Showing posts with label Kisah sehari-hari. Show all posts
Showing posts with label Kisah sehari-hari. Show all posts

Wednesday, November 13, 2013

Kisah Tentang Seorang Ibu di Teras Mini Market

Ada sebuah mini market yang sangat menjamur di Jogja dan kota-kota besar lainnya. Pertumbuhannya seperti virus, sangat cepat. Tapi keberadaan mini market ini menjadi barometer maju atau tidaknya suatu kota. Dipa bilang ini budaya baru. Ya memang, aku setuju. Mahasiswa zaman sekarang sangat membutuhkan mini market semacam ini, menyediakan banyak makanan dan minuman ringan yang buka 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Fantastis. Bombastis. Kamu tidak akan menemukan mini market semacam ini kalau hidup di Banjarmasin.

Ini bukan cerita tentang seberapa seringnya aku mengunjungi mini market ini, ini cerita tentang seseorang.

Setiap malam (tidak setiap malam, hanya malam-malam tertentu, aku tidak punya uang yang cukup banyak untuk ke mini market ini setiap malam), ketika aku mampir ke Mini market ini untuk sekedar membeli obat dahaga atau membeli pulsa listrik yang habis kurang dari dua minggu sekali, di teras mini market ini, ada seorang ibu duduk termangu.

Usianya mungkin paruh baya. Rambutnya sudah ditumbuhi banyak uban dan digerai menjuntai di bawah bahu. Tubuhnya agak gemuk, kadang-kadang menggunakan pakaian motif bunga-bunga dipadukan dengan rok selutut atau celana pendek selutut. Kakinya dialasi sendal jepit. Di samping kirinya selalu ada bungkusan kantong plastik yang isinya entah apa.

Pandangannya kosong, lurus ke depan. Ia tidak pernah memandang seorangpun yang lewat di depannya, tak pernah menghiraukan sepeda motor yang diparkir sepuluh inci dari kakinya menapak. Seolah ia sedang duduk di padang rumput sendirian, memikirkan kehidupan yang begitu berat.

Suatu hari Dipa pernah mengarang cerita untuk ibu itu, "Kamu tahu? Sebenarnya ibu itu adalah pemilik tanah tempat dibangunnya mini market ini. Dulu, rumahnya dibangun di atas tanah ini, setiap sore, dia menanti suaminya di teras rumah sambil melamun, tapi suaminya tidak pernah datang. Dia melakukan hal itu terus menerus hingga hari ini, walau tanahnya sudah dibeli pemilik modal untuk membangun sebuah mini market."


Jika itu benar, maka Ibu ini adalah wanita yang setia. Aku beberapa kali menemukannya menunduk terkantuk-kantuk, kemudian duduk lagi dengan wajar, kemudian menunduk lagi sampai badannya menekuk. Sungguh ia kelihatan sangat mengantuk tapi enggan pergi dari teras mini market itu.
Apa yang sebenarnya sedang dia tunggu? Apa yang dia pikirkan? Apa isi bungkusan kantong plastik hitam di sisi kirinya? Kenapa hanya malam hari dia di sana? Siangnya ada di mana?
Entah. Ibu itu membuat aku penasaran sampai malam ini.

Tuesday, September 18, 2012

Kiriman dari Seorang Teman Baru

Beberapa hari yang lalu ketika sedang mengobrol dengan lelaki berkacamata bulat, seorang kurir pengantar paket mengetuk pintu rumah dan memberikan aku sebuah paket berbalut kertas cokelat. Di sana tertulis nama Cindy, sebagai pengirimnya.

------

Beberapa waktu yang lalu, seseorang yang gak aku kenal (dengan akun twitter @cindygile) me-mention di twitter, mengaku menyukai blogku dan twit-twitku. Aku senang karena ada yang menyukai apa-apa yang aku tulis.

Selang beberapa minggu setelah berkenalan via twitter, dia minta alamat lengkap, katanya ingin mengirimkan sebuah paket untukku. Aku merasa aneh dan bingung. Iya, aku merasa aneh diberi sebuah "hadiah" karena orang itu menyukai blogku, menyukai tulisan-tulisan yang sebenarnya tidak aku tulis untuk orang lain baca. Aku hanya menulis apa yang ingin aku tulis.

------

Setelah menerima paket kiriman dari Cindy, perasaan campur aduk. Antara gak percaya, aneh, dan senang. Tapi lebih banyak senangnya hehehe.

Terimakasih, Cindy yang sudah mau repot-repot mengirim baju cantik ini untukku. Ukurannya pas sekali, aku suka warnanya, aku suka bajunya!


Sekali lagi, terimakasih, Cindy! Semoga suatu hari kita bisa bertemu dan berbagi cerita tidak hanya lewat twitter/BBM lagi. *peluk dari jauh*

Monday, June 4, 2012

34 Post Cards for 20 Years Old

#bahagia itu adalah ketika kita bisa berbagi sedikit saja kebahagiaan kita dengan orang lain

Kebahagiaan di hari ulang tahunku kemarin pengin aku bagi ke teman-teman. Tiba-tiba saja kepikiran untuk membuat post card dan dibagikan secara cuma-cuma kepada teman-teman yang mau.

Ketika menawarkan kartu post lewat twitter, ternyata banyak sekali mention yang masuk. Gak nyangka masih banyak yang mau dikirim post card. Gak tanggung-tanggung, 34 teman yang mau dikirim post card. 31 di Indonesia dan 1-nya dikirim ke Singapore. Aaaaaak. :D

Setelah post card selesai di print, mulai deh menulisnya satu-satu dengan tangan sendiri. Pegel? Jelas. Tapi rasanya senaaaaaang banget. :">






Berangkat dengan perangko 1500-an, kartu pos ini siap membuat kalian yang menerimanya akan senyum-senyum sendiri. *oke lebay*

Hei, i'm 20!

Iya, tanggal 2 Juni kemarin, aku udah genap 20 tahun. Cukup tua untuk badan sekecil ini. Hahaha :D

Tanggal 2 jam 12 malam lewat sedikit, Iby kasih kejutan. Sebenarnya bukan kejutan karena aku gak terkejut hahaha. Tapi cukup terharu kok, By. :')

Tapi tolong ya, kalau kasih kejutan mbok ya bilang-bilang, jadi aku bisa dandan dulu, masa di foto pakai baby doll gini... -_____-"





Dan buat mas pacarku tersayang, thanks buat surprise-nya yang benar-benar bikin aku terkejut. Dan terimakasih juga untuk dua teman kecilku yang baru. ;)





Tuesday, March 13, 2012

Buku dan Kartu untuk Adik-adik di Bagian Timur

Beberapa minggu yang lalu, di tawarin mas @pramoeaga dan ka @falafu untuk ikut serta dalam projectnya @lebahbooks : #SatuBukuSatuSaudara, yaitu menyumbang buku untuk adik-adik di bagian Timur Indonesia. Tanpa pikir panjang, langsung meng-iya-kan.

Nah uniknya, setiap buku yang mau kita sumbang, kita harus menyertakan surat, notes, or something like that untuk adik-adik yang mendapatkan buku dari kita. Nanti, adik-adik akan membalas surat kita. Seru, kan? Jadi melalui satu buku, tercipta persaudaraan antara pemberi dan penerima. Itulah kenapa namanya #SatuBukuSatuSaudara :)

Untuk buku yang aku sumbangin, aku menyertakan kartu ucapan yang aku bikin sendiri loh! Tadinya mau bikin pop up, tapi bingung mau gimana, akhirnya bikin pop up yang sangat simpel saja. Tapi gak tahu deh ini bisa disebut pop up atau bukan hihihi. :p

Pyur gambar sendiri, ngeprint sendiri dan gunting-tempel sendiri. :)





Dan ini buku buat adik-adik yang akan aku sumbangin

Untuk yang di wilayah Jogja bisa mengumpulkan bukunya ke mas @pramoeaga, atau untuk info selengkapnya buka di web resminya di sini ya! Kesempatan dibuka sampai 30 Maret 2012 :D

Tuesday, January 17, 2012

Waktu Cepat Berlalu, Bahkan Aku Tidak Menyadarinya

Rasanya baru kemarin merengek minta belikan meja belajar warna-warni dengan dalih agar semangat belajar dan merengek minta belikan lemarinya juga agar serasi dengan meja belajarnya. Rasanya baru kemarin aku minta izin Mama Papa untuk melukis dinding kamar menggunakan cat air lima ribuan yang dibeli di warung fotokopian. Rasanya baru kemari menangis disudut kamar karena berantem sama Mama. Rasanya baru kemarin.



Semakin bertambah umur, kamar ini terasa semakin sempit. Mama pernah menawarkan untuk membesarkan kamar ini, tapi aku menolak. Biar saja seperti ini, toh hanya ditinggali setiap enam bulan sekali saja.

Setiap kali pulang, selalu saja melihat-lihat isi kamar dulu. Membuka lemari-lemarinya, buku-bukunya, dan boneka-bonekanya. Kadang tersenyum geli membaca diary-diary zaman sekolah dulu. Alaynya masa itu hahaha. Kadang mama sampai kesal, baru sampai rumah bukannya istirahat malah buka-buka lemari, katanya. Senang saja, bersentuhan dengan barang-barang lama, rasanya seperti kembali ke masa-masa dulu.

Gak kerasa aja, sekarang sudah kuliah, sudah besar. Waktu benar-benar cepat berlalu dan aku banyak melewatkannya begitu saja...



NB: Menemukan celengan berisi uang-uang koin. Entah sudah berapa lama uang-uang ini ada di celengan. Mungkin sejak aku SMP, atau SMA. Iseng menghitung jumlahnya ternyata sudah 43 ribu rupiah. Bisa dipakai untuk membeli es krim, tentunya. :)


Saturday, December 31, 2011

Firework(s)!













Selamat Tahun Baru!
Selamat menjalani segala sesuatu yang baru!
Sampai ketemu di postingan tahun depan!

Foto kembang api ini diambil di depan kamar kos.
Agak jelek sih (apalagi 5 foto awal) buru-buru ngambilnya.
Harusnya speednya diperlambat lagi, ya gak sih?

Saturday, December 10, 2011

Sedikit cerita di hari ini

Seminggu yang lalu, mas Endro (senior DKV) minta cariin teman yang mau jadi relawan buat ngajar gambar anak-anak penderita kanker di salah satu RS di Jogja. Tanpa pikir panjang, aku langsung ngajuin diri aja.

Tutor gambar udah dimulai dari minggu lalu setiap hari sabtu. Minggu kemarin belum punya materi apa-apa jadi aku sama Iby nyuruh mereka gambar bebas aja trus diwarnain, ternyata semuanya sama, mereka pada gambar pemandangan hahaha yasudahlah, namanya juga permulaan. Tapi sayang sekali, minggu kemarin yang datang ke ruang bermain hanya 3 anak, yang lainnya sedang istirahat. :(

Nah, minggu ini kami sudah menyiapkan materi untuk ngajarin mereka mewarna dengan cat air. Di sana ternyata sudah menyiapkan cat air dan kuas, jadi dari kos kami cuma bawa print-print-an gambar hasil trace tadi malam.

Sampai di sana ternyata anak-anaknya sudah menunggu, rupanya mereka udah gak sabar buat belajar mewarnai. Ada 5 anak yang sudah menunggu, lebih banyak dari minggu kemarin.

"Mbak kok baru dateng? Kami sudah nunggu dari tadi." kata salah satu dari mereka. Senang rasanya ngelihat mereka antusias. :') Aku minta maaf terlambat karena harus ngeprint gambar dulu. Terus aku Iby dan mbak Anisa (relawan yang jaga di sana) nyiapin meja-meja dan alat bahan buat mereka.

Alhamdulillah mereka senang, mereka gak puas hanya ngewarnain satu gambar aja, mereka minta gambar lagi untungnya gambar yang aku bawa pas hihihi.

Ini dia beberapa hasil mereka mewarnai dengan cat air:



Ada beberapa yang gak begitu rapi, memang. Soalnya ada yang mewarna dengan tangan kiri (padahal mereka tidak kidal) karena tangan kanannya diinfus, ada yang masih bisa pakai tangan kanan tapi gemetar. Tapi gak apa-apa, menurutku, ini sudah bagus. :)

Well, sebenarnya bukan hanya mereka yang belajar dari aku dan Iby, tapi aku juga belajar dari mereka. Belajar tabah menghadapi apa yang mereka derita sekarang, belajar tetap tersenyum dan riang walau mereka harus dibelit infus dan dicekoki obat-obat yang membuat rambut mereka rontok perlahan. Aku salut sama mereka, dengan umur sekecil itu, mereka kuat.

Berada di tengah-tengah mereka ngebuat aku nyalahin diri sendiri kalau suka ngeluh sama tulang belakang yang sering kumat seseknya, ngebuat aku benar-benar ngebuka mata kalau yang selama ini Allah kasih buat aku itu lebih dari cukup. Aku lebih beruntung dari mereka, gak sepantasnya sering ngeluh. Allah memang selalu tahu bagaimana caranya bikin aku bersyukur. :')

Segitu dulu cerita hari ini, mungkin minggu-minggu berikutnya bersama mereka akan menjadi hari yang menyenangkan. Sampai jumpa di postingan selanjutnya. :)

Friday, December 2, 2011

Wednesday, October 26, 2011

Get Well Soon, Asa


Yang namanya penyakit datengnya emang gak permisi.
Kemaren pagi masih bisa naik motor sampe Godean, siangnya tiba-tiba perut sakit banget.
Karena saking paniknya, Iby langsung nganter ke rumah sakit dan aku langsung di opname.
Mamah yang kebetulan lagi tugas di Jakarta langsung ngambil penerbangan sorenya ke Jogja.

Thanks to Iby yang udah repot banget ngurusin aku sebelum mamah dateng. Thanks God, I have a good friend. :')

Thursday, September 22, 2011

Hai readers!
Postingan kali ini rada-rada gak penting gitu deh, pengen curcol dikit. Dikit aja ya? Ya? Boleh kan? Boleh dooooong :P

Jadi gini guys (guys? Sok asik ih :p), ini baru masuk minggu kedua aktif kuliah tapi tugas udah banyak aja. Terus nih ya, alhamdulillah aku dipercaya orang buat bikinin ilustrasi buat majalah fashion yang sebentar lagi mau terbit di Jogja (ciyeeeee) *benerin kerah*. Ilustrasinya udah jadi sih, tapi diupload di blognya nanti aja ya kalo majalahnya udah terbit. :P

Trus aku juga diminta temen bikinin desain buat merchandise kampus temenku gitu guys, sekalian dia juga minta bikinin tas lukis. Ah, alhamdulillah yah sesuatu banget, bisa nambah-nambah uang buat ngelanjutin hidup. *nangis terharu di depan mesin ATM*

Tapi emang agak-agak sih rempong kejar-kejaran sama deadline kuliah sama deadline pesenan juga. Jadi harus mulai belajar menage waktu dari sekarang. Itung-itung belajar jadi istri yang baik juga entar... *hubungannya?*

Eh tapi postingan kali ini gak maksud buat pamer atau gimana gitu, pyur cuma mau nge-share kebahagiaan. *lap ingus* :')

Gitu aja deh curcol kali ini. Mau lanjutin garap tugas cyiiiin... Bye! :D *lempar cium ke penjuru blog*

NB: Tetep deh postingan Cara Menghilangkan Sakit Perut Mematikan sama Manfaat Menanam Pohon Ketapang ada aja yang buka tiap minggunya -________-"

Wednesday, July 20, 2011

Jangan Punya Wajah Seperti Anak Kecil

Yap, jangan punya wajah seperti anak kecil, teman-teman!
Karena sudah berkali2 aku ngurus apa-apa sendiri selalu dianggep remeh, atau gak begitu dipeduliin. Emang sih resiko berwajah imut *preeeeet*, di tambah tinggiku yang cuma setara sama anak2 SD-SMP ini menambah keyakinan orang2 kalo aku ini masih SMP.
Simak cerita di bawah ini...

Karena seminggu yang lalu handponeku hilang, jadi hari ini aku berencana ngurus nomernya biar bisa dipakai lagi.
Selesai terapi aku pergi ke Blok M Plaza, ke salah satu gerai provider di sana. Sendirian. Sampai di sana mbak-mbak CS-nya nanyain apa keluhanku (kayak dokter aje).

Aku: "Hape saya ilang, nomernya ikutan ilang, saya mau balikin nomernya lagi biar bisa di pake mbak"
Mbak2: "Oke tunggu sebentar ya"

Terus aku disuruh ngisi data2, selesai itu aku disuruh nunggu lagi, mbaknya ke belakang meriksa ini-itu.

Mbak2: "Dulu registrasi nomernya atas nama siapa?"
Aku: "Atas nama saya, Asa."

Trus mbaknya ke belakang lagi. Balik-balik, mimik muka mbaknya udah rada asem...

Mbak2: "Maaf, nomernya bukan atas nama Asa. Tanggal lahirnya juga gak sama. Jadi kita gak bisa bantu."
Aku: "Loh kok bisa sih? Itu nomer saya mbak, registrasi pake nama saya kok."
Mbak2: "Kalo bener itu kartu kamu, pasti dulu ngisinya asal2an ya?"
Aku :"Enggak! Saya gak pernah isi asal2an kalo registrasi kartu!" (gak kalah nyolot)
Mbak2: "Tapi buktinya bukan atas nama kamu."
Aku: "Kalo gitu tadi atas nama siapa?"
Mbak2: "Gak bisa kami beritahukan."

Aku diem. Kampret ni mbak2 rada nyolot, nuduh yang enggak2 lagi.

Mbak2: "Kalo itu bener nomer kamu, coba tulis 5 nomer yg sering kamu hubungi di nomer itu."
Aku: "Kan hapenya ikutan hilang, saya gak hafal nomer2nya mbak. Saya cuma inget satu, nomer mamah saya."
Mbak2: "Gak bisa satu, harus lima. Begitu prosedurnya."

Kampret lagi.

Untungnya aku inget masih nyimpen kartu ini:

Aku: "Nih saya masih nyimpen kartu ini!"

Lalu muka mbak2nya langsung berubah.

Aku: "Coba mbak dicek lagi, saya kan udah punya bukti."
Mbak2: "Oke2 saya cek lagi ya, sebentar"

Setelah mbak2nya ngecek lagi, kartu itu tetap bukan atas namaku, tapi nomer mamah terdeteksi sebagai nomer yang sering dihubungi/menghubungi nomerku. Nah kan!

Lalu mbak2nya minta maaf dan langsung bersikap manis ke aku.
Rasanya campur aduk. Kesel, lega, jengkel, semuanya jadi satu.

Jadi kemungkinan besar, yang nyolong handphoneku itu juga mengganti info pemilik kartu. Gak tau ya modusnya apa...

Yaudah segitu aja, yang jelas, jangan ngurus apa-apa sendirian kalo muka kalian imut-imut seperti aku. *dikeplak sekelurahan*