Showing posts with label (SEHARUSNYA) sajak. Show all posts
Showing posts with label (SEHARUSNYA) sajak. Show all posts

Monday, November 12, 2018

Home

Home is a place or something to keep you safe,
a place to make you feel comfortable.
It could be a place
It could be a land
It could be a person.

Home.

I feel so far away from home
I miss being at home

A home with a heart
A lovely home

How are you, home?
Can I go back?

Or
Can I build my new 'home'?
Can I?

Saturday, December 3, 2016

Jagalah Aku Dalam Doa


Jagalah aku dalam doa-doamu
Jagalah aku dalam diam
Jagalah aku dalam kepalamu, dan dalam malam-malammu yang begitu sunyi

Jika kelak kita dipertemukan dalam sebuah ikatan yang kuat, berusahalah untuk tidak membuatku menangis karena pertengkaran kecil. Berusahalah untuk memelukku dengan erat ketika aku lelah.

Jika kelak aku adalah perempuan yang akan memberikan senyum paling lebar ketika membuka pintu rumah untukmu, yakinlah bahwa aku benar-benar menunggumu pulang dengan sabar.

Jika kelak aku adalah perempuan paling cengeng sedunia karena melepas kaupergi tiga puluh menit tanpaku, yakinlah aku benar-benar mencintaimu dengan caraku.

Jangan pernah menjanjikan aku matahari, datanglah dengan sederhana, mintalah aku dengan sederhana, karena aku mencintai kesederhanaan.

Jangan pernah menjanjikan bulan, karena aku tidak menyukai pria penuh omong kosong. Berjanjilah untuk tidak menjanjikan apa-apa. Karena melihat ingkar adalah luka yang paling perih.

Kepada pria yang meredakan hujan, jagalah aku dalam doamu.
Mintalah Tuhan untuk menjagaku, untukmu.

Tuesday, August 9, 2016

Aku Tidak Hidup Kemarin, Aku Hidup Hari Ini


Aku tidak lagi memberitahu pada dunia bahwa aku terluka karena aku tidak hidup kemarin, aku hidup hari ini, besok, dan beberapa puluh tahun lagi.

Aku berjanji tidak akan mengetuk pintu kamarmu mengais maaf yang begitu mahal, aku berjanji tidak akan ada air mata yang jatuh untukmu lagi. Aku berjanji.

Aku bukan orang yang tepat untukmu, untuk hidupmu, paling tidak aku telah berusaha, meski tahun tahun yang kita lewati tidak cukup membuatmu yakin.

Mungkin aku bukan perempuan yang kamu impikan di setiap malam-malammu yang sunyi, bukan perempuan yang kamu harap mampu mengerti hal-hal yang kau tertawakan, atau kau perdebatkan.

Aku hanya Asa, perempuan yang dulu mengagumimu dengan penuh, berharap setiap detik bisa kita habiskan bersama, menghargai apa yang kamu yakini, meski kadang aku merajuk karena kata-katamu, tapi perempuan suka merajuk, karena mereka ingin melihat seberapa besar pria mencintai mereka.

Ternyata kehidupan mengatakan, aku tidak cukup pandai menghadapi kamu, katanya, perasaan saja tidak cukup membuat pria bahagia, katanya, aku akan menghambatmu meraih mimpi-mimpi.

Oh, kehidupan begitu kejam, tapi aku tidak pernah mengutuknya.

Kamu boleh mengatakan pada dunia bahwa kamu terluka, kamu boleh mengatakan pada dunia bahwa aku akan tumbuh menjadi makhluk paling mengerikan di hidupmu, atau katakan pada dunia bahwa kamu bahagia, kita bahagia dengan cara kita sendiri-sendiri, dengan jalan kita sendiri-sendiri, tidak lagi bersama, tidak lagi bergandengan tangan, tidak lagi menatap satu sama lain. Kita bahagia, kita pantas bahagia.

Aku akan mengucapkan selamat tinggal karena aku tidak hidup kemarin, aku hidup hari ini.




Thursday, May 19, 2016

Tapi Ia Jadi Semesta

Ibu tidak pernah meminta kasihnya dibalas dengan cara yang sama
Ibu tidak pernah mengeluh tentang bagaimana lupa menguasai hampir seluruh tubuh kita
Ibu tidak pernah menuntut untuk menjadi paling utama

Ibu menaruh doa di setiap langkah kaki kita
Ibu menyelipkan restu di setiap helaian rambut yang tumbuh di kulit kepala
Ibu tidak pernah meminta, tapi ia jadi semesta

Sunday, September 20, 2015

Kerap Kali

Aku kerap kali membayangkan menjadi monster yang tidak punya rasa takut, bahkan ketika bersalah

Aku kerap kali membayangkan menjadi kura-kura, menikmati keterlambatan dan menertawakan kelinci berlari terlalu cepat tapi tidak punya tujuan

Aku kerap kali membayangkan menjadi kupu-kupu, hinggap di atas bunga paling cantik, kemudian meninggalkannya kering tanpa sari

Aku kerap kali membayangkan menjadi makhluk paling menyeramkan yang merindukan diri sendiri

Tuesday, December 23, 2014

Seperti Mawar di Pelataran Rumah

"Kita tentu pernah ada di titik lelah lalu ingin menyerah.
Kita tentu pernah ingin berlari sejauh mungkin dan tidak pernah kembali.
Tapi cinta, dia selalu tahu kemana harus pulang." -Asa

Kamu tahu cinta yang begitu besar akan menyakitimu hingga rongga-rongga paling dalam di jiwamu?
Kamu tahu, orang yang begitu potensial menyakiti hatimu justru orang yang paling kamu cintai?

Aku dan kamu belum sama-sama tumbuh menjadi manusia yang dewasa. Kita tidak mampu mengontrol rasa sayang satu sama lain. Sayang yang begitu besar mampu menyakiti, membuat luka, membuat kita begitu jahat.
Aku pernah katakan, jika mencintaiku hanya membuatmu bertambah sakit, maka berhentilah. Berhentilah mencintai aku dan pergilah, karena pintu hatiku tidak pernah benar-benar terkunci. Kau bisa pergi kapan saja.

Mama juga katakan, "Ketika mencintai seseorang, jangan serahkan hatimu seutuhnya untuk dia. Sisakan setengahnya untuk mencintai dirimu sendiri, dan hal-hal lain. Ketika kamu dikecewakan, kamu tidak akan hancur sepenuhnya. Kamu masih punya sebagian hati untuk mengobati bagian yang tengah terluka."
Maka, aku belajar mencintaimu dengan wajar.

Tapi kamu tahu? Cinta kita mungkin seperti mawar di pelataran rumahku. Mawar yang pernah sama-sama kita tanam dua tahun yang lalu. Aku pernah mencoba memangkasnya. Karena menurutku, mereka tumbuh begitu brutal. Sangat cepat dan sangat lebat. Dan aku tidak mampu memangkasnya hingga akar. Meski aku mencobanya dengan keras. Akarnya sudah begitu kokoh dan kuat, seperti cinta kita. Seberapa sering pun aku berusaha memangkasnya, pondasi yang kita buat begitu kokoh. Aku tidak akan mampu menghapus rasa sayangku, rasa sayangmu, dan rasa sayang kita.
Meski luka yang pernah sama-sama kita buat begitu dalam, kenangan-kenangan manis tentang kita selalu menjadi penawar yang tepat.

Sayang, berjanjilah untuk tidak saling menyakiti lagi.
Berjanjilah untuk bersama-sama tumbuh menjadi pribadi yang dewasa.
Berjanjilah untuk saling mengerti bahwa hidup kita masih sangat panjang.
Berjanjilah untuk mencintaiku sewajarnya saja.
Berjanjilah.
Aku pun telah membuat janji.

Wednesday, November 13, 2013

Puisi Pukul Empat Pagi

Pukul empat pagi

Kepala yang memikirkan tentang cinta yang tak sampai atau tentang kisah yang belum usai meletup-letup seperti petasan anak kecil di bulan suci

Tubuh yang mempertanyakan kehidupan sedang terbujur kaku di atas dipan kayu,
berdecit

Lengan yang merindukan pelukan menari-nari di udara lalu jatuh, permukaan kulitnya terluka


Pukul empat pagi

Lutut-lutut yang melupakan sujud, membatu


Pukul empat pagi

Aku memikirkan apa Cupid pernah salah menembakkan anak panahnya pada jantung-jantung manusia

Monday, September 30, 2013

Surat Untuk Calon Suami

Hai, aku Asa, calon istrimu.
Aku bukan perempuan pintar yang membaca buku pengetahuan setebal sandal wanita-wanita di pusat perbelanjaan. Aku lebih suka membaca ensiklopedia tokoh kartun atau membaca buku fantasi 6 seri.

Aku lebih suka membaca komik daripada membaca buku-buku politik. Lebih suka mempelajari buku "Belajar Menggambar Bentuk" atau "Apa Saja yang Bisa Kamu Temui di Dunia Peri" dari pada "Hal-hal yang Tak Pernah Terungkap di Balik Kemerdekaan RI"

Aku bukan orang yang serius, suka membicarakan politik dan memperdebatkan hal-hal yang membuat kepala pusing. Aku seseorang yang hanya memikirkan hal-hal kecil seperti; bagaimana cara membuat kebahagiaan-kebahagiaan kecil untuk orang lain, mungkin dengan membuatkan sebuah barang yang dijahit tangan atau mengajak anak-anak menggambar. Aku lebih suka memberi hadiah daripada berdebat dengan segala rasa sok tahu. Orang-orang yang berdebat hanya akan menunjukkan betapa egoisnya manusia.

Ini aku, perempuan yang suatu hari menyambutmu di balik pintu sambil membawa setangkup kasih dalam cangkir kopi, lalu mendengarkan segala keluhanmu tentang hari. Bukan perempuan yang akan mengajakmu mendiskusikan banyak hal dan membuat kepalamu tidak pernah berhenti bekerja.

Sekali lagi, aku bukan perempuan pintar yang kamu dan laki-laki lain harapkan. Aku hanya perempuan yang akan merawat anak-anak kita dengan penuh kasih, menyiapkan sarapan dan makan malam, mengantar dan menjemput mereka, membacakan dongeng sebelum tidur, serta mengambil rapor semester anak-anak kita.

Jika kamu menikahiku kelak, kau harus menerima resiko besar bahwa aku hanya akan menjadi perempuan dengan cinta paling besar, bukan otak paling pintar.

Salam, Asa.

Saturday, August 3, 2013

Aku Perempuan yang Tidak Memelihara Kenangan

Aku baru tahu bahwa ada kenangan yang bisa dibawa pulang dan disimpan di lemari pakaian.

Ada kenangan yang bisa dipelihara dan disirami setiap hari.

Ada kenangan yang dikenang-kenang, dikembalikan, atau dibakar lalu abunya dibuang.


Ada kenangan yang terlalu berisik, mengusikmu, masuk ke kepalamu dan berteriak sepanjang hari.

Ada kenangan yang sangat tenang, diam-diam tertidur dalam dadamu.

Tapi aku perempuan setia, tidak mendua dengan menyimpan kenangan di balik pintu kamar, tidak juga memelihara dan menyiraminya.

Aku perempuan setia, asal kamu tahu saja.

Monday, March 11, 2013

Wanita Paling Bahagia Setiap Pagi

Aku menjadi wanita paling bahagia sedunia, setiap pagi, kamu tahu? Aku jadi wanita paling bahagia ketika membangunkan kamu.

Gelembung-gelembung mimpimu telah pecah ketika aku menepuk pipimu dengan halus. Kau marah.

Matamu masih terpejam dan alismu mengerut, kau lalu menggerutu dengan ucapan-ucapan yang tidak begitu jelas. Kamu mengigau.

Kamu mengigau dengan menyebut-nyebut namaku. Lalu berkata "Aku sayang kamu" sambil setengah merengek. Kemudian beberapa detik setelahnya, kauminta aku merangkulmu.

Pagiku indah. Pagiku indah karena kamu mencintaiku bahkan dalam keadaan tidak sadar.

Aku mencintaimu ketika kamu terlelap sekalipun. Ketika kamu tidak benar-benar bisa aku sentuh..

Monday, December 10, 2012

Melalui Mata Pena yang Menari





aku sedang berpuisi, kekasih
setiap garis yang kugores pada kertas ialah puisi
seperti kamu menuliskan cerita tentang kita melalui ribuan aksara

ini adalah caraku berpuisi
melalui mata pena yang menari



Saturday, October 27, 2012

Aku Membenci Jas Hujan

Aku membenci jas hujan
Aku membenci jas hujan karena ukurannya yang kebesaran
Aku benci harus melawan hujan dan angin bersamaan dalam balutan jas hujan yang kebesaran

Aku membenci jas hujan
Ketika hujan turun begitu deras, aku lebih suka merebahkan diri di kasur dan menarik selimut hingga sebatas leher
Atau duduk di bibir jendela cafe, menyeruput cokelat panas dengan buku di tangan sambil menikmati butiran-butiran air menyentuh kulit bumi

Aku membenci jas hujan
Suatu hari aku dan sahabatku mengendarai motor dan hujan turun sangat deras
Kami hanya punya satu stel jas hujan
Ia menyuruhku memakainya, aku tak mau
Aku menyuruhnya memakainya, ia tak mau
Akhirnya kami sepakat untuk sama-sama tidak memakai jas hujan
Kami berdua kehujanan, basah sama-sama

Aku membenci jas hujan

Wednesday, October 10, 2012

Rindu yang Terselip di Kantung Celana

Katamu, kau menitipkan rindu pada sidik-sidik jari yang tertinggal di daun pintu kamarku. Tapi kamu bohong. Aku tidak hanya melihat rindumu di sana, tapi juga di pada dinding-dindingnya, pada sela-sela kaca jendela, di bawah karpet, di sela-sela rak buku. Bahkan aku menemukan rindumu ketika bercermin, serta bayangan wajahmu yang menghardik, "Hei, jangan nakal!"

Ini jam ke 58 kamu pergi, dan ini bukan hal yang mudah. Aku seperti orang gila yang mengulang-ulang cerita tentang kamu pada orang yang sama. Aku bahkan sempat ingin mengatakan "Aku kangen kamu" pada setiap orang yang aku temui. Padahal kamu hanya meninggalkan Jogja beberapa hari. Iya, sebut saja aku gila.

Aku tidak berdiri di samping jendela bus dan melambaikan tangan sampai busmu menghilang dari kejauhan saat itu, tapi aku menitipkan rindu pada kantung-kantung celanamu. Semoga mereka bisa memelukmu di sepanjang perjalanan.

Wednesday, August 22, 2012

Aku (tidak) Sedang Merindukanmu

Jika rindu ini sebuah benang,
Mungkin sekarang aku sudah dapat ribuan baju hangat
Hanya dengan merindukanmu

Kamu hadir setiap hari, memang
Tapi kita tidak saling sapa
Hanya berbalas senyum
Itu pun kalau kita sama-sama saling pandang; kalau pandangan yang kulempar, kautangkap dengan benar

Dan kau, jangankan merindu, memikirkan saja mungkin tidak
Terlintas aku dipikiranmu saja mungkin itu pemikiran yang paling liar di otakmu

Friday, August 17, 2012

Rasa yang Tidak Dipelihara

Sebagian orang mengira, rasa yang tak dipelihara akan hilang sebagai mana mestinya

Tanpa kita tahu, mungkin saja benihnya berkembang biak, tumbuh secara brutal tanpa perlu kita sirami, tanpa butuh sinar matahari

Suatu hari ketika kita telah sadar, benih itu sudah menjelma tumbuhan yang menjalar mengelilingi permukaan ruang hati, melilit dan membuatnya terasa lebih sempit

Bahkan, rasa yang tidak bermaksud kita pelihara saja, bisa membuat kita terluka

Monday, July 23, 2012

Diam-diam

Aku masih memperhatikanmu diam-diam dari balik jendela
Ada sepasang kaki tangguh di luar sana
Ada ruas-ruas jemari yang aku ingini menyentuh helai-helai rambutku
Ada bibir tebal yang aku impikan untuk mengecup permukaan pipiku

Katanya, aku tidak boleh memimpikanmu terlalu dalam
Katanya, aku akan terperosok jauh dan terperangkap dalam angan-angan sendiri
Katanya, aku akan mati ditelan harap

Lalu harus bagaimana lagi?
Setiap kali aku mencoba menyamarkan kamu, bayangmu malah muncul semakin jelas dan terang
Seperti purnama yang tak bisa berdusta pada bintang

Percuma saja, aku hanya jatuh berkali-kali pada hati yang sama...

Tuesday, July 17, 2012

Kita tidak akan tahu bagaimana rasanya rindu,
sampai kita benar-benar kehilangan.

Kita tidak akan tahu bagaimana rasanya kehilangan,
sampai kita benar-benar ditinggalkan.

Sunday, May 13, 2012

We Will Not Grow Old

-poster colour, marker colour on paper-
-42 x 29,7 cm-

"Kalau hidup itu pilihan,
kenapa kita tidak bisa memilih untuk tetap menjadi anak-anak saja?"

Saturday, May 5, 2012

Karma

"Aku tidak percaya karma."
"Aku percaya."

"Entahlah, menurutku, karma itu tidak ada. Tapi, Tuhan akan membalas semua perbuatan tidak baik, kelak."
"Itu namanya karma."
"Bukan, pokoknya bukan."

Tuesday, April 24, 2012

Bagaimana, Tuhan?

Tuhan, kenapa orang-orang baik itu selalu mati lebih cepat? Aku ingin masuk ke dalam daftar orang-orang baik, tapi aku tidak ingin mati lebih cepat. Bagaimana, Tuhan? Jika aku masuk dalam daftar orang-orang baik-Mu, bolehkah aku hidup lebih lama?

Hamba-Mu,
Asa.