sudah Cukup, Sudahi Saja.

"Aku bukan angsa cantik dengan bulu putih mulus dan bersih, Inilah aku, anak bebek dengan bercak lumpur di sana sini."

Sudah cukup, sudahi saja, mungkin itu kata yang tepat untuk saat ini, atau mungkin untuk seterusnya. Aku hanya tidak ingin terluka lebih banyak lagi, tidak ingin terjatuh lebih dalam lagi.

Pernah aku jatuh cinta pada seorang pria, sangat jatuh cinta. Jatuh cinta yang begitu dalam. Aku menggantungkan banyak harapan padanya, hingga suatu hari ia mengecewakanku. Mematahkan harapanku berkeping-keping. Bukan lagi mematahkannya, aku rasa. Ia menghancurkannya.
Ia, pria yang aku sayangi dan mengaku menyayangiku itu kemudian memilih orang lain untuk menjadi wanitanya. Lalu aku, ditinggalkan begitu saja.

Luka yang ia tinggalkan begitu dalam, aku berusaha mengobatinya perlahan dan mencoba menyatukan kepingan-kepingan harapan yang remuk tadi, menempelnya satu demi satu dan memastikan tidak ada bagian yang hilang.
-------

Siapa yang ingin, luka mereka digoresi luka baru di tempat yang sama dengan "pisau" yang berbeda? Aku rasa tidak ada.

Aku hanya tidak ingin seperti dulu, terpuruk jatuh, terperangkap di dalam luka yang paling dalam dan sulit untuk merangkak keluar.

Pernah kamu mengatakan, "Hei, jangan menyerah", tapi kau seolah membuatku lelah dan ingin menyerah. Membuatku ingin pergi dengan sendirinya tanpa perlu repot-repot kauusir.
Maka, di sinilah aku. Jauh-jauh darimu, mencoba menjaga agar jarakku dan kamu seperti ini saja, agar aku tidak menjadi lebih terluka.

Dengan siapa pun atau bagaimana pun kamu nanti, aku akan (mencoba) bahagia.
Tentu saja, orang yang mengatakan akan turut bahagia bila orang yang ia sayangi memilih orang lain, itu hanya di mulut saja. Pada kenyataannya, rasa sakit itu tetap ada.

Monday, December 12, 2011

Kira-kira Suasana Hati Sedang Seperti Ini


Kusut
Semerawut
Acak adut
Ada yang mau nambahin?

Kalau bisa disisir sih udah dari kemarin-kemarin disisirin biar gak kusut lagi.
Sayangnya gak bisa ya... Hehehe. :)

Saturday, December 10, 2011

Sedikit cerita di hari ini

Seminggu yang lalu, mas Endro (senior DKV) minta cariin teman yang mau jadi relawan buat ngajar gambar anak-anak penderita kanker di salah satu RS di Jogja. Tanpa pikir panjang, aku langsung ngajuin diri aja.

Tutor gambar udah dimulai dari minggu lalu setiap hari sabtu. Minggu kemarin belum punya materi apa-apa jadi aku sama Iby nyuruh mereka gambar bebas aja trus diwarnain, ternyata semuanya sama, mereka pada gambar pemandangan hahaha yasudahlah, namanya juga permulaan. Tapi sayang sekali, minggu kemarin yang datang ke ruang bermain hanya 3 anak, yang lainnya sedang istirahat. :(

Nah, minggu ini kami sudah menyiapkan materi untuk ngajarin mereka mewarna dengan cat air. Di sana ternyata sudah menyiapkan cat air dan kuas, jadi dari kos kami cuma bawa print-print-an gambar hasil trace tadi malam.

Sampai di sana ternyata anak-anaknya sudah menunggu, rupanya mereka udah gak sabar buat belajar mewarnai. Ada 5 anak yang sudah menunggu, lebih banyak dari minggu kemarin.

"Mbak kok baru dateng? Kami sudah nunggu dari tadi." kata salah satu dari mereka. Senang rasanya ngelihat mereka antusias. :') Aku minta maaf terlambat karena harus ngeprint gambar dulu. Terus aku Iby dan mbak Anisa (relawan yang jaga di sana) nyiapin meja-meja dan alat bahan buat mereka.

Alhamdulillah mereka senang, mereka gak puas hanya ngewarnain satu gambar aja, mereka minta gambar lagi untungnya gambar yang aku bawa pas hihihi.

Ini dia beberapa hasil mereka mewarnai dengan cat air:



Ada beberapa yang gak begitu rapi, memang. Soalnya ada yang mewarna dengan tangan kiri (padahal mereka tidak kidal) karena tangan kanannya diinfus, ada yang masih bisa pakai tangan kanan tapi gemetar. Tapi gak apa-apa, menurutku, ini sudah bagus. :)

Well, sebenarnya bukan hanya mereka yang belajar dari aku dan Iby, tapi aku juga belajar dari mereka. Belajar tabah menghadapi apa yang mereka derita sekarang, belajar tetap tersenyum dan riang walau mereka harus dibelit infus dan dicekoki obat-obat yang membuat rambut mereka rontok perlahan. Aku salut sama mereka, dengan umur sekecil itu, mereka kuat.

Berada di tengah-tengah mereka ngebuat aku nyalahin diri sendiri kalau suka ngeluh sama tulang belakang yang sering kumat seseknya, ngebuat aku benar-benar ngebuka mata kalau yang selama ini Allah kasih buat aku itu lebih dari cukup. Aku lebih beruntung dari mereka, gak sepantasnya sering ngeluh. Allah memang selalu tahu bagaimana caranya bikin aku bersyukur. :')

Segitu dulu cerita hari ini, mungkin minggu-minggu berikutnya bersama mereka akan menjadi hari yang menyenangkan. Sampai jumpa di postingan selanjutnya. :)

Saturday, December 3, 2011

Halo teman baru

Hai, kenalkan, ini teman baruku.
Tadinya pesen di Online Shop Fisheye 2, tapi yang dikirim malah Fisheye 1
kecewa, sedih.
Tapi ya sudahlah, mungkin belum rejeki.
Mungkin suatu hari nanti bisa beli Fisheye 2 kalau sudah punya uang lagi.



Semoga kami bisa berteman baik.
Salam. :)

Tuesday, November 1, 2011

Back to Normal

Kadang-kadang kesembuhan datang bukan dari obat-obatan yang kita minum selama di rumah sakit, tapi support-support dari teman-teman dan doa-doa dari orang tua dan teman-teman kita.

Selama satu minggu di rumah sakit bener-bener bikin bete setengah mampus. Tapi yang bikin seneng adalah tiap hari ada aja yang dateng jenguk. Gak temen sekelas, temen komunitas, temennya mamah, sodara dan lain-lain.

Yang jelas ogah lagi nginep di rumah sakit, ogah lagi diinfus, disuntik anti biotik sana-sini. >.<

Well, kata terakhir dari postingan ini adalah, "Sehat itu murah, sakit itu mahal."

Bentuk support dari teman-teman.
Beberapanya gak sempat difoto :(


Wednesday, October 26, 2011

Get Well Soon, Asa


Yang namanya penyakit datengnya emang gak permisi.
Kemaren pagi masih bisa naik motor sampe Godean, siangnya tiba-tiba perut sakit banget.
Karena saking paniknya, Iby langsung nganter ke rumah sakit dan aku langsung di opname.
Mamah yang kebetulan lagi tugas di Jakarta langsung ngambil penerbangan sorenya ke Jogja.

Thanks to Iby yang udah repot banget ngurusin aku sebelum mamah dateng. Thanks God, I have a good friend. :')

Sunday, September 25, 2011

Pacar, mana pacar?

"Kamu ndak pengen punya pacar po, Sa?" Tanya Iby kemarin malem. Aku cuma bales senyum-senyum doang.

Well, siapa yang gak mau punya pacar kalau lagi diposisi aku gini? I mean, sekarang lagi jauh sama orang tua, hidup nge-kos "sendirian". Di sekeliling kita, orang-orang pada pacaran. Kita kayak semut kecil di tengah-tengah kecoak. *analogi ngasal*

Ngerasa sepi sering banget. Juga masih sering ngerasa homesick. Semester awal ketika masih punya seseorang yang disebut pacar, gak ngerasa sesepi ini--ya walaupun LDR--tetap masih komunikasi dan berbagi cerita kapanpun, di manapun.

In my opinion, punya pacar itu bukan masalah mau atau enggak, bukan masalah laku atau enggak. Tapi masalah srek dan cocok atau enggak.

Beberapa waktu yang lalu banyak cowok-cowok yang seliweran di kehidupan aku *cailah* tapi buat memutuskan mereka jadi pacar itu gak segampang ngupil. Banyak hal yang harus dipikirkan matang-matang. Gak bisa seenaknya.
Bukannya pilih-pilih, kalau satu pihak ngerasa cocok tapi pihak yang lain enggak, buat apa dipaksakan untuk menjalin suatu hubungan? Nanti jadinya malah berantakan. Ya gak? Ya gak? *Yaelah Asa tumben ngomongnya seriusan* :P

Yaudah sih gitu aja, cuma mau menumpahkan isi hati *halah*
Kalau gak di blog di mana lagi, ya gak? :P

Akhir kata di postingan kali ini adalah:
Jadiiiiiii.... Yang namanya jomblo itu pilihan, bukan kutukan. Sekian dan terima mas ganteng. #eh

Sunday, February 7, 2010

Perut Buncit dan Hidung Merah

Mamah bilang semua anak kecil suka dia. Dia lucu, dia menghibur dan dia menyenangkan. Tapi enggak buat aku. Wajah cemong-cemongnya sangat menyedihkan, baju dengan warna tabrak larinya juga gak keren, ditambah lagi perutnya yang buncit, mulut lebar dan hidung merahnya membuat aku semakin membenci laki-laki itu.

Aku nggak tau jelas kenapa aku nggak menyukai dia dan bahkan bisa lari terbirit-birit ketika bertemu dengan sosoknya. Dia juga pernah membuat mukaku pucat pasi dan hampir pingsan ketika dia menyalamiku beberapa tahun yang lalu. Dia juga pernah membuat aku menangis kejer ketika aku masih berumur 6 tahun.

Aku nggak ngerti apa yang salah denganku, kenapa aku harus takut dengan sosoknya sementara teman-teman TK-ku selalu antusias ketika dia datang, mengerumininya, dan membuat antrian untuk foto bersamanya. Dan ketika saat itu datang, aku berdiri di pojok kelas dan meremas lengan guruku dengan kencang. Bahkan sampai sekarang aku selalu berteriak dan lari ketika dia menghampiriku.



Seberapa pun tampannya wajah aslinya, badut tetap menakutkan buat aku.

Wednesday, December 23, 2009

Happy Mother Day :)

Hello readers! Apa kabar? :D
Photobucket
Berhubung hari ini hari ibu, aku mau ngucapin hari selamat hari ibu buat semua ibu yang ada di seluruh dunia!

Gak ada yang spesial hari ini, aku gak kasih mamah kado apa-apa. Kalo kasih barang kayaknya gak ada artinya deh buat mamah.
Ya gak?

Aku cuma bisa (lagi-lagi) kasih coretan buat mamah.
Photobucket

Mamah makasih ya udah mau ngandung aku selama 9 bulan, mau perutnya aku tendang-tendang.
Mamah makasih ya udah mau berjuang melahhirkan aku, mempertaruhkan nyawa untukku.
Mamah makasih ya udah mau bangun malam-malam karena tangisanku, mengganti popokku lalu menidurkan aku.
Mamah makasih ya udah mau menyusui aku.
Mamah makasih ya udah mendidik aku jadi seorang anak yang baik (paling tidak untuk dirik sendiri).
Mamah makasih ya udah mau dengerin keluhan2 aku tentang masalah apapun.
Mamah makasih ya udah sabar menghadapi aku ketika aku marah-marah.
Mamah makasih ya udah mendukung apapun yang aku jalankan, mensupport aku.
Mamah makasih ya udah sering kasih saran ketika aku bingung menentukan pilihan.
Mamah makasih ya udah mengijinkan aku punya teman dekat yang disebut pacar.
Mamah makasih ya, makasih banyak buat semuaaaaaanyaaaaaaaa.

walaupun aku sering bikin mamah marah, tapi percaya satu hal, aku sayang banget sama mamah dan gak bakal bisa hidup tanpa seorang mamah :)
Photobucket

Friday, September 4, 2009

Buat Hidup jadi Lebih Berguna

Kata mamah, hidup itu buka cuma buat diri sendiri, tapi juga buat orang lain. Nah pertanyaannya adalah, apakah hidupku sudah berguna untuk orang lain? Dan jawabannya belum.

Aku pernah baca di buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, di sana ada seseorang yg bilang, "hiduplah untuk memberi sebanyak2nya, bukan menerima sebanyak2nya"
sure, aku setuju banget.

Selama hidup, aku sering banget ketemu orang2 yang bosen hidup. Gak tau kenapa. Dan rata2 alasan mereka adalah, "buat apa aku hidup lagi kalo cuma bisa nyusahin, gak ada gunanya"
itu adalah alasan paling bodoh terbodoh yang pernah aku denger.

Hei kita ini masih muda kawan! Kenapa mereka berfikir sependek itu? Aku malah pengen hidup lebih dan jauh lebih lama lagi supaya bisa berguna buat orang lain. Supaya nanti, ketika aku meninggal, yang orang2 kenang adalah kebaikanku. Aku gak mau kalo badanku cuma ketumpuk tanah, ditinggalkan dan dilupakan. Dan gak ada cerita tentang aku setelahnya.

Ada juga diantara mereka yang bilang, "aku gak pernah menemukan kebahagiaan". Menurutku, mereka bukan gak menemukan kebahagiaan, tapi mereka mencari kebahagiaan di tempat yang salah. Mereka bilang, hidup menjadi aku lebih kelihatannya lebih bahagia.

Sebenernya, hidup sebagai seorang Asa gak selalu bahagia, aku termasuk orang-yang-sering-kurang-beruntung. Aku gak bohong loh, banyak banget ke-enggak-beruntungan aku itu.
Dan aku berusaha untuk menerimanya.

Aku pengen banget, orang2 disekitarku, yang pengen mati, yang menganggap hidupnya gak berguna, lakukan apapun yang bisa membuat hidup kalian berguna! Jangan cuma bisa mengeluh, dan duduk manis menunggu kebahagiaan menghampiri.
Justru sikap itu yang ngebuat hidup kalian gak berguna (sok bijak).

Thursday, August 27, 2009

Masa Kecil yang Mulai Hilang

Kalau diingat-ingat, masa kecil adalah masa yg paling indah. Masa dimana kita gak malu buat ngompol di celana dan gak dimarahin. Masa dimana kita gak malu buat nangis sekenceng2nya. Masa di mana kita bisa kelahi sambil guling2 di pasir (kalo sekarang masih kaya gitu bisa dikira orang gila. Masa dimana kita bisa keluar rumah gak pake baju. Masa dimana kita menghabiskan waktu dengan bermain, bermain dan bermain.

Banyak banget hal yang hilang disaat kita menuju kedewasaan. Contohnya, anak kecil gak perlu repot mikirin masalah cinta, patah hati, peer sekolah, kerjaan rumah. Dan dulu, pasti kita masih sering nanya sama orang tua kita,
"mah, kok mamah satu rumah sama papah ?"
"mah, kok burung itu bisa terbang ?"
"mah, ko kperut tante besar kaya mau meledak ?"
"mah, cinta itu apa?"
"mah, kenapa kita harus sekolah ?"
Dan masih banyak lagi.

Hal hal yang seperti itu yang sudah mulai hilang perlahan-lahan.

Kadang aku kangen, pengen balik ke masa kecil. Pengen balik jadi orang yang seolah-olah gak berdosa ketika melakukan a little with lie. Sekarang semua urusan bikin pusing dan repot. Masalah cinta, uang, urusan sekolah, urusan teman, keluarga dan hal-hal lainnya.

Gak sedikit juga yang jadi stress, depresi dan mau bunuh diri. Coba aja hal hal bodoh dan memalukan di masa kecil masih dianggap sesuatu yg lazim, mungkin gak bakal ada orang yg stress atau depresi atau bahkan bisa jadi gila.

Daaan aku sangat-sangat merindukan masa2 itu...

Saturday, July 18, 2009

Ada sesuatu yang hilang

17 Juli 2009
Nggak banyak yang aku perhatiin dari kejadian barusan. Yang aku inget, tadi keadaan rumah sepiii banget, mungkin lagi ikut berpartisipasi ke dalam perasaanku sekarang (apaan sih nggak jelas banget deh).

Oke to the point. Aku baru aja putus sama dia. Sedih sih rasanya, tapi gimanapun juga aku tetap harus ambil keputusan, aku nggak bisa terus diem dan ngerasa tertekan kalo terus bareng dia.

Ada sesuatu yang hilang di antara kami, aku nggak tau apa. Tapi kami bukan kami yang dulu lagi, kami udah beda. Yah walaupun dari awal kami emang nggak pernah sama dan selama ini ngerasa sama, tapi aku ngerasa kalo banyak hal yang hilang di antara kami.

Dulu, dia nggak secuek sekarang. Sekarang dia lebih banyak diemin aku dan minta diperhatiin. Oke aku ngerti, tapi nggak selamanya aku bisa ada untuk dia, aku juga punya hal yang harus dikerjain.

Aku ngerasa aja, semakin ke sini, dia semakin keliatan kayak anak kecil. Doyan ngambek, minta diperhatiin, padahal dulu enggak. Mungkin ini yang hilang. Enggak, aku gak nyalahin dia, bahkan mungkin aku yang salah.

Beberapa minggu yang lalu, dia ngomong ke aku, "Beb, bintang yang kamu kasih ke aku udah mulai rontok tuh."
Jadi aku pernah ngasih dia bintang-bintangan, itu loh tempelan glow in the dark (menyala dalam gelap) yang ditempel di langit-langit kamar. Jadi kalo mati lampu, kita serasa liat bintang beneran. Mungkin bintang yang rontok itu sama kayak perasaan aku ke dia. Aku nggak bilang kalo aku udah nggak sayang dia lagi, tapi seolah2 rasa itu perlahan hilang, berkurang dan mulai rontok.

Aku juga ngerasa kalo kami sama-sama nggak siap menjalin suatu hubungan. Aku masih sering nggak ngerti jalan pemikiran dia, aku masih sering kesel waktu dia bisa bercanda lepas sama temennya, sedangkan sama aku selalu serius. Dia juga pernah bilang waktu aku tanya begini,
"Kenapa sih nggak pernah ngapel kerumah ?" Dia jawab, dia belum siap ketemu Mamah Papah . Selama 7 bulan ngejalanin hubungan ini, aku sabar nunggu dia sampai siap buat ke rumah, tapi ternyata nggak ada kemajuan. Intinya dia belum benar-benar siap untuk jadi pacarku.

Aku nggak mau berlarut2 sedih sama keputusan sendiri, aku pasti bisa kuat dan bertahan (cailah bahasanya). Semoga suatu saat dia bisa ngerti gimana perasaan aku selama ini. Dan semoga juga suatu saat dia bisa dapet cewek dan pacaran dengan cara dia, tapi jelas bukan aku.






NB : tadi pagi aku baru aja ngambil piala . Jadi ceritanya aku juara tiga lomba Olimpiade Sains Nasional bidang komputer tingkat kota.
Ini dia pialanya :



Dan ini, orang2 yang pengen ikut beken hhehehe :