Thursday, June 30, 2011

Mengucap Salam dari Ibu Kota

Hello im back!
Apa kabar teman dan temin? Semoga kalian baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Tuhan amiiiin. :)

Ini adalah postingan pertama sejak di Jakarta. Iya Jakarta ibu kota kita. Akhirnya aku balik lagi ke sini setelah 3 tahun meninggalkan kota ini. *halah lebay*

Kunjungan terapi di Jakarta ini sebenernya baru direncanain 2 minggu yang lalu. Awalnya, pada bulan-bulan sebelumnya ngerencanain terapi bakal dijalanin di Bandung, tapi karena satu dan lain hal, dan perdebatan yang begitu panjang, akhirnya aku dan keluarga memutuskan untuk menjalani terapi di Jakarta saja kurang lebih selama satu bulan. Hitung2 sekalian bisa reunian sama teman-teman lama. Cihuuuy :D

Well, perjalanan dimulai dengan perasaan yang sangat-sangat bahagia. Terbukti dengan dress yang aku pakai dengan warna-warna yang begitu cerah. *oke yang ini maksa*


Daaaan, pada hari kedua aku udah mulai terapi. Dari rumah Tante pagi-pagi banget biar gak kejebak macet. Sampai sana langsung ketemu dokter dan konsultasi.
FYI, dokternya dari China, dan dia gak bisa bahasa Inggris, yang dia bisa cuma Yes, No aja. Alhasil komunikasi kami dibantu oleh seseorang yang bisa bahasa Cina dan bahasa Indonesia.

Ada sedikit percakapanku dengan dokternya yang cukup konyol,
Dokter: "Sake?" (maksudnya sakit)
Aku : "He'eh"
Dokter: "Sake?" (mengulangi lagi)
Aku: "He'eh"
Dokter: "Sake?" (lagi2 diulang, rupaya dia gak ngerti kata 'He'eh')
Aku: "Iya Sake"
Dokter: "Oh ya sake" (sambil ngangguk-ngangguk)

Selesai terapi disuruh dokter pake korset, modelnya hampir sama kaya korset buat rampingin perut, tapi yang ini dipasangin besi di bangian belakangnya. Badan bisa jadi tegak banget kalo pake ginian. Kira-kira begini nih wujudnya:



NB: makasih buat kak Gadis atas pemberian dress cantiknya :*

Thursday, June 23, 2011

Bertemu Teman Baru yang Lucu :)

Masih terlalu banyak blur sana sini yang belum bisa aku atasi.
Masih harus banyak belajar! :)
Well, please welcome, my new friends!












Wednesday, June 22, 2011

Sebuah Puisi dari Seorang Teman Baru

Aku belajar
Mengartikanmu
Caramu menenggelamkan cahaya
Di matamu
Lalu mengajakku masuk ke dalamnya

Aku belajar
Menyelamimu
Jemarimu yang hangat menunjukkan arah
–"hai..."
–"apa?"


Izinkan aku membuatmu
Agar menjadi sesuatu
Yang mampu kupahami

Karena senyummu masih tertinggal di sini
Lantas, jika tidak, katakanlah
Bagaimana bisa
Kumelupakanmu?

Ah,
Kamu malah tertawa
Semakin sulit saja kumelupakan wajahmu
Dan merah itu,
Di tempat yang sama, saat pertama mataku menyapa matamu
–Hasan

NB: butuh bermenit-menit mengartikan tulisanmu di bukuku, San. Tulisanmu itu, seperti tulisan seorang Dokter.

Saturday, June 11, 2011

Pada Suatu Senja


Pada suatu senja ia mengajakku berdoa
Lalu bersama-sama kami menunduk dan memejamkan mata
Ia menggerakkan tangan ke dahi, dada, bahu kiri lalu bahu kanan selepas berdoa
Aku mengucap amin disertai telapak tangan mengusap muka

Doa kami serupa, "Tuhan, kami berbeda tapi izinkan kami bersama."