Showing posts with label skoliosis. Show all posts
Showing posts with label skoliosis. Show all posts

Wednesday, February 24, 2016

Answering Question About Spinecor

Hai teman-teman! Berhubung banyak banget yang email ke aku nanyain soal spinecor, aku jawab di video aja ya. Semoga membantu! Love, Asa.


tag : Skoliosis, spinecor, soft brace

Sunday, October 11, 2015

Perkembangan Pemakaian Spinecor

Hai teman-teman apa kabar? Setelah kurang lebih satu tahun menggunakan Spinecor, aku pengin share perkembangan penggunaan Spinecor. Banyaaaaaak sekali yang email aku menanyakan tentang Spinecor.

- Harganya berapa?
- Sekarang derajatnya udah turun berapa?
- Efektif gak?

Dan masih banyak yang lain. Kalian bisa tanya-tanya mengenai Spinecor ke email aku asalailyy@gmail.com atau kunjungi web www.spinebodycenter.com.

Aku mau bilang kalau aku sangat nyaman menggunakan Spinecor hingga hari ini, meski aku belum tau derajatnya sekarang sudah turun berapa, sepertinya aku belum boleh xray lagi karena sudah terlalu sering xray. Selama 9 tahun, aku sudah menjalani belasan pengobatan untuk skolisis seperti yang sudah aku ceritakan di sini. Sejauh ini, Spinecor -lah pengobatan terbaik yang pernah aku jalani.

Dulu sebelum menggunakan Spinecor, bahu kanan dan bahu kiriku gak seimbang, bahu kanan jauh lebih tinggi daripada bahu kiri, sekarang sudah sama rata. Dulu, aku sering banget ngilu-ngilu di berbagai sendi di badanku, setelah menggunakan Spinecor, hampir gak pernah lagi.

Memang, harga Spinecor tidaklah murah, banyak yang email aku dan sangat kaget mendengar harga Spinecor. Tapi kalau dibandingkan dengan operasi, harga Spinecor jauh jauh lebih murah dengan resiko yang sangat kecil.

Mungkin waktu pertama-tama menggunakan Spinecor tidaklah mudah, butuh waktu untuk membiasakan diri, tapi percayalah, Spinecor sangat nyaman karena tipis dan elastis mengikuti bentuk tubuh kita.

Aku menulis post ini bermaksud untuk membantu teman-teman sesama skolioser. Aku berharap teman-teman mendapat jawaban pengobatan skoliosis selain operasi. Aku pengen membagi pengalaman bahwa menggunakan Spinecor membuat aku merasa jauh lebih baik dan lebih produktif, karena enggak menghambat aktifitasku sehari-hari. :)

SKOLIOSIS

Apakah Skoliosis ? Apakah Skoliosis itu adalah postur tubuh yang buruk ? 

Skoliosis adalah kelainan pada tulang belakang. Ini adalah kondisi medis di mana tulang belakang seseorang memiliki penyimpangan tiga dimensi dan asimetri struktural. Meskipun ini adalah kondisi tiga dimensi yang kompleks, ketika sinar-X yang dilihat dari belakang, tulang belakang dapat menyerupai "S" atau "C" kurva. Seharusnya terlihat lurus. 

 



Etiologi Skoliosis: 

1. 80-85% dari skoliosis disebut sebagai idiopatik Skoliosis. Ini berarti bahwa penyebabnya atau asalnya tidak diketahui. 

2. Bawaan sejak lahir mengacu pada kelainan dalam pertumbuhan. 

3. Neuromuskular: saraf dan kondisi otot yang dapat menyebabkan Skoliosis

Apakah anak-anak Anda memiliki skoliosis? Anda dapat mengetahuinya dengan melakukan pemeriksaan cepat berikut ini: 

1. Postur asimetris. Pinggul miring, tinggi bahu 

tidak sama rata, garis batas pinggang tidak simetris. 

2. Minta anak Anda untuk menempatkan kedua tangan mereka kearah di depan mereka. Membungkuk ke depan dan posisikan genggaman tangan mareka di antara lutut mereka. Carilah tanda-tanda tonjolan pada tubuh bagian atas atau punggung bawah. 

3. Pernahkah postur anak Anda diperiksa oleh praktisi profesional. 

Jika tidak diobati: 
1. Lebih tinggi insiden untuk mengalami sakit punggung. 
2. Disfungsi fisiologis. 
3. Ketidakseimbangan otot.


Ada 2 jenis pengobatan untuk Scoliosis secara umum yaitu : 

1. Bedah dan Intervensi Non-Bedah. 

2. Perawatan Non-Bedahi termasuk latihan, rehabilitasi, menguatkan dan banyak teknik konservatif lainnya. 

Untuk anda ketahui bahwa sejak tahun 2007 (sesuai J. Paed. Ortho.) SpineCor® ditemukan sebagai pengobatan Non-Bedah yang paling efektif untuk skoliosis. Ini adalah penyangga yang dirancang untuk mengajarkan tubuh Anda kembali ke biomekanik normal. 
Untuk informasi lebih lanjut mengenai SpineCor® dan pengobatan skoliosis, anda dapat mengunjungi Spine Body Center melalui website www.spinebodycenter.com atau anda dapat menghubungi ke 021 2933 9295. Konsultan kami Dr. Anthony Fong tersedia untuk membantu anak Anda.

Monday, December 8, 2014

Skolioser Bisa Naik Gunung!


Tell me that I can't, and I will show you I can!

Skoliosis membuat segala sesuatu dijalani dengan cara berbeda dari orang normal. But, skoliosis will not define me, it will make me stronger.

Dulu, ketika masih ditangani oleh dokter Alex dari London, aku gak boleh mengikuti olah raga apapun kecuali renang. Lebih-lebih naik gunung.
Alasannya karena; satu, pendaki gunung identik dengan bawaan carrier yang besaaaaar banget, ngalah-ngalahin besar badanku. (Malah mungkin aku muat kalau masuk carrier hahaha!) Punggungku yang notabenenya bengkok, dilarang keras dibebani beban yang amat berat.
Alasan kedua, karena naik gunung menguras tenaga yang besar. Skolioser (khususnya kasusku) capek dikit bisa sesak nafas dan ngilu di sendi-sendi tertentu.

Nah, dua bulan lalu aku tanya sama dr. Fong mengenai niatku naik gunung. Dokter Fong bilang, its okay, aku boleh naik gunung asal Spinecore-ku masih dipakai, dan asal tidak terlalu memaksakan diri.
mendengar itu, aku langsung loncat-loncat gembira. Naik gunung adalah salah satu impian besar yang pernah aku punya. Kenapa? Entahlah, mungkin sudah darahnya, Papa dan Mama ketika masih pacaran dulu, suka naik gunung bareng. Nah loh, jangan salahin dong kalau anaknya juga pengin naik gunung! :p

Perkenalan dengan Embek, Tomi dan Fika membuat aku pengin ikutan naik gunung. Lebih-lebih ketika Embek bilang aku gak perlu bawa carrier waktu naik, biar barangku dibawa dia. Ah, jangankan bawa carrier, bawa botol air mineral saja mereka gak bolehin.

November tanggal 13 lalu, kami berangkat untuk mendaki gunung Merbabu (eciyeeeeeeeeee)
Berangkatlah kami dari Jogja dengan sebelumnya, Embek dan Tomi mengomel karena bawaan bajuku yang menurut mereka terlalu banyak (?) Iya, aku harus bawa lapisan baju untuk brace Spinecore juga. :p

Menuju basecamp Merbabu hari udah malam dan bintangnya banyaaaaaaak banget, aku sama Fika sempat tiduran di aspal sambil lihat bintang waktu nunggu Embek sama Tomi taruh carrier di basecamp.

Besok paginya, kami mulai mendaki. Deg-degan iya, takut nyusahin iya, pokoknya campur aduk deh. Dikit-dikit istirahat, dikit-dikit tarik nafas. Beruntung aku punya teman-teman yang baik, mereka yang udah biasa mendaki mengerti kondisiku beda dan harus sabar menghadapi aku.

Perjalanan naik, gelap karena cuacanya lagi mendung

Setelah lewat dari pos satu, aku merasa mual-mual dan pusing gak karuan. Mereka bilang itu biasa, itu mountain sickness, biasa dirasain sama orang yang pertama kali naik gunung. Lalu muntah-muntahlah aku. Habis itu diketawain sama Embek. Ini orang emang suka banget ngetawain aku. :(

Singkat cerita, sudah lewat pos dua, menuju pos tiga (tempat rencana kami nge-camp) mulai turun hujan, padahal jalannya nanjak dan liciiiiiin banget. Fika setia gandeng dan dorong aku dari belakang biar gak jatuh. Fika, kamu memang wanita tangguh. Pas udah dekat pos tiga, dari belakang, Fika ngomong, "Ayo Asa, dikit lagi, dikit lagi."

Sampai pos tiga kami gak mendapati dua teman yang janjian waktu dibawah, akhirnya kami bangun tenda sendiri dalam kondisi hujan deras dan kabut yang sangat dingin. Aku yang pake jaket aja merasa kaku gak karuan, udah diem aja gak bisa gerak. Fika, Tomi dan Embek yang gak pake jaket udah kuyub banget masih bisa pegang-pegang tenda buat dirakit. Dan di saat itu, Tomi masih bisa ketawa-ketawa dengan badan setengah menggigil. Dalam hatiku, "Ini Tomi sebenernya sehat gak sih?" Tapi mereka kuat banget. Aku salut. Gery pun salut.

Tenda selesai, tapi masalah belum selesai. Hujan yang gak kunjung berhenti itu membuat tenda kami kebanjiran (ini juga karena tendanya jelek dan bolong-bolong) tapi mau gak mau kami tetap harus masuk ke dalam tenda kalau masih mau bertahan hidup hahahaha. Akhirnya, masuklah kami ke dalam tenda. Karena sudut-sudut tenda sudah kebanjiran, kami berempat mepet dan jongkok di bagian tengah tenda sambil ketawa-ketawa. Iya jongkok, karena bawah tenda sudah basah, kalau kami duduk, pantat kami bakal ikut basah, sementara persediaan celana dalam gak banyak (kecuali aku). Ini adalah pertama kalinya, aku ada dalam kondisi yang serba terhimpit tapi masih bisa ngakak bareng-bareng, masih bisa menertawakan keadaan. Segalanya gak terasa berat, malah seru banget! Aku gak tahu, padahal kata Tomi, ini pengalaman pertama naik gunung buat aku yang mungkin aja bikin aku jera tapi nyatanya enggak :p (Mama gak boleh tahu bagian ini, dia pasti heboh kalau tau tenda anaknya kebanjiran :p)

Ini muka mereka yang sempat aku abadikan di saat-saat genting

Kami menertawakan keadaan kami waktu itu, hujan gak kunjung reda. Sampai tawa kami reda. Semua diam, capek, ngantuk dan tertidur dalam posisi jongkok. JONGKOK.

Hujan yang mulai dari jam 3 sore itu baru reda sekitar jam 7 malam. Bayangin dong kami jongkok dan mindah-mindah posisi itu berapa jam. :))
Sesaat setelah hujannya mulai reda, kami langsung beres-beresin dan ngeluarin air yang ada dalam tenda. Tomi sebagai abahnya anak-anak langsung ambil tindakan bikin parit di sekitar tenda dan benahi pasak yang kurang benar, memang abah yang baik. :D
Habis itu, aku dan Fika langsung ambil posisi dan tidur masuk dalam sleeping bed. Sedangkan Tomi dan Embek belum tidur. Mereka ngapain ya? Kayaknya sih ngeringin celana dalam yang basah sambil ngopi dan ngerokok. :p
Udara yang dingin gak bikin tidur kami gak nyenyak lho. Karena semuanya capek dan capek banget hihihihi. Bahkan ketika tengah malam sempat hujan lagi, semuanya gak ada yang bagun dan tetap melanjutkan tidur masing-masing. Meski aku sempat melek dan mikir, "Kalau banjir lagi gimana ya?" sesaat kemudian menimpali pertanyaan sendiri dengan, "Bodo ah, ngantuk." Lalu tidur lagi.

Paginya, aku bangun dengan keadaan kaki yang sedikit kaku dan pegal. Fika udah senyum-senyum aja di sebelah. "Udah pagi, ayo lihat sunrise!"

Selfie sambil lihat sunrise. Belum mandi, belum gosok gigi.

SEGEEEEEEEERRRRR!
Kapan lagi Asa bisa bangun pagi


Setelah puas sama sunrise, kami mulai bongkar-bongkar pakaian yang basah kemarin malam untuk dijemur dilanjutin sama masak bareng-bareng buat ngisi perut. :D

Spinecor sampe ke Merbabu :D



Setelah masak, kami ngelanjutin ngejemur semua peralatan yang basah akibat kena hujan. Termasuk badan kami :p


Kumpulan tenda yang dibangun di pos tiga :)

Sambil jemur badan, Embek dan Tomi nanya, "Mau ke puncak gak?" Aku langsung menggeleng cepat. Kakiku sudah pegal gak karuan, kalau ngotot sampai ke puncak, bisa-bisa saking pegelnya, pulangnya malah gelinding dari atas. :p
Akhirnya kami hanya menikmati pemandangan dan udara di sana. Senang banget rasanya, lihat sekeliling hijau, atas biru, udaranya seger.

Mamaaaaa, anakmu sampai gunung! :D


Sekitar jam dua belas siang, kami beberes ngelipat tenda dan lain-lain buat persiapan turun lagi. Awannya udah mulai gerak-gerak, langitnya mendung. Kabut dingin pelan-pelan mulai mendekat, AAAAAAA NEGARA API MENYERANG!!!!
Setelah semuanya siap dan ringkes, kami langsung jalan turun daaaaaan tes tes tes, air hujan mulai netes dikit-dikit. Jalanan licin banget jadi harus ekstra hati-hati.

Untung Tomi sebagai pemandu (((PEMANDU))) memberikan petunjuk bangaimana cara berjalan yang baik di kala tanahnya sedang licin, dan bagaimana cara memposisikan kaki untuk menahan beban badan kita agar tidak tergelincir. Wih, asik. Fika juga masih di belakang siap menarik kalau-kalau badanku gak seimbang (beberapa kali sempat hampir terjatuh karena aku goyah. Aku goyah mas, aku goyah.) Kalau Embek? Ya kadang-kadang ngetawain aku kalau pas nemu jalan gak turunan dan aku lari, katanya bentukanku dari belakang lucu karena jaketnya yang kegedean ini. Huh. Eh, tapi dia baik kok, dia bawain bajuku yang gak sedikit itu. Tuh, kamu aku puji lho, Mbek.

Dan ternyata hujannya labil, waktu udah jalan lumayan jauh, hujannya berhenti, ujan lagi, berhenti, ujan lagi. Uh pucing pala dedek jadinya.

Perjalanan pulang

Perjalanan turun gak memakan waktu selama perjalanan naik. Kira-kira dua jam kami sudah ada di pos satu, sudah dekat dengan basecamp (ya gak deket-deket banget sih).

Jam tiga-an kami akhirnya sampai di basecamp dan istirahat sebentar. Ngopi-ngopi dan tidur-tidur ayam sebentar. Teruuuuus kami langsung lanjut pulang ke Jogja. Ternyata perjalanan pulang pun hujan, tapi karena kami gak kelunturan kalau kena hujan, jadi ya ditrabas aja tanpa pakai jas hujan. Petarung jalanan kok.

Antara seneng karena udah berhasil naik dan turun dengan selamat meski gak sampai puncak, tapi sedih juga karena harus pulang, tapi mau gak mau harus pulang, banyak pekerjaan yang menunggu.

Kata Embek, habis pulang dari Merbabu harus tulis cerita di blog dan aku baru sempat nulis ini sekarang. Ini jadi pengalaman pertama yang menyenangkan banget karena isinya cuma ketawa-ketawa doang, gak ada ngambek-ngambek-an, gak ada rasan-rasan-an, semua baik, semua saling bantu, semua saling ngerti. Aku dapat pelajaran banyak dan dapat teman baru yang sangat sangat baik, yang gak ada jaim-jaimnya padahal belum kenal lama.

Aku skolioser dan aku bisa naik gunung. Meski mungkin aku bukan skolioser yang pertama kali naik gunung.
Makasih buat Embek yang udah percaya kalau aku bisa dan dengan spontan ngajak langsung naik Merbabu aja ketimbang ke gunung Purba. Kalau gak diajak gini, mungkin sampai hari ini aku cuma bisa 'pengin' naik gunung. :D :D :D

EKSTRAAAAAAA

Monday, July 21, 2014

Kabar Gembira untuk Skolioser!

Hey whats going on?
Selamat berpuasa buat teman-teman yang menjalankannya juga yaaa.
Kali ini aku mau bagi cerita mengenai Spinecor dan perkembangan terbaru tentang skoliosisku.

Aku divonis (gila, serem amat bahasanya) kena skoliosis di umur 14 tahun kurvaku saat itu yang atas 47 derajat, yang bawah 27 derajat. Saat itu dokter ortopedi yang menangani aku, menyarankan untuk operasi, tentunya dengan berbagai macam resiko yang harus ditanggung, juga biaya yang tidak sedikit. Mendengar itu, mamah dan papah gak langsung setuju, mereka mencari alternatif lain dengan searching sana sini. Akhirnya menemukan alternatif dengan menggunakan brace, tepatnya hard brace karena bahan braceku waktu itu keras banget, bahannya dari mika setebal satu senti, memasangnya pun harus dibantu papah karena gak bisa pasang sendiri. Hard brace itu aku pakai setiap hari, cuma dilepas sesekali ketika tidur kalau memang benar-benar capek dan pada saat mandi, selebihnya dipakai. Karena sudah benar-benar gak tahan, aku memutuskan untuk gak pakai brace lagi setelah 6 bulan pemakaian. Siapa yang tahan kalau setiap hari harus jadi robot yang gak bisa gerak sebebasnya, jangankan jongkok atau lari, mengikat sepatu sendiri saja gak bisa. Belum lagi perasaan kesal karena diperlakukan seperti selayaknya orang sakit keras, gak di sekolah, gak di tempat latihan Marching Band. (Iya, aku tetap aktif di Marching Band selama memakai brace). Oh iya, aku juga mengalami alergi berat di kulit bagian pinggang karena tergesek-gesek permukaan brace. Menggaruk punggung yang gatal juga gak bisa. Kalau ada yang tanya masa-masa tersulit dalam hidupku ada di masa 6 bulan saat memakai brace. Gak mau lagi hehehehe.

Lalu setelah hard brace dilepas,  mamah menemukan alternatif lain untuk penanganan skoliosis: Canadian Chiropractic, dan itu hanya ada di Jakarta. Dan akhirnya, kelas 1 SMA aku pindah ke Jakarta karena terapinya harus dilakukan setiap hari. Terapi ini gak murah, satu kali datang 600.000 waktu itu, pokoknya, mamah dan papah menghabiskan puluhan juta untuk biaya terapi, tempat tinggal dan lain-lain selama di Jakarta.
Selama 6 bulan mengikuti Chiropractic, aku pulang ke Banjarmasin, selama bertahun-tahun setelahnya, aku gak pernah melakukan terapi apapun untuk skoliosis. Kurvaku? Entahlah, kami memutuskan untuk gak mengukurnya karena apapun yang terjadi, yang penting aku sudah merasa jauh lebih baik.

Kuliah di Jogja membuat mamah kembali mencari alternatif terapi lain karena tempat terapiku dulu, Canadian Chirpractic sudah tidak buka praktek lagi. Di Jakarta juga, mama menemukan another Chiropractic tapi kali ini dari China. Efeknya sama seperti sebelumnya, membuat badan nyaman dan gak sesak nafas lagi. Tapi bedanya dengan Canadian Chiropractic, Chinese Chiropractic tidak menggunakan alat, tapi menggunakan tangan dokternya. Jadi kayak semacam massage gitu. Chinese Chiropractic lebih murah, sekali datang hanya 300.000. Waktu itu juga ambil paket satu bulan, jadi jatuhnya tidak terlalu mahal. Dua tahun berturut-turut selama sebulan aku rutin terapi di Chinese Chiropractic ini.

Suatu hari aku dapat info mengenai Yoga khusus skoliosis di Jogja, senangnya bukan main, aku jadi gak perlu bolak-balik Jakarta-Jogja untuk terapi lagi. Cukup satu kali seminggu datang ke kelas yoga skoliosis sudah sangat membantu untuk kenyamanan punggungku. Sekali datang di kelas yoga ini butuh biaya 100.000. Hanya satu kali seminggu pada hari sabtu. Walau jaraknya sangat jauh dari rumah (butuh 45 menit naik motor) tapi aku tetap bela-belain ke sana. Meski kadang-kadang malas dan jadi dimarahi sama Dipa hehehe. Dipa yang selalu antar aku untuk yoga setiap sabtu ini. Oh iya sebelum mengikuti kelas yoga ini, instruktur yogaku minta untuk x-ray dulu biar tahu kondisi tulangku. Saat itu kurva yang atas 42 derajat dan yang bawah 39 derajat. Gak banyak berubah dari 8 tahun yang lalu (terakhir kali aku x-ray). Waw, ini termasuk berita baik karena selama 8 tahun, kurva skoliosisku tidak bertambah drastis! :D

Nah, setelah bercerita panjang lebar mengenai perjalanan aku dan skoliosis, sekarang mau cerita soal Spinecor. Ini dia kabar baiknya! Apa itu Spinecor? Hayo apa hayooo... :p

Aku suka ngikutin blog ka Indi Sugar, kebetulan juga beberapa kali komunikasi sama dia via email. Dari postingan blog dia, aku tahu kalau di Indonesia (Uhm, dan di dunia ini) sudah ditemukan soft brace bernama Spinecor. Eh, bukan Indonesia yang bikin soft brace ini, tapi di UK. Well, singkat cerita, mamah yang kebetulan lagi dinas di Jakarta, survei lokasi Back Up Clinic (tempat pasang Spinecor) besoknya, aku menyusul mama dari Jogja langsung ke Jakarta.

Hari pertama, ketemu dokter Anthony Fong, asalnya dari Australia, dan pertemuan pertama dia gak berhenti ngucapin permintaan maaf karena praktek pakai celana pendek dengan atasan batik (dia minta maaf karena mengenakan celana pendek hihi).
Kata dr. Anthony, dari semua pasiennya yang kurvanya lebih dari 40 derajat, hanya aku yang responnya sangat tinggi ketika diketuk lutut, sikut dan pergelangan tangannya. Dr. Anthony bilang kalau orang yang kurvanya lebih dari 40 derajat biasanya sudah sangat tidak sensitif terhadap pukulan, getaran dan lain-lain. Dia bilang, kasus skoliosisku sangat unik. Hahaha.

Setelah bertemu dokter Anthony, malam harinya aku harus x-ray karena dr. Anthony perlu kurva skoliosisku yang sangat terbaru. Dari Central Park, kami meluncur ke rumak sakit Pantai Indah Kapuk.

Besoknya, dr. Anthony sudah bisa mengukur kurva terbaru skoliosisku. Tebak berapa kurvaku sekarang? Yang atas 73 derajat, yang bawah 58 derajat. Parah ya? Ah, enggak juga, aku masih bisa nafas dengan cukup baik cuma kadang-kadang ngerasa pegalnya semakin parah aja hehehe.
Aku sadar selama ini masih bandel untuk jaga posisi. Apalagi setelah punya toko, udah gak terlalu mikir tentang skoliosis, asik ngerjain pesenan orang, menggambar, melukis saking asyiknya sudah gak perduli posisi badan kayak gimana. Hasilnya? Ya gini, kayak ditampar bolak-balik. Hehehe.
Setelah mengukur kurvaku, dr. Anthony mulai mengukur Spinecor biar pas di badanku. Pssst, dr. Anthony terlihat kayak penjahit karena bawa gunting dan meteran. :p
Singkat cerita, Spinecornya jadi dan dipasang di badan. Rasanya? Agak nyesek karena perutku gendut! Hahaha. Tapi overall, jauh lebih nyaman dibanding hard brace.

Selama sehari pakai Spinecor, badanku masih menyesuaikan diri. Masih agak sesak karena belum terbiasa, tapi masih bisa jalan, jongkok, joget-joget. Kalau hard brace jangan harap bisa begitu. :p

Malamnya setelah Spinecor dipasang, aku harus x-ray lagi tapi kali ini x-ray dengan menggunakan Spinecor. Besoknya aku kembali ke Back Up Clinic di Central Park bertemu dr. Anthony untuk cek perkembangan kurvaku dengan membawa hasil x-ray terbaru. Dannnn, hasil mengejutkan lho teman-teman. Setelah satu hari pakai Spinecor, kurvaku yang atas awalnya 73 turun menjadi 65, dan yang bawah awalnya 58 turun menjadi 52 dan tinggiku bertambah 2 cm dalam waktu semalam. Amazing. "Wonderful, It's miracle!" kata dr. Anthony. Aku langsung kebayang kurvaku bakal kurang drastis kalau rajin pakai Spinecor ini. Hihihihi.
Spinecor ini gak dipakai setiap hari, hanya 2-3 kali satu minggu, sekali pemakaian 6-10 jam. Meski kata dr. Anthony boleh lebih dari itu kalau mau. :D

Aku dibalut Spinecor

Aku jadi gak merasa tertekan pakai Spinecor ini, bahannya elastis dan halus. Aku bahkan bisa pakai Spinecor ini saat blogging, menggambar, melukis bahkan saat menjahit! Asik kaaaaan.....


Tuh lihat aku bisa joget-joget waktu pakai Spinecor



Harga Spinecor ini memang gak murah. Harganya hampir sama dengan uang muka cicilan rumah tipe 36, bisa dipakai melunasi kontrakan toko Sampan Mimpi selama dua tahun, bisa dipakai modal beli alat sablon digital lengkap, bisa gaji pegawai sampai bertahun-tahun. Hehehe. Tapi dibandingkan dengan operasi, harga Spinecor ini jauh lebih murah dengan resiko yang gak ada sama sekali.

Kata mamah, kesehatanku jauh lebih penting. Beruntungnya aku punya kedua orang tua yang sangat care, yang alhamdulillah mampu membiayai semua pengobatanku selama ini yang gak murah. Semoga Allah melindungi mereka selalu.

Teman-teman yang mau pasang Spinecor ini bisa ke Back Up Clinic Jakarta di Central Park lantai LG. (Dekat atm center Mandiri)
Semoga postingan ini membantu memberikan informasi buat teman-teman yang sudah hopeless sama kurva yang terlalu besar. Kabar gembira ternyata gak cuma datang dari kulit manggis saja yaaaa.... Hehehe :p

Anyway, berhubung banyak banget email yang masuk ke aku dan tanya pertanyaan yang sama. Aku jawabin di video aja ya biar jelas. Semoga membantu :)


Thursday, June 30, 2011

Mengucap Salam dari Ibu Kota

Hello im back!
Apa kabar teman dan temin? Semoga kalian baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Tuhan amiiiin. :)

Ini adalah postingan pertama sejak di Jakarta. Iya Jakarta ibu kota kita. Akhirnya aku balik lagi ke sini setelah 3 tahun meninggalkan kota ini. *halah lebay*

Kunjungan terapi di Jakarta ini sebenernya baru direncanain 2 minggu yang lalu. Awalnya, pada bulan-bulan sebelumnya ngerencanain terapi bakal dijalanin di Bandung, tapi karena satu dan lain hal, dan perdebatan yang begitu panjang, akhirnya aku dan keluarga memutuskan untuk menjalani terapi di Jakarta saja kurang lebih selama satu bulan. Hitung2 sekalian bisa reunian sama teman-teman lama. Cihuuuy :D

Well, perjalanan dimulai dengan perasaan yang sangat-sangat bahagia. Terbukti dengan dress yang aku pakai dengan warna-warna yang begitu cerah. *oke yang ini maksa*


Daaaan, pada hari kedua aku udah mulai terapi. Dari rumah Tante pagi-pagi banget biar gak kejebak macet. Sampai sana langsung ketemu dokter dan konsultasi.
FYI, dokternya dari China, dan dia gak bisa bahasa Inggris, yang dia bisa cuma Yes, No aja. Alhasil komunikasi kami dibantu oleh seseorang yang bisa bahasa Cina dan bahasa Indonesia.

Ada sedikit percakapanku dengan dokternya yang cukup konyol,
Dokter: "Sake?" (maksudnya sakit)
Aku : "He'eh"
Dokter: "Sake?" (mengulangi lagi)
Aku: "He'eh"
Dokter: "Sake?" (lagi2 diulang, rupaya dia gak ngerti kata 'He'eh')
Aku: "Iya Sake"
Dokter: "Oh ya sake" (sambil ngangguk-ngangguk)

Selesai terapi disuruh dokter pake korset, modelnya hampir sama kaya korset buat rampingin perut, tapi yang ini dipasangin besi di bangian belakangnya. Badan bisa jadi tegak banget kalo pake ginian. Kira-kira begini nih wujudnya:



NB: makasih buat kak Gadis atas pemberian dress cantiknya :*

Thursday, April 29, 2010

Bolehkah Tuhan ?

Tuhan,
Apa kau mendengarku ?
Apakah suaraku cukup keras untuk sampai ke telingaMu ?

Tuhan,
Bolehkah aku mengganguMu sebentar saja ?
Bolehkah aku mengeluh padaMu ?
Bolehkah aku mengeluh kalau aku benar-benar merasa sakit kali ini ?

Tuhan,
Bolehkah aku meminta padaMu ?
Bolehkah aku meminta untuk tidak merasakan nyeri-nyeri berlebihan ini satu hari saja ?
Bolehkah aku memintanya disaat aku masih memiliki banyak dosa ?
Bolehkah aku memintanya disaat aku masih banyak berhutang padaMu ?


Bolehkah Tuhan ?

Monday, March 8, 2010

Skoliosis

Mungkin temen2 yang udah sering baca blog aku, pasti tau aku sering tulis skoliosis, tapi aku belum pernah jelasin yah skoliosis itu apa ?

Apa itu skoliosis ?

Definisi :
- Skoliosis adalah kelengkungan tulang belakang yang abnormal ke arah samping, bisa membentuk S atau C
- Sekitar 4% dari seluruh anak-anak yang berumur 10-14 tahun mengalami skoliosis; 40-60% diantaranya ditemukan pada anak perempuan.

GEJALA :
- tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping
- bahu dan/atau pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya
- nyeri punggung
- kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama
- skoliosis yang berat (dengan kelengkungan yang lebih besar dari 60?) bisa menyebabkan gangguan pernafasan. (sumber : http://medicastore.com/)

Masih bingung ?
Oke aku kasih gambar tulang belakang penderita skoliosis .
Ini dia contohnya



Lucu yah tulangnya ? Unik gitu . Hehehe
Itu juga yang terjadi pada tulang belakangku .
Bengkok gak jelas gitu deh .

Awalnya aku gak percaya tulang belakangku bisa ngebengkok kayak gitu, aneh emang, tapi itu emang beneran terjadi pada tulangku .
Aku pikir itu kutukan, atau kiriman santet (pikiran yang primitif abis), tapi ternyata penderitanya lumayan banyak (bernafas lega) .

Aku baru tau aku menderita skoliosis waktu aku duduk di kelas 2 smp, sekitar tahun 2005 .
Waktu itu aku disuruh dokter keluarga untuk memeriksakan tulang belakangku yang terlihat asimetris ke dokter orthopedi .
Dan pada saat itulah aku, mamah, papah dan mas tau kalo sebenarnya tulang aneh di punggungku itu namanya Skoliosis . .

Yah, miris memang, harus menerima keadaan gak bisa tinggi dan gak bisa tumbuh sempurna seperti anak cewek lainnya, tapi dukungan mamah dan papah ngebuat aku kuat :)

Mamah berusaha mencari jalan lain selain operasi yang dianjurkan dokter orthopediku, karena operasi resikonya sangat besar, salah-salah aku bisa lumpuh total (hiiyyy ngeri ah)

Akhirnya pada suatu waktu aku dibawa ke suatu bengkel sama mamah .
Bukan bengkel mobil, tapi bengkel tulang .
Apa itu bengkel tulang ?
Jadi bengkel itu tempat pembuatan kaki palsu, tangan palsu, dan baju peyangga buat tulang belakangku .
Aku dibikinin baju penyangga sama orang di sana, yang lebih sering disebut Brace, terbuat dari mika setebal kurang lebih 1 cm .
kurang lebih seperti ini bentuknya : (tapi ini bukan braceku, aku dapet dari googling, nanti aku upload poto braceku yang asli kalo udah ketemu dimana bracenya hahahaha)



Aku harus pake brace setiap hari, di lepas cuma pas tidur dan mandi .
Jujur, pake brace bikin aku tersiksa, selain gak bisa banyak gerak, aku juga gak bisa menggaruk punggungku ketika ada serangan gatal yang dasyat .
Selain itu, aku selalu jadi bahan ejekan waktu itu .
Aku dibilang aneh sama teman-temanku .
Dan itu ngebuat aku nangis sehabis pulang sekolah hampir setiap hari .

Mamah gak berhenti cari alternatif lain untuk tulangku,
suatu hari mamah menemukan artikel di koran tentang treatment skoliosis di Jakarta,
setelah mamah surfei ke lokasi dan bernego dengan papah, akhirnya aku dikirim ke Jakarta untuk terapi selama 6 bulan .
Otomatis aku juga harus sekolah di sana selama aku terapi, kebetulan waktu itu aku baru masuk di sma .

Dan aku menjalani terapi di sana dengan senang .
Ini salah satu alat terapi di sana :




Sampai sekarang, aku masih menderita skoliosis, dan keluargaku tetap tidak memutuskan untuk mengoperasi tulangku .
Kalau nanti aku diterima kuliah di Jogja, aku bakal nerusin terapi itu walau di klinik yang berbeda, karena klinik yang dulu udah di tutup .

Cukup dulu ya ngocehnya, nanti kapan2 aku nulis lagi soal skoliosisku hehehehehe
O iya satu lagi, aku nggak pernah menyesal dilahirkan sebagai penderita skoliosis lo :)

Thursday, March 4, 2010

Seandainya

Seandainya aku terlahir bukan sebagai penderita skoliosis, mungkin aku bisa berlari...
Seandainya aku terlahir bukan sebagai penderita skoliosis, mungkin aku bisa tinggi...
Seandainya aku terlahir bukan sebagai penderita skoliosis, mungkin aku bisa tidur miring...
Seandainya aku terlahir bukan sebagai penderita skoliosis, mungkin aku bisa bernafas dengan mudahnya...
Seandainya aku terlahir bukan sebagai penderita skoliosis, mungkin aku bisa menari ballet...
Seandainya aku terlahir bukan sebagai penderita skoliosis, mungkin aku bisa merasakan senangnya punya tubuh sempurna...

Tapi seandainya aku tidak terlahir sebagai seorang penderita skoliosis, mungkin aku tidak tahu bagaimana caranya bersyukur, bagaimana caranya berterimakasih, bagaimana rasanya menjadi anak dari sepasang orang tua super :)

Saturday, July 11, 2009

I miss Jakarta

Hari ini aku ngebuka lagi arsip-arsipku waktu di Jakarta. Jadi kangen… . Jadi ceritanya dulu aku sempet tinggal di Jakarta selama kurang lebih 6 bulan (waktu kelas 1 sma). Pertanyaannya kenapa aku harus tinggal disana ? Karna aku diusir dari rumah dan diasingkan disana. Ya enggak laah… Aku disana karna harus ngejalanin terapi, terapi apa? Ask me!

Selama aku tinggal di sana, aku ngerasa seneng walaupun tempat tinggalku yang menurut mamah agak sedikit tidak manusiawi (ah mamah, gitu2 juga dipilihin hhehehe). Yaa desak2an ama rumah tetangga yang lain, rumahnya dempet2an gitu laah... Jalannya sempit banget, di sekitar jalan dengan sukses bergantungan baju-baju jemuran. Wah, mantep abis... Tapi apa boleh buat, karna kontrakan ini deket banget ama sekolah dan tempat terapi, akhirnya dengan agak sedikit berat hati, aku merelakan diriku ini untuk tinggal di sana.

Padahal nih, rumahku deket banget ama apartemen Batavia yang kata orang sih apartemennya para orang bule. Namanya sih keren, kalo orang nanya, ”rumahnya dimana ?” jawab aja, ”deket apartemen batavia”. Kalo orang nggak tau pasti mikirnya waaaah . . padahal ya tetep aja samping-sampingnya rumahnya pada dempet hhahaha .

Di jakarta, aku sekolah di SMAN 7 Jakarta (statusnya cuman titipan aja sih hhe), di daerah bendhill atau daerah karet tengsin. Pertama masuk sana sih aku dilanda ketakutan yang ruaaar biasaaa soalnya udah kemakan racun sinetron, di sinetron2 kan anak2 Jakarta galak-galak, gaul-gaul dan sebagainya .
Emang sih 7 bukan SMA paporit, tapi paling nggak aku bisa ngerasain hangatnya kekeluargaan di sini. Temen2 kelasku pada baik semua... nggak nyangka juga :’)
Ini sekolahku :




Ini teman2 sekelasku yang amat sangat aku sayangi banget :

Di poto itu (dari kiri) ada Adit, Dinne, Dira, Vela, Danti, Asya, Cynthia, Ika, Ayu, Putri, Anas, Angga, Mega, Tiara, Rianty. Di bawahnya ada Umam, Yudi, Friman, Ovie, Zulfi, Imam, Bobby, Tebe, Roby sama Yuan.


Nah disana aku punya best friend (cailah), namanya Asya. Kaget juga sih waktu pertama kali denger nama dia, nggak jauh beda sama namaku, Cuma beda di ”y” aja. Asya orangnya baik, kocak abis, daan galak juga :P
Ini Asya :



Kalo ini, anak2 Teater 7, waktu itu kami abis tampil di acara Bulan Bahasa yang diadain SMA 7. Ceritanya di sana aku jadi Tara, sodara tirinya Cinderella (jadi orang jahat nih hikshiks) :



Ini waktu kami lagi di Monas, waktu itu kami Cuma punya uang buat ongkos pulang pergi naik Busway, jadi disana kami nggak makan! Padahal laper banget! Hahaha



Ini Tempat terapiku, namanya Contour Health



Ini waktu aku lagi terapi :



Nah kalo yang ini para terapis ku (orang yang ngebantuin dokter buat nerapiin orang2) :



Eniwei, itu aja deh yang bisa aku bikin buat ngenang seluruh kenangan aku waktu di Jakarta. Intinya adalah : AKU SAYANG BANGET SAMA MEREKA! Dan aku kangeeeeeeen banget sama mereka semua. Aku pengen banget bisa ke Jakarta lagi dan ketemu sama mereka semua! I love you all