Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts

Monday, April 9, 2018

Main ke Ice Cream World Jogja

Jadi, Sabtu lalu, saya dan suami mampir ke Ice Cream World Jogja, alamatnya di jalan Solo, kalau dari Bandara Adi Sucipto lurus aja (ke arah Solo), nanti kiri tempatnya ada di kiri jalan. Atau kalian bisa search di Google Maps juga sudah ada kok.

Sebenarnya saya sering melewati Ice Cream World Jogja ini karena sering bolak balik Jogja-Salatiga, sempat nyeletuk ke mas Hamid ketika lewat di depan sana, "Ice Cream World Jogja? Tempat makan es krim ya ini? Kok desain dan catnya norak, Mas?" Hahaha please don't hate me. Waktu itu saya hanya lihat dari luar, saya tidak tahu rupanya itu adalah tempat wisata selfie. Akhirnya tahunya dari instagram.
Lalu saya mengajak mas Hamid untuk ke sana, dan dia dengan berat hati mengantar saya ke sana.

Harga tiket masuk ke sana 80.000/orang, sudah termasuk dapet es krim cup dua scoop. Tapi menurut saya, es krim di sana kurang oke, karena sebagai manusia yang sering mencoba es krim, buat saya, es krim mereka bikin batuk karena suhu es krimnya terlalu dingin, sedangkan cepat meleleh kalau dibiarkan agak lama. Bingung kan? Sama.

Untuk tempatnya sendiri tidak terlalu besar, hanya ada 10 spot yang bisa dipakai untuk berfoto. Selain spot foto, mereka menyediakan banyak properti foto seperti kacamata, wig, topeng, dan sebagainya. Pegawai-pegawai di sana juga ramah-ramah. Mereka bisa membantu untuk mengambil foto kita tanpa harus menambah biaya.

Waktu pertama kali masuk dan mengeluarkan kamera juga tripod yang kami bawa, salah satu pegawainya bertanya, "Mau liputan ya, Mbak?" Saya tertawa sambil menjawab, "Iya, Mas. Liputan buat blog saya."

Mungkin masnya heran, kenapa kami niat banget bawa kamera beneran dan sampai bawa tripod, karena ketika kami ke sana, pengunjung lain berfoto menggunakan smartphone mereka. Sebenarnya nggak kenapa-kenapa sih, tapi menurut saya, dengan bayar 80.000, kamu harus mendapatkan hasil foto terbaik, jadi bawalah kamera terbaik yang kamu punya. Hahaha.




















Kamera : Mirrorless Canon M10
Diedit dengan: VSCO

Udah, segitu saja reviewnya, semoga bermanfaat. Oh iya, pesan saya kepada teman-teman yang ingin berkunjung kemari, berusahalah menjaga properti di sana, jangan duduk di tempat yang tidak seharusnya diduduki, jangan mengambil paksa properti yang sudah dilem di meja. Ya kira-kira seperti itu. Meskipun kita sudah membayar, tidak berarti kita bisa bertingkah seenaknya, ya... :)



Monday, December 8, 2014

Skolioser Bisa Naik Gunung!


Tell me that I can't, and I will show you I can!

Skoliosis membuat segala sesuatu dijalani dengan cara berbeda dari orang normal. But, skoliosis will not define me, it will make me stronger.

Dulu, ketika masih ditangani oleh dokter Alex dari London, aku gak boleh mengikuti olah raga apapun kecuali renang. Lebih-lebih naik gunung.
Alasannya karena; satu, pendaki gunung identik dengan bawaan carrier yang besaaaaar banget, ngalah-ngalahin besar badanku. (Malah mungkin aku muat kalau masuk carrier hahaha!) Punggungku yang notabenenya bengkok, dilarang keras dibebani beban yang amat berat.
Alasan kedua, karena naik gunung menguras tenaga yang besar. Skolioser (khususnya kasusku) capek dikit bisa sesak nafas dan ngilu di sendi-sendi tertentu.

Nah, dua bulan lalu aku tanya sama dr. Fong mengenai niatku naik gunung. Dokter Fong bilang, its okay, aku boleh naik gunung asal Spinecore-ku masih dipakai, dan asal tidak terlalu memaksakan diri.
mendengar itu, aku langsung loncat-loncat gembira. Naik gunung adalah salah satu impian besar yang pernah aku punya. Kenapa? Entahlah, mungkin sudah darahnya, Papa dan Mama ketika masih pacaran dulu, suka naik gunung bareng. Nah loh, jangan salahin dong kalau anaknya juga pengin naik gunung! :p

Perkenalan dengan Embek, Tomi dan Fika membuat aku pengin ikutan naik gunung. Lebih-lebih ketika Embek bilang aku gak perlu bawa carrier waktu naik, biar barangku dibawa dia. Ah, jangankan bawa carrier, bawa botol air mineral saja mereka gak bolehin.

November tanggal 13 lalu, kami berangkat untuk mendaki gunung Merbabu (eciyeeeeeeeeee)
Berangkatlah kami dari Jogja dengan sebelumnya, Embek dan Tomi mengomel karena bawaan bajuku yang menurut mereka terlalu banyak (?) Iya, aku harus bawa lapisan baju untuk brace Spinecore juga. :p

Menuju basecamp Merbabu hari udah malam dan bintangnya banyaaaaaaak banget, aku sama Fika sempat tiduran di aspal sambil lihat bintang waktu nunggu Embek sama Tomi taruh carrier di basecamp.

Besok paginya, kami mulai mendaki. Deg-degan iya, takut nyusahin iya, pokoknya campur aduk deh. Dikit-dikit istirahat, dikit-dikit tarik nafas. Beruntung aku punya teman-teman yang baik, mereka yang udah biasa mendaki mengerti kondisiku beda dan harus sabar menghadapi aku.

Perjalanan naik, gelap karena cuacanya lagi mendung

Setelah lewat dari pos satu, aku merasa mual-mual dan pusing gak karuan. Mereka bilang itu biasa, itu mountain sickness, biasa dirasain sama orang yang pertama kali naik gunung. Lalu muntah-muntahlah aku. Habis itu diketawain sama Embek. Ini orang emang suka banget ngetawain aku. :(

Singkat cerita, sudah lewat pos dua, menuju pos tiga (tempat rencana kami nge-camp) mulai turun hujan, padahal jalannya nanjak dan liciiiiiin banget. Fika setia gandeng dan dorong aku dari belakang biar gak jatuh. Fika, kamu memang wanita tangguh. Pas udah dekat pos tiga, dari belakang, Fika ngomong, "Ayo Asa, dikit lagi, dikit lagi."

Sampai pos tiga kami gak mendapati dua teman yang janjian waktu dibawah, akhirnya kami bangun tenda sendiri dalam kondisi hujan deras dan kabut yang sangat dingin. Aku yang pake jaket aja merasa kaku gak karuan, udah diem aja gak bisa gerak. Fika, Tomi dan Embek yang gak pake jaket udah kuyub banget masih bisa pegang-pegang tenda buat dirakit. Dan di saat itu, Tomi masih bisa ketawa-ketawa dengan badan setengah menggigil. Dalam hatiku, "Ini Tomi sebenernya sehat gak sih?" Tapi mereka kuat banget. Aku salut. Gery pun salut.

Tenda selesai, tapi masalah belum selesai. Hujan yang gak kunjung berhenti itu membuat tenda kami kebanjiran (ini juga karena tendanya jelek dan bolong-bolong) tapi mau gak mau kami tetap harus masuk ke dalam tenda kalau masih mau bertahan hidup hahahaha. Akhirnya, masuklah kami ke dalam tenda. Karena sudut-sudut tenda sudah kebanjiran, kami berempat mepet dan jongkok di bagian tengah tenda sambil ketawa-ketawa. Iya jongkok, karena bawah tenda sudah basah, kalau kami duduk, pantat kami bakal ikut basah, sementara persediaan celana dalam gak banyak (kecuali aku). Ini adalah pertama kalinya, aku ada dalam kondisi yang serba terhimpit tapi masih bisa ngakak bareng-bareng, masih bisa menertawakan keadaan. Segalanya gak terasa berat, malah seru banget! Aku gak tahu, padahal kata Tomi, ini pengalaman pertama naik gunung buat aku yang mungkin aja bikin aku jera tapi nyatanya enggak :p (Mama gak boleh tahu bagian ini, dia pasti heboh kalau tau tenda anaknya kebanjiran :p)

Ini muka mereka yang sempat aku abadikan di saat-saat genting

Kami menertawakan keadaan kami waktu itu, hujan gak kunjung reda. Sampai tawa kami reda. Semua diam, capek, ngantuk dan tertidur dalam posisi jongkok. JONGKOK.

Hujan yang mulai dari jam 3 sore itu baru reda sekitar jam 7 malam. Bayangin dong kami jongkok dan mindah-mindah posisi itu berapa jam. :))
Sesaat setelah hujannya mulai reda, kami langsung beres-beresin dan ngeluarin air yang ada dalam tenda. Tomi sebagai abahnya anak-anak langsung ambil tindakan bikin parit di sekitar tenda dan benahi pasak yang kurang benar, memang abah yang baik. :D
Habis itu, aku dan Fika langsung ambil posisi dan tidur masuk dalam sleeping bed. Sedangkan Tomi dan Embek belum tidur. Mereka ngapain ya? Kayaknya sih ngeringin celana dalam yang basah sambil ngopi dan ngerokok. :p
Udara yang dingin gak bikin tidur kami gak nyenyak lho. Karena semuanya capek dan capek banget hihihihi. Bahkan ketika tengah malam sempat hujan lagi, semuanya gak ada yang bagun dan tetap melanjutkan tidur masing-masing. Meski aku sempat melek dan mikir, "Kalau banjir lagi gimana ya?" sesaat kemudian menimpali pertanyaan sendiri dengan, "Bodo ah, ngantuk." Lalu tidur lagi.

Paginya, aku bangun dengan keadaan kaki yang sedikit kaku dan pegal. Fika udah senyum-senyum aja di sebelah. "Udah pagi, ayo lihat sunrise!"

Selfie sambil lihat sunrise. Belum mandi, belum gosok gigi.

SEGEEEEEEEERRRRR!
Kapan lagi Asa bisa bangun pagi


Setelah puas sama sunrise, kami mulai bongkar-bongkar pakaian yang basah kemarin malam untuk dijemur dilanjutin sama masak bareng-bareng buat ngisi perut. :D

Spinecor sampe ke Merbabu :D



Setelah masak, kami ngelanjutin ngejemur semua peralatan yang basah akibat kena hujan. Termasuk badan kami :p


Kumpulan tenda yang dibangun di pos tiga :)

Sambil jemur badan, Embek dan Tomi nanya, "Mau ke puncak gak?" Aku langsung menggeleng cepat. Kakiku sudah pegal gak karuan, kalau ngotot sampai ke puncak, bisa-bisa saking pegelnya, pulangnya malah gelinding dari atas. :p
Akhirnya kami hanya menikmati pemandangan dan udara di sana. Senang banget rasanya, lihat sekeliling hijau, atas biru, udaranya seger.

Mamaaaaa, anakmu sampai gunung! :D


Sekitar jam dua belas siang, kami beberes ngelipat tenda dan lain-lain buat persiapan turun lagi. Awannya udah mulai gerak-gerak, langitnya mendung. Kabut dingin pelan-pelan mulai mendekat, AAAAAAA NEGARA API MENYERANG!!!!
Setelah semuanya siap dan ringkes, kami langsung jalan turun daaaaaan tes tes tes, air hujan mulai netes dikit-dikit. Jalanan licin banget jadi harus ekstra hati-hati.

Untung Tomi sebagai pemandu (((PEMANDU))) memberikan petunjuk bangaimana cara berjalan yang baik di kala tanahnya sedang licin, dan bagaimana cara memposisikan kaki untuk menahan beban badan kita agar tidak tergelincir. Wih, asik. Fika juga masih di belakang siap menarik kalau-kalau badanku gak seimbang (beberapa kali sempat hampir terjatuh karena aku goyah. Aku goyah mas, aku goyah.) Kalau Embek? Ya kadang-kadang ngetawain aku kalau pas nemu jalan gak turunan dan aku lari, katanya bentukanku dari belakang lucu karena jaketnya yang kegedean ini. Huh. Eh, tapi dia baik kok, dia bawain bajuku yang gak sedikit itu. Tuh, kamu aku puji lho, Mbek.

Dan ternyata hujannya labil, waktu udah jalan lumayan jauh, hujannya berhenti, ujan lagi, berhenti, ujan lagi. Uh pucing pala dedek jadinya.

Perjalanan pulang

Perjalanan turun gak memakan waktu selama perjalanan naik. Kira-kira dua jam kami sudah ada di pos satu, sudah dekat dengan basecamp (ya gak deket-deket banget sih).

Jam tiga-an kami akhirnya sampai di basecamp dan istirahat sebentar. Ngopi-ngopi dan tidur-tidur ayam sebentar. Teruuuuus kami langsung lanjut pulang ke Jogja. Ternyata perjalanan pulang pun hujan, tapi karena kami gak kelunturan kalau kena hujan, jadi ya ditrabas aja tanpa pakai jas hujan. Petarung jalanan kok.

Antara seneng karena udah berhasil naik dan turun dengan selamat meski gak sampai puncak, tapi sedih juga karena harus pulang, tapi mau gak mau harus pulang, banyak pekerjaan yang menunggu.

Kata Embek, habis pulang dari Merbabu harus tulis cerita di blog dan aku baru sempat nulis ini sekarang. Ini jadi pengalaman pertama yang menyenangkan banget karena isinya cuma ketawa-ketawa doang, gak ada ngambek-ngambek-an, gak ada rasan-rasan-an, semua baik, semua saling bantu, semua saling ngerti. Aku dapat pelajaran banyak dan dapat teman baru yang sangat sangat baik, yang gak ada jaim-jaimnya padahal belum kenal lama.

Aku skolioser dan aku bisa naik gunung. Meski mungkin aku bukan skolioser yang pertama kali naik gunung.
Makasih buat Embek yang udah percaya kalau aku bisa dan dengan spontan ngajak langsung naik Merbabu aja ketimbang ke gunung Purba. Kalau gak diajak gini, mungkin sampai hari ini aku cuma bisa 'pengin' naik gunung. :D :D :D

EKSTRAAAAAAA

Monday, January 27, 2014

Blusukan ke Museum Ullen Sentalu, Goa Cerme dan Jembatan Gantung Imogiri

Hello temans...
So, how was your holiday?
Hihihi senang rasanya sudah masuk liburan. Selesai magang pula, jadi rasanya kayak dapet bonus yang plus-plus gitu. Senengnya gak ketulungan.

Aku selesai magang tanggal 23 Januari, dan tanggal 24 Januarinya, Kak Kucing (panggilan untuk Kak Raslin, salah satu teman dari Jakarta) liburan ke Jogja. Aku bertugas jadi tour guide gitu lah selama dia di sini :p

Jadi hari pertama Kak Kucing sampai Jogja, aku sama dia jalan-jalan ke Taman Sari (kayaknya aku udah 10 kali lebih ke sini, entah nganter teman atau saudara). Dan hari kedua, dia ngajakin ke museum Ullen Sentalu. Sebenarnya aku juga nggak tau sih itu museum apa, tapi setuju setuju aja karena waktu searching-searching gitu kayaknya tempatnya asik. Hehehe.

Besoknya beneran berangkat ke Museum Ullen Sentalu. Tadinya aku pikir, museum ini ada di pinggir jalan di Kaliurang, ternyata salah besar. Museum ini ada di dalem dalem dalemnya Kaliurang. Kami cuma berbekal peta dari Google Map aja, jadi dari jalan Kaliurang ngikutin Google Maps arah dan tujuan menuju Ullen Sentalu. Tapi sekali lagi, tolong jangan percayai Google Maps. Aku udah dua kali ketipu sama Google Maps, dan kali ini, jalan yang ditunjukkin Google Maps untuk sampai ke Ullen Sentalu dengan jalur paling dekat bener-bener jalan yang gak bener deh. Jalan tikus mblusak-mblusuk masuk kebun salak orang. Untung aja kami naik motor, coba kalau naik mobil, gak kebayang gimana puter baliknya kalau udah ngerasa salah jalan. Eek.

Tadinya sempat putus asa karena Google Maps udah nunjukkin kalau kami udah sampai di lokasi, tapi tempat kami berdiri cuma ada hutan belantara dan warung-warung kecil gitu. Horor banget. Tapi waktu nanya sama warga yang jaga warung, akhirnya dikasih tau kalau ternyata Museumnya masih naik lagi. Fuih, langsung ngebut sampai atas.

Nahhhh pas sampai di lokasi kita girang banget karena tempatnya keren banget. Jadi apa sih Museum Ullen Sentalu itu? Museum Ullen Sentalu isinya adalah sejarah-sejarah tentang kerajaan Mataram, yang terpecah menjadi empat kesultanan. Salah satunya kesultanan Jogja.

Arsitektur Museum Ullen Sentalu ini unik banget. Lorong-lorong bawah tanahnya dibuat meliuk-liuk mengikuti kontur tanah dan lokasi pohon. Jadi pembangunan museum ini memang sengaja mengikuti alam sekitar dan gak menebang satu pohon pun. Keren banget. Tapi sayang, pengunjung gak diperbolehkan mengambil foto di dalam museum yang super keren ini. Cuma boleh foto di sebuah relief unik di luar ruangan.



Bersama Kak Kucing


Kupu-kupu di sekitaran museum


Oh iya, harga tiket masuk museum ini 30.000 rupiah per orang, itu sudah termasuk parkir, tour guide, dan minuman dengan resep rahasia yang disajikan pihak museum. Minuman ini rasanya kayak jamu, ada manisnya, anget dari jahe dan sedikit gurih menyerupai rasa kaldu. Sayangnya, kami gak tahu minuman ini namanya apa.

Dan pulang dari Ullen Sentalu, kami berniat mampir ke museum Merapi ternyata sampai sana tutup karena dah sore (padahal cuma telat 5 menit). Ya sudah foto-foto aja depan museumnya.


Hari ketiga, tadinya bingung mau ke mana. Tapi aku nawarin Kak Kucing untuk jalan-jalan ke jembatan gantung di Imogiri. Sebenarnya aku juga belum pernah ke sini (padahal deket rumah), cuma pernah lihat teman upload fotonya aja, kayaknya bagus gitu. Akhirnya Kak Kucing setuju dan hari ketiga kita berangkat ke jembatan Gantung Imogiri.

Waktu googling-googling gitu katanya sih, KATANYA, jembatan gantung Imogiri kalau dari rumahku sekitar 4 kilo, tapi NYATANYA, 4 KILO PANTATMU BELAH TIGA! 10 kilo lebih ada kali ah.
Dan jalannya cuma bisa dilewati sepeda motor, itu pun sempat hampir serangan jantung waktu pertengahan jalan, ternyata ada perbaikan jalan dan jalannya ditutup, digantiin sama jembatan yang cuma dari bambu, kata warga sekitar "Nggih, mboten nopo-nopo, ting mriki." yang artinya, "Iya nggak apa-apa, lewat sini." mampus, udah keringet dingin ngebayangin kalau tiba-tiba jembatan buatan yang dari bambu roboh dinaikin pake motor. Tapi kenyataannya baik-baik aja. Walaupun horor banget karena pas ngelewatin agak bunyi-bunyi gimanaaa gitu.

Kemudian selanjutnya next, kami sampai di Jembatan Gantung yang indah itu.


Okay salah fokus.

Ini dia Jembatannya

Sebenernya jembatan ini bukan obyek wisata, tapi gak ada salahnya dijadiin list buat ke sini kalau lagi di Jogja karena tempatnya emang bagus, pemandangan sekitar juga bagus banget, ada bukit-bukit dan sawah terasering.





Tapi kalau bisa sih, ke sini pas lagi gak musim hujan, karena kalau habis hujan, airnya agak pasang dan keruh. Padahal kata warga sekitar kalau lagi gak musim hujan, airnya jernih banget. Oh iya, kalau mau ke sini cuma bisa naik sepeda motor, karena jalannya kecil dan gak beraspal.

Setelah puas di Jembatan Gantung, aku sama Kak Kucing melanjutkan perjalanan ke Goa Cerme. Apakah itu Goa Cerme? Entahlah kami nekat aja ke sono. Dan ternyata jalannya lebih parah dari jalan menuju Jembatan Gantung. Jalannya udah aspal sih, tapi curam banget dan tikungannya tajam-tajam. Kalau lagi hujan sebaiknya gak ke sini karena jalanan pasti licin banget. Bahaya untuk yang naik motor, apalagi yang kurang profesional.


Mana Goa-nya?

Hohoho jadi Goa Cerme itu adalah goa (Ya menurut loooo?). Tapi ada airnya gitu. Jadi wisata-nya masuk goa yang berair dan harus nyebur. Intinya basah-basahan. Paling dalem airnya sampai 80cm. Di dalem goanya, ada batu-batuan apa gitu kata masnya tadi lupa. Aku sama Kak Kucing gak masuk karena gak bawa ganti dan lagi males basah-basahan hihihi. Jadi cuma lihat-lihat di sekitaran goa saja.

Gitu deh liburannya aku. Liburan kalian gimana? :D