Selamat berpuasa buat teman-teman yang menjalankannya juga yaaa.
Kali ini aku mau bagi cerita mengenai Spinecor dan perkembangan terbaru tentang skoliosisku.
Aku divonis (gila, serem amat bahasanya) kena skoliosis di umur 14 tahun kurvaku saat itu yang atas 47 derajat, yang bawah 27 derajat. Saat itu dokter ortopedi yang menangani aku, menyarankan untuk operasi, tentunya dengan berbagai macam resiko yang harus ditanggung, juga biaya yang tidak sedikit. Mendengar itu, mamah dan papah gak langsung setuju, mereka mencari alternatif lain dengan searching sana sini. Akhirnya menemukan alternatif dengan menggunakan brace, tepatnya hard brace karena bahan braceku waktu itu keras banget, bahannya dari mika setebal satu senti, memasangnya pun harus dibantu papah karena gak bisa pasang sendiri. Hard brace itu aku pakai setiap hari, cuma dilepas sesekali ketika tidur kalau memang benar-benar capek dan pada saat mandi, selebihnya dipakai. Karena sudah benar-benar gak tahan, aku memutuskan untuk gak pakai brace lagi setelah 6 bulan pemakaian. Siapa yang tahan kalau setiap hari harus jadi robot yang gak bisa gerak sebebasnya, jangankan jongkok atau lari, mengikat sepatu sendiri saja gak bisa. Belum lagi perasaan kesal karena diperlakukan seperti selayaknya orang sakit keras, gak di sekolah, gak di tempat latihan Marching Band. (Iya, aku tetap aktif di Marching Band selama memakai brace). Oh iya, aku juga mengalami alergi berat di kulit bagian pinggang karena tergesek-gesek permukaan brace. Menggaruk punggung yang gatal juga gak bisa. Kalau ada yang tanya masa-masa tersulit dalam hidupku ada di masa 6 bulan saat memakai brace. Gak mau lagi hehehehe.
Lalu setelah hard brace dilepas, mamah menemukan alternatif lain untuk penanganan skoliosis: Canadian Chiropractic, dan itu hanya ada di Jakarta. Dan akhirnya, kelas 1 SMA aku pindah ke Jakarta karena terapinya harus dilakukan setiap hari. Terapi ini gak murah, satu kali datang 600.000 waktu itu, pokoknya, mamah dan papah menghabiskan puluhan juta untuk biaya terapi, tempat tinggal dan lain-lain selama di Jakarta.
Selama 6 bulan mengikuti Chiropractic, aku pulang ke Banjarmasin, selama bertahun-tahun setelahnya, aku gak pernah melakukan terapi apapun untuk skoliosis. Kurvaku? Entahlah, kami memutuskan untuk gak mengukurnya karena apapun yang terjadi, yang penting aku sudah merasa jauh lebih baik.
Kuliah di Jogja membuat mamah kembali mencari alternatif terapi lain karena tempat terapiku dulu, Canadian Chirpractic sudah tidak buka praktek lagi. Di Jakarta juga, mama menemukan another Chiropractic tapi kali ini dari China. Efeknya sama seperti sebelumnya, membuat badan nyaman dan gak sesak nafas lagi. Tapi bedanya dengan Canadian Chiropractic, Chinese Chiropractic tidak menggunakan alat, tapi menggunakan tangan dokternya. Jadi kayak semacam massage gitu. Chinese Chiropractic lebih murah, sekali datang hanya 300.000. Waktu itu juga ambil paket satu bulan, jadi jatuhnya tidak terlalu mahal. Dua tahun berturut-turut selama sebulan aku rutin terapi di Chinese Chiropractic ini.
Suatu hari aku dapat info mengenai Yoga khusus skoliosis di Jogja, senangnya bukan main, aku jadi gak perlu bolak-balik Jakarta-Jogja untuk terapi lagi. Cukup satu kali seminggu datang ke kelas yoga skoliosis sudah sangat membantu untuk kenyamanan punggungku. Sekali datang di kelas yoga ini butuh biaya 100.000. Hanya satu kali seminggu pada hari sabtu. Walau jaraknya sangat jauh dari rumah (butuh 45 menit naik motor) tapi aku tetap bela-belain ke sana. Meski kadang-kadang malas dan jadi dimarahi sama Dipa hehehe. Dipa yang selalu antar aku untuk yoga setiap sabtu ini. Oh iya sebelum mengikuti kelas yoga ini, instruktur yogaku minta untuk x-ray dulu biar tahu kondisi tulangku. Saat itu kurva yang atas 42 derajat dan yang bawah 39 derajat. Gak banyak berubah dari 8 tahun yang lalu (terakhir kali aku x-ray). Waw, ini termasuk berita baik karena selama 8 tahun, kurva skoliosisku tidak bertambah drastis! :D
Nah, setelah bercerita panjang lebar mengenai perjalanan aku dan skoliosis, sekarang mau cerita soal Spinecor. Ini dia kabar baiknya! Apa itu Spinecor? Hayo apa hayooo... :p
Aku suka ngikutin blog ka Indi Sugar, kebetulan juga beberapa kali komunikasi sama dia via email. Dari postingan blog dia, aku tahu kalau di Indonesia (Uhm, dan di dunia ini) sudah ditemukan soft brace bernama Spinecor. Eh, bukan Indonesia yang bikin soft brace ini, tapi di UK. Well, singkat cerita, mamah yang kebetulan lagi dinas di Jakarta, survei lokasi Back Up Clinic (tempat pasang Spinecor) besoknya, aku menyusul mama dari Jogja langsung ke Jakarta.
Hari pertama, ketemu dokter Anthony Fong, asalnya dari Australia, dan pertemuan pertama dia gak berhenti ngucapin permintaan maaf karena praktek pakai celana pendek dengan atasan batik (dia minta maaf karena mengenakan celana pendek hihi).
Kata dr. Anthony, dari semua pasiennya yang kurvanya lebih dari 40 derajat, hanya aku yang responnya sangat tinggi ketika diketuk lutut, sikut dan pergelangan tangannya. Dr. Anthony bilang kalau orang yang kurvanya lebih dari 40 derajat biasanya sudah sangat tidak sensitif terhadap pukulan, getaran dan lain-lain. Dia bilang, kasus skoliosisku sangat unik. Hahaha.
Setelah bertemu dokter Anthony, malam harinya aku harus x-ray karena dr. Anthony perlu kurva skoliosisku yang sangat terbaru. Dari Central Park, kami meluncur ke rumak sakit Pantai Indah Kapuk.
Besoknya, dr. Anthony sudah bisa mengukur kurva terbaru skoliosisku. Tebak berapa kurvaku sekarang? Yang atas 73 derajat, yang bawah 58 derajat. Parah ya? Ah, enggak juga, aku masih bisa nafas dengan cukup baik cuma kadang-kadang ngerasa pegalnya semakin parah aja hehehe.
Aku sadar selama ini masih bandel untuk jaga posisi. Apalagi setelah punya toko, udah gak terlalu mikir tentang skoliosis, asik ngerjain pesenan orang, menggambar, melukis saking asyiknya sudah gak perduli posisi badan kayak gimana. Hasilnya? Ya gini, kayak ditampar bolak-balik. Hehehe.
Setelah mengukur kurvaku, dr. Anthony mulai mengukur Spinecor biar pas di badanku. Pssst, dr. Anthony terlihat kayak penjahit karena bawa gunting dan meteran. :p
Singkat cerita, Spinecornya jadi dan dipasang di badan. Rasanya? Agak nyesek karena perutku gendut! Hahaha. Tapi overall, jauh lebih nyaman dibanding hard brace.
Selama sehari pakai Spinecor, badanku masih menyesuaikan diri. Masih agak sesak karena belum terbiasa, tapi masih bisa jalan, jongkok, joget-joget. Kalau hard brace jangan harap bisa begitu. :p
Malamnya setelah Spinecor dipasang, aku harus x-ray lagi tapi kali ini x-ray dengan menggunakan Spinecor. Besoknya aku kembali ke Back Up Clinic di Central Park bertemu dr. Anthony untuk cek perkembangan kurvaku dengan membawa hasil x-ray terbaru. Dannnn, hasil mengejutkan lho teman-teman. Setelah satu hari pakai Spinecor, kurvaku yang atas awalnya 73 turun menjadi 65, dan yang bawah awalnya 58 turun menjadi 52 dan tinggiku bertambah 2 cm dalam waktu semalam. Amazing. "Wonderful, It's miracle!" kata dr. Anthony. Aku langsung kebayang kurvaku bakal kurang drastis kalau rajin pakai Spinecor ini. Hihihihi.
Spinecor ini gak dipakai setiap hari, hanya 2-3 kali satu minggu, sekali pemakaian 6-10 jam. Meski kata dr. Anthony boleh lebih dari itu kalau mau. :D
Aku dibalut Spinecor
Aku jadi gak merasa tertekan pakai Spinecor ini, bahannya elastis dan halus. Aku bahkan bisa pakai Spinecor ini saat blogging, menggambar, melukis bahkan saat menjahit! Asik kaaaaan.....
Tuh lihat aku bisa joget-joget waktu pakai Spinecor
Harga Spinecor ini memang gak murah. Harganya hampir sama dengan uang muka cicilan rumah tipe 36, bisa dipakai melunasi kontrakan toko Sampan Mimpi selama dua tahun, bisa dipakai modal beli alat sablon digital lengkap, bisa gaji pegawai sampai bertahun-tahun. Hehehe. Tapi dibandingkan dengan operasi, harga Spinecor ini jauh lebih murah dengan resiko yang gak ada sama sekali.
Kata mamah, kesehatanku jauh lebih penting. Beruntungnya aku punya kedua orang tua yang sangat care, yang alhamdulillah mampu membiayai semua pengobatanku selama ini yang gak murah. Semoga Allah melindungi mereka selalu.
Semoga postingan ini membantu memberikan informasi buat teman-teman yang sudah hopeless sama kurva yang terlalu besar. Kabar gembira ternyata gak cuma datang dari kulit manggis saja yaaaa.... Hehehe :p
Anyway, berhubung banyak banget email yang masuk ke aku dan tanya pertanyaan yang sama. Aku jawabin di video aja ya biar jelas. Semoga membantu :)



































